

InNalar.com – Jawa Timur ternyata punya bandara yang diklaim jadi bandar udara hijau pertama di Indonesia.
Tepatnya, bandar udara hijau itu ada di desa Blimbingsari, kabupaten Banyuwangi.
Walaupun sebenarnya untuk membangun landasan pacu pesawat seperti itu ternyata memakan waktu yang cukup lama.
Sebab dalam membangun landasan pacu pesawat tersebut, kurang lebih memakan waktu selama 19 tahun.
Namun lamanya ini bukanlah karena sulitnya membangun bandar udara hijau, melainkan karena terjadi korupsi.
Usut punya usut, ternyata pengerjaan proyek ini bisa macet karena terjadi korupsi yang dilakukan 2 bupati Banyuwangi, yaitu Bupati Samsul Hadi dan juga Bupati Ratna Ani Lestari.
Kerugiannya pun besar, karena total korupsi yang dilakukan dua pemimpin kabupaten itu mencapai Rp 40,99 miliar.
Dilansir InNalar.com dari angkasapura, proyek penggarapan bandar udara ini tetap dilanjutkan, karena secara bertahap pada tahun 2004-2008 proyek ini tetap dikerjakan yang menggunakan dana dari APBN.
Adapun infrastruktur ini bernama bandara Blimbingsari, atau saat ini disebut dengan bandara internasional Banyuwangi.
Setelah dikerjakan selama 19 tahun lamanya, karena dikerjakan dari tahun 1991, akhirnya bandar udara di Banyuwangi ini resmi dioperasikan pada akhir tahun 2010.
Beberapa tahun berlalu, tepatnya pada tahun 2015 pemerintah ternyata melakukan perluasan terminal pada bandar udara.
Disinilah konsep bandar udara hijau mulai akan diterapkan di tempat landasan pacu pesawat ini.
Karena Terminal tersebut menggunakan konsep hijau yang juga ramah lingkungan.
Buktinya, lokasi terminal tersebut dapat dirasakan dari suasana udara yang alami, terminal yang ditanami tanaman di atapnya, konservasi air serta sunroof agar terjadi pencahayaan alami di siang hari.
Saat berkunjung kemari, jangan terkejut jika ternyata jarang-jarang akan ditemui AC.
Sebab lokasi dari bandar udara ini kebanyakan memang hanya akan memanfaatkan angin yang keluar masuk dari celah-celah bangunan.
Ditambah nantinya para penumpang pesawat juga akan melihat pemandangan alam yang berupa sawah dan gunung-gunung yang membentang luas di daerah desa Blimbingsari di Banyuwangi tersebut.
Dalam memperluas bandar udara berkonsep hijau dengan pemandangan yang menakjubkan tersebut, anggarannya pun cukup banyak.
Karena dana itu diambil dari APBD Provinsi Jawa Timur sebesar Rp 22,5 miliar dan APBD Kabupaten Banyuwangi sebesar Rp 10,5 miliar.
Hanya saja perluasan bandar udara dalam menggunakan konsep hijau ini dapat disebut lancar, karena tidak terjadi korupsi seperti yang telah dijelaskan di atas.
Anggaran tersebut juga diarahkan ke pembangunan terminal, elektrikal, aksesori, musala dan area parkir.
Selain menggunakan konsep hijau, bandar udara yang ada di daerah Jawa Timur ini juga dapat dibilang cukup unik.
Hal ini dikarenakan terminal barunya menggunakan mengadopsi bentuk ikat kepala khas Suku Using.
Sementara itu untuk peresmian setelah diperluas, bandara Blimbing sari atau yang nama resminya kini adalah bandara internasional Banyuwangi ini telah diresmikan pada tahun 2017.
Tidak hanya jadi bandar udara hijau pertama di Indonesia, bahkan bandara di Banyuwangi ini juga berhasil masuk 20 besar bangunan dengan arsitektur terbaik di ajang Aga Khan Awards for Architecture (AKAA) tahun 2022.
Tentu ini penghargaan yang membanggakan, dengan adanya keunikan pada bentuk desain ikat kepala khas Suku Using seperti yang telah dijelaskan di atas. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi