Sampai Rela Utang ke China Rp12 Triliun, Pelabuhan Raksasa di Sumatera Utara Ini Sepi Kegiatan Bongkar Muat, Kenapa?

 

inNalar.com – Pelabuhan merupakan salah satu infrastruktur yang sangat penting bagi sebuah daerah pesisir.

Salah satu pelabuhan raksasa di Indoneisa ini berada di Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Batu Bara.

Pelabuhan tersebut dikenal oleh masyarakat dengan nama Kuala Tanjung.

Baca Juga: Hanya Rp50 Ribu per Orang, Waterpark Eksotis di Desa Konoha Sumatera Barat Ini Dibangun di Lahan Cagar Alam Seluas 699 ha, Lokasinya 50 Km dari…

Infrastruktur ini dibangun sejak tahun 2015 silam dan dikelola oleh PT Pelindo Terminal Petikemas.

Lokasi Pelabuhan Kuala Tanjung yang terletak pada jalur pelayaran utama Selat Malaka.

Dimana perairan itu memiliki kedalaman yang memadai yaitu 16-17 Lws sehingga mampu disandari oleh kapal Post Panamax dan kapal tanker dengan lebih dari 50.000 DWT.

Baca Juga: Dibiayai China Senilai Rp25 Triliun, Kawasan Industri di Morowali Jadi Tumpuan Penghasil Baterai Kendaraan Listrik

Dilansir inNalar.com dari pelindo.co.id, dermaga ini memiliki lini pelayanan diantaranya pelayanan peti kemas dan non peti kemas seperti curah cair, curah kering dan general cargo.

Bahkan dermaga raksasa ini diproyeksikan mengambil sebagian transshipment market yang ada di Selat Malaka, dengan market share sebesar lima persen.

Saat ini, Pelabuhan Kuala Tanjung mampu menampung 400 ribu TEUs (Twenty Equivalent Units) kontainer per tahun.

Baca Juga: Tenggelam di Era Jokowi, Janji Megaproyek Jaringan Kereta Api Rp22,9 T di Banjarbaru Kalimantan Selatan Dimaniskan Lagi Oleh Capres Anies, Realistis?

Selain itu, dermaga ini juga bisa menampung 1,2 juta ton curah cair / tahun, serta 250 ribu ton general cargo per tahun.

Maka dari itu, anggaran yang digelontorkan untuk merealisasikan pembangunan pelabuhan ini mencapai nilai Rp43 triliun.

Salah satu penyokong dana infrastruktur ini adalah dari China melalui Zhejiang Seaport Group yang memberikan Utang senilai Rp12 triliun untuk pembangunan infrastruktur ini.

Baca Juga: Hamas Mendesak ICC untuk Meminta Pertanggungjawaban Israel Atas Kejahatan Kemanusiaan di Gaza

Membutuhkan dana fantastis, nyatanya layanan pelabuhan itu sekarang sepi.

Pada dermaga tersebut Tidak terlihat ada aktivitas bongkar muat yang mana tiga unit crane, terlihat hanya menganggur.

Diketahui bahwa Kapal pengangkut kontainer hanya satu kali dalam satu minggu. Itu pun lokal dan belum ada kapal dari luar negeri.

Baca Juga: Telan Biaya Rp500 Juta, Jembatan Penghubung Barito Kuala – Banjar di Kalsel Ini Optimis Rampung Akhir 2023, Bakal Jadi Jalan Alternatif Multifungsi?

Tentunya hal ini menjadi sia-sia dimana pelabuhan yang telah menghabiskan dana fantastis, tetapi tidak menghasilkan keuntungan yang memuaskan.***

Rekomendasi