Usianya Sudah 31 Tahun, Bendungan Rp400 Miliar dari Jepang di Sulawesi Selatan Ini Miliki PLTA yang Kini Tak Beroperasi, Mengapa?

inNalar.com – Tidak selalu menggunakan APBN dan APBD, ternyata terdapat proyek di Indonesia yang dananya bersumber dari kerja sama luar negeri, termasuk Jepang.

Salah satunya adalah pembangunan Bendungan Bili-bili, yang berada di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Bendungan ini dibangun pada tahun 1992 berkat pinjaman dari OECF Jepang.

Baca Juga: Geger Media China Dibuat Kaget usai Pramudya Kusumawardana Pensiun Dini dari PBSI, Alasannya…

Selain sebagai sumber air baku, bendungan yang terletak di Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa ini juga menjadi salah satu sumber listrik dengan didirikannya PLTA,

Namun, Pembangkit Listrik Tenaga Air tersebut kini telah bereni beroperasi sementara akibat kemarau.

Sudah lebih dari 2 bulan PLTA Bili-Bili berhenti beroperasi.

Baca Juga: Telan Biaya Rp5,9 Triliun, Jalan Tol Pandaan-Malang Jadi Salah Satu Tol Panoramik dengan Pemandangan Bak Surga Dunia

Terletak 30 km dari Kota Makassar, ternyata tempat penampungan air itu dibangun untuk mengendalikan banjir di Kota Anging Mammiri dan sekitarnya.

Sebelum adanya tempat penampungan air ini, ternyata air Sungai Jeneberang sering meluap di saat musim hujan sehingga menyebabkan terjadinya genangan di hilir Sungguminasa.

Namun saat musim kemarau, hal ini justru terbalik karena kebutuhan air di Kota Makassar hanya dapat tercukupi sebanyak 35% saja.

Baca Juga: Sedot Rp214,16 Triliun, Megaproyek Kilang BBM Pertamina di Indramayu Jawa Barat Telah Beroperasi, Mampu Hasilkan Jenis Minyak Naptha Berkapasitas…

Dilansir inNalar.com dari djkn.kemenkeu.go.id, tempat penampungan air Bili-Bili ini difungsikan untuk mengendalikan banjir, sekaligus untuk memneuhi kebutuhan air di Kota Makassar.

Berusia 31 tahun, diketahui bahwa dana yang digunakan untuk proyek ini mencapai Rp400 miliar yang bersumber dari loan OECF Jepang saat itu.

Setelah dibangun 7 tahun lamanya, akhirnya pada tahun 1997 dilakukan Penggenangan pertama di tempat penampungan air ini yang berada di Sulawesi Selatan.

Baca Juga: Sempat Gugat Konsumen Rp56 Miliar, Megaproyek Mangkrak di Bekasi Jawa Barat Senilai Rp287 Triliun Malah Jadi ‘Kota Mati’, Masih Diupayakan Lanjut?

Adapun untuk fasilitas yang dimiliki tempat penampungan air Bili-bili ini, Sarana dan prasarana meliputi Genangan, Bendungan, Bangunan Pengelak Aliran Sungai, dan Bangunan kantor pengoperasian bendungan.

Bangunan Pengelak Sungai yang dimiliki bendungan Bili-bili ini yaitu terdiri dari terowongan yang berbentuk lingkaran dan coffer dam dengan panjang 560 meter.

Berlanjut ke genangan airnya, daerah tangkapan untuk waduk Bili-Bili ini luasnya mencapai 384,40 Km2, dengan kapasitas tampung efektif sebanyak 346 juta m3.

Baca Juga: Daftar 10 Negara dengan Gelar BWF World Tour Terbanyak Sepanjang 2023: China Makin Gila, Indonesia di Posisi Berapa?

Tentunya waduk Bili-Bili ini memiliki kemampuan dalam mengendalikan bajir, karena kapasitas untuk mengendalikannya bisa mencapai 41juta m3.

Bangunannya pun cukup tinggi, karena bendungan utamanya memiliki tinggi 73 meter, sayap kiri dengan tinggi 42 meter, dan sayap kanan panjang spillway mencapai 397,2 meter.

Dengan bentuk yang cukup megah karena dana dari Jepang tersebut, waduk Bili-bili ini bisa menghasilkan debit air sebanyak 44,80 m3/detik, dengan ukuran pintu bendungannya adalah 3,7 x 5,2 meter.

Baca Juga: Sempat Gugat Konsumen Rp56 Miliar, Megaproyek Mangkrak di Bekasi Jawa Barat Senilai Rp287 Triliun Malah Jadi ‘Kota Mati’, Masih Diupayakan Lanjut?

Selain itu, untuk pemanfaatan lebih lanjut, bendungan Bili-bili juga memiliki PLTA terbesar di Sulawesi Selatan yang bisa menghasilkan listrik 19,5 MW.

Jika angka 19,5 MW ini nampak kecil, namun listrik yang dihasilkan ini mampu digunakan untuk orang sebanyak 19.500 pelanggan.

Namun karena saat ini tengah terjadi el nino, kini PLTA yang diklaim jadi yang terbesar di Sulawesi Selatan itu hanya mampu mengaliri sebesar 2 MW.

Kendati demikian, PLTA tersebut diharapkan dapat berfungsi lagi dengan baik ketika air di bendungan sudah mencukupi di musim hujan nanti.***

Rekomendasi