Gerus Dana Rp780 Miliar, Bendungan di Gowa Sulawesi Selatan Ini Pakai Desain Seismic Coefficient, Apa Itu?

inNalar.com – Indonesia memiliki banyak sekali bendungan yang dibangun dengan berbagai macam desain dengan tujuan yang berbeda-beda.

Salah satu bendungan dengan desain unik ini adalah Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang dibangun dengan menggunakan desain seismic coefficient.

Sebelumnya, bendung air yang berada di Desa Bili-bili, Kecamatan Bontomarannu sudah dibangun sejak tahun 1992 dengan tujuan untuk menanggulangi banjir di kawasan tersebut.

Baca Juga: 4 Ribu Hektar Hutan di Jember Disulap Jadi Area Tambang Emas, Tapi Izinnya Malah Dicabut Menteri ESDM Padahal Masih 1 Tahun Beroperasi

Pada awalnya, bendung air ini adalah sarana drainase yang tidak memadai pada Saluran Sinriijala, Jongaya, dan Panampu yang akhirnya mengakibatkan meluapnya Sungai Jeneberang menjadi genangan di daerah hilir Sungguminasa.

Dilansir dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pembangunan dari proyek bendung air ini dilakukan dalam empat paket pembangunan.

Paket I dari proyek ini adalah relokasi Jalan Malino sepanjang 16,2 kilometer dan relokasi pompa air.

Baca Juga: Sumber Dayanya 975 Juta Ton, Tambang Batu Bara Adaro di Tabalong dan Balangan Kalimantan Selatan Makin Menciut Usai Perpanjang IUP, Kini Tersisa…

Kemudian, paket II berupa bekerjaan terowongan dan bangunan pengelak yang meliputi pembuatan dua terowongan pengelak, dua buah jembatan, dan perlindungan tebing sungai dengan panjang 200 meter.

Selanjutnya, paket III yang pembangunannya meliputi pekerjaan bendungan yang terdiri dari pembangunan bendungan utama, coffer dam utama, sayap kiri dan sayap kanan, spill way, dan lainnya.

Terakhir, paket IV adalah pengerjaan dari fasilitas pendukung seperti pembangunan Dam Control Office, perumahan, bangunan fasilitas listrik dan telekomunikasi, dan lainnya.

Baca Juga: Luasnya 4.998 Ha, Tambang Emas di Banyuwangi Jatim Milik MDKA yang Kontraknya Selesai 2026 Ini Ternyata Hanya Terpakai Segini

Dalam pembangunannya tersebut, bendung air ini mengusung desain yang berbeda, yakni dengan type Rockfill dam dengan init di tengah (center core Rockfill dam).

Selain itu, bendungan ini juga menggunakan desain seismic coefficient di Jepang 0,12 yang dikenal sangat rawan gempa.

Sesuai dengan namanya, desain yang digunakan untuk proyek Bendungan Bili-bili ini memiliki tujuan agar pembendung air dapat tahan dari guncangan gempa, meski Sulsel adalah daerah yang relatif aman dari gempa.

Baca Juga: Sampai Hutang Jepang Rp400 Miliar, Bendungan Berkapasitas 346 Juta M3 di Gowa Sulawesi Selatan Ini Tenggelamkan 4 Desa

Selain itu, fasilitas ini terdiri dari bendungan utama setinggi 73 meter, bendungan sayap kiri 42 meter dan bendungan sayap kanan dengan panjang spill may mencapai 397,2 meter.

Pembendung air ini memiliki kapasitas tampung sebesar 375 juta meter kubik dengan luas mencapai 40.428 hektare.

Dengan kapasitas yang sangat besar tersebut, bendung air ini mampu mengendalikan banjir Sungai Janeberang dari 2.200 meter kubik per detik menjadi 1.200 meter kubik per detik.

Baca Juga: Sahamnya Diborong Sandiaga Uno, Merdeka Copper Alami Kenaikan Pendapatan Fantastis Pada Kuartal III 2023

Selain itu, fasilitas ini juga mampu menyalurkan kebutuhan air baku untuk irigasi sebesar 3.300 meter kubik per detik dengan potensial daerah irigasi (DI) seluas 23.690 hektare.

Tidak hanya itu, Bendungan Bili-bili dioperasikan dengan menggunakan sistem digital selama 24 jam secara ketat terutama di musim hujan.

Bendung air yang memiliki fungsi untuk mereduksi banjir ini keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sekitar Rp780 miliar. ***

Rekomendasi