

inNalar.com – Di tengah sorotan publik terhadap kekayaan para kepala daerah, nama Dominggus Catue, Bupati Sarmi dari Papua, justru mencuri perhatian karena hal yang sangat kontras.
Alih-alih memamerkan deretan aset miliaran, Dominggus tercatat sebagai bupati termiskin di Papua, bahkan menjadi salah satu yang paling sederhana secara finansial di Indonesia.
Hal ini terungkap melalui laporan LHKPN tahun 2024 yang disampaikan langsung ke KPK. Dalam dokumen tersebut, Dominggus Catue melaporkan total kekayaannya hanya Rp 117.950.000.
Tak hanya minim secara nominal, bahkan dari laporan resmi itu tak tercantum satu pun aset berupa rumah, tanah, atau bangunan.
Lebih mengejutkan lagi, dalam data tersebut, secara administrative Bupati Sarmi ini tidak memiliki tempat tinggal pribadi yang terdaftar atas namanya.
Satu-satunya aset utama yang dilaporkan adalah sebuah mobil Toyota minibus tahun 2021 senilai Rp 100 juta.
Selain itu, ia juga mencatatkan simpanan tunai senilai Rp 8 juta dan harta bergerak lainnya senilai kurang dari Rp 10 juta.
Jumlah itu sangat jauh jika dibandingkan dengan mayoritas kepala daerah lain yang umumnya memiliki belasan bahkan ratusan bidang tanah, kendaraan mewah, serta investasi dalam bentuk surat berharga.
Minimnya kekayaan Dominggus Catue memunculkan dua spekulasi publik. Di satu sisi, bisa menjadi simbol kesederhanaan dan transparansi.
Baca Juga: Inilah 5 Kepala Daerah Terkaya di Jawa Tengah, Peringkat 1 Justru Berasal dari Kabupaten Miskin
Namun di sisi lain, mengundang pertanyaan: apakah benar hanya itu kekayaan yang dimiliki seorang bupati aktif?
Sejauh ini, belum ada klarifikasi lanjutan dari pihak Dominggus terkait isi laporan tersebut.
Meski begitu, ada sisi lain dari Dominggus yang patut diapresiasi. Pada Januari 2025, ia menerima penghargaan sebagai Figur Inspiratif 2025 dari The One Magazine dalam kategori Best Innovation & Inspiring Figure.
Penghargaan ini diserahkan dalam sebuah ajang nasional yang digelar di Fashion Hotel, Legian, Bali.
Pengakuan itu memperkuat citranya sebagai pemimpin lokal yang tak hanya sederhana, tapi juga dianggap mampu membawa inovasi dan semangat perubahan di daerah tertinggal seperti Sarmi.***(Ahmad Nuryogi Ardiansyah)