Tertekan Harga CPO Dunia, Kas Perusahaan Milik Crazy Rich Kalimantan Selatan Ini Terjun 85 Persen, Kini Asetnya Tersisa Segini

inNalar.com – PT Pradiksi Gunatama Tbk, perusahaan milik konglomerat Kalimantan Selatan bernama Haji Isam tampak tidak dapat menghindari tekanan besar harga minyak kelapa sawit atau CPO dunia.

Pasalnya sepanjang tahun 2023 sendiri perusahaan berkode PGUN ini harus survive menghadapi penurunan harga yang diprediksi Bank Dunia menyentuh rata-rata 920 USD per ton.

Jika dirupiahkan dengan kurs Rp15.500, maka besaran harga yang ditawarkan per tonnya sebesar Rp14,26 juta.

Baca Juga: Gelontorkan Rp40 Triliun hingga Gandeng Malaysia, Megaproyek PLTA di Kalimantan Utara Ini Mampu Serap 5000 Pekerja

Apabila dibandingkan dengan harga CPO tahun sebelumnya, tentu nominalnya sangat berkurang dari harga per ton bisa mencapai 1.276 USD.

Artinya pada tahun 2022, harga rata-rata minyak sawit global bisa menembus Rp19,8 juta per ton.

Di samping itu, emiten milik crazy rich Kalimantan Selatan Haji Isam ini juga harus menghadapi penurunan permintaan terhadap produknya.

Baca Juga: Bagikan Dividen Jumbo Senilai Rp225 Miliar, Produsen Bodrex dan Marina Ini Ternyata Dapatkan Laba Segini

Sehingga dua hantaman kondisi tersebut membuat perusahaan sawitnya harus tetap berjuang mempertahankan performa kinerja keuangannya.

Bahkan pihak emiten tampak harus lebih bersabar, karena prediksi Bank Dunia terhadap perkembangan harga CPO dunia masih cenderung mengarah pada pesimisme.

Sebagaimana diprediksi pula penurunan rata-rata harga minyak sawit dunia akan terus menurun hingga tahun 2025.

Baca Juga: Kuras Cuan Rp1,5 T, Emiten Korea Selatan Caplok Tambang Nikel di Konawe Utara Sulawesi Tenggara, Borong Area Konsesi Seluas 7 Kali Pulau Yeouido?

Berbanding lurus dengan kondisi lesunya CPO global, kinerja keuangan kuartal III PT Pradiksi Gunatama Tbk pun ikut menurun.

Hal ini terlihat dari salah satunya penurunan jumlah kas dalam aset lancar milik perusahaan konglomerat Kalimantan Selatan Haji Isam.

Tercatat pada tahun sebelumnya, perolehan kas atau yang setara dengannya bisa mencapai Rp35,8 triliun, tetapi kemudian nominalnya terjun bebas.

Baca Juga: Dicoret Jokowi, Megaproyek Jembatan Rp100 Triliun di Lampung yang Diinginkan SBY Malah Tak Pernah Digarap, Mengapa?

Penurunan setahun terakhir mencapai 85 persen, sehingga kas perusahaan yang tersisa hanya ada Rp5 triliun.

Penjualan setahun terakhir pun cenderung menurun, meski tidak signifikan. Jika tadinya PGUN berhasil melakukan penjualan sebesar Rp736 miliar.

Pada tahun selanjutnya, per September 2023, perolehannya hanya mencapai Rp614 miliar.

Baca Juga: Guyur Rp250 Miliar, Perusahaan Transportasi Ini Kucurkan Investasi ke IKN untuk Dorong Penyediaan Kendaraan Listrik

Tidak berhenti di situ saja, beban pokok penjualan dan pendapatannya pun membengkak, sehingga sisa laba bruto yang dihasilkan hanya mencapai Rp167 miliar.

Perolehan laba bruto pun menurun dari yang sebelumnya berhasil mencapai Rp182 miliar. Namun demikian, dengan penurunan hasil penjualan diikuti pula dengan turunnya beban pengeluaran perusahaan.

Dengan pengelolaan keuangan yang baik, perusahaan milik Haji Isam ini masih catatkan laba bersih sebesar Rp108,5 miliar.

Baca Juga: Kapasitas 50 Mega Watt, PLN Gandeng Jepang Bakal Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Jawa Barat, Daerah Lain Menyusul?

Rupanya penurunan kinerja keuangan tersebut tidak bisa menghindarkan emiten ini dari turunnya pula pergerakan harga saham perusahaannya.

Diketahui harga saham PGUN pada kuartal III tahun 2023 terjun pula hingga harga Rp452 per saham, terhitung dari penutupan perdagangan pada Senin, 4 Desember 2023.

Penurunan drastis harga saham ini membuat PT Araya Agro Lestari dan PT Citra Agro Raya selaku pengendali saham PGUN merugi masing-masing Rp2,7 triliun.

Baca Juga: Habiskan Cuan Rp168 Miliar, Nama Jembatan Terpanjang di Lampung Ini Terinspirasi dari Tokoh yang Dimakamkan di Dekatnya

Demikian dinamika kinerja PGUN di sepanjang tahun 2023 yang diprediksi oleh Bank Dunia terus melesu hingga 2025. ***

Rekomendasi