Capai 94 Juta Ton, Produksi Batu Bara di Sumsel Tembus Angka Tertinggi Sepanjang Sejarah, Tapi Sebabkan Kerusakan Lingkungan?

inNalar.com – Batu bara menjadi salah satu sumber energi yang sangat penting di Indonesia.

Sumatera Selatan sendiri termasuk salah satu produsen batu bara terbesar dengan capaian tertinggi periode 2023 ini.

Pasalnya, hasil pertambangan di Sumsel pada tahun ini telah melampaui capaian sepanjang 2022 lalu.

Baca Juga: Mantan Gubernur Papua Lukas Enembe Meninggal Dunia, Terpidana Korupsi Ini Sempat Dapat Pemberatan Hukuman

Produksi batu bara di tahun 2023 pada provinsi ini telah mencapai 94 juta ton.

Hendriansyah selaku Kepala Dinas ESDM Sumsel mengatakan bahwa ia sangat berharap produksi pertambangan ini semakin terpenuhi di bulan Desember 2023 ini sebanyak 6 juta ton.

Pasalnya, mulai dari bulan Januari sampai dengan November 2023 lalu produksinya telah mencapai 94 juta ton.

Baca Juga: Berikut Profil Lukas Enembe, Mantan Gubernur Papua yang Meninggal Dunia di RSPAD pada Usia 56 Tahun

Jika dapat terpenuhi di akhir tahun ini, maka total produksinya bisa menjadi 100 juta ton.

Adapun produksi besar ini telah dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk dengan eksplorasi terbesar hampir 50 persen.

Untuk sisanya sendiri adalah kegiatan tambang yang telah tersebar di beberapa wilayah. Seperti:

Baca Juga: Daftar Pebulutangkis Dunia Terkaya Sepanjang 2023, Jonatan Christie Termasuk Paling Cuan!

  • Kabupaten Lahat oleh PT Batu Bara Alam Utara dan PT Muara Alam Sejahtera
  • Kabupaten Musi Rawas Utara
  • Kabupaten Muara Enim
  • Kabupaten Musi Bayuasin

Dengan jumlah produksi yang cukup tinggi, Sumatera Selatan tentu memiliki andil besar bagi perekonomian daerah setempat.

Terlebih, Sumatera Selatan sendiri tercatat sebagai wilayah dengan cadangan batu bara terbesar di Indonesia.

Baca Juga: Luhut Sebut Hilirisasi Rumput Laut Bisa Kalahkan Nikel, Proyek di Lombok Timur Ini Jadi Percontohan

Tidak heran jika pemerintah terus mendorong produksi pertambangan ini agar dapat terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya.

Hanya saja, kenyataannya sektor ini juga memiliki beberapa dampak negatif. Mulai dari isu kerusakan lingkungan hingga sosial.

Pertambangan batu bara ini dinilai menciptakan daya rusak bagi lingkungan hidup, pertanian, sumber air, ekonomi warga setempat, bahkan kesehatan.

Baca Juga: Terbesar ke-2 di Indonesia, Perusahaan Tambang Emas di Sumatera Utara Ini Beri Rp103 Miliar Intuk Program CSR, Masih Dianggap Kecil?

Hal ini tentu perlu dipikirkan kembali baik oleh pemerintah daerah maupun pusat agar bisa mengurangi dampak negatif tersebut.

Kemudian tetap bisa mendorong produksi pertambangan batu bara demi memenuhi kebutuhan energi secara nasional.***

Rekomendasi