Terdampak Gempa dan Likuifaksi, Proyek Rekonstruksi Daerah Irigasi di Palu Sulteng Ini Bakal Aliri Lahan 5.800 Hektar, Intip Progresnya

inNalar.com – Kementerian PUPR lewat Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Palu berkomitmen untuk melakukan rehabilitasi jaringan Daerah Irigasi atau DI Gumbasa akibat terdampak gempa dan likuifaksi 5 tahun lalu.

Terlebih DI Gumbasa ini memiliki peran yang sangat potensial dalam mengairi lahan pertanian sehingga menjadi prioritas penting untuk difungsikan kembali setelah gempa.

Sebelumnya, telah dilakukan rehabilitasi bendung dan saluran daerah irigasi untuk area pertanian seluas 1.070 hektare yang sudah rusak akibat gempa di 28 September 2018 lalu.

Baca Juga: Tak Produktif 25 Tahun, Bekas Lahan Kelapa Sawit di Papua Ini Disulap Jadi Area ‘Food Estate’ Seluas 500 Hektar

Saat ini sendiri tengah dilanjutkan proses rehabilitasi dan rekonstruksi saluran irigasi tahap II yang ditargetkan rampung di tahun 2023 ini.

Diharapkan dengan adanya pembangunan ulang ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Dengan begitu, mereka tetap bisa mengaliri lahan-lahan dengan berbagai jenis hasil pertanian.

Baca Juga: Pastikan Keselamatan 24.000 Pekerja, Perusahaan Tambang Batu Bara di Kalimantan Timur Ini Terapkan 2 Teknologi AI, Apa Aja?

Selain itu, beberapa fasilitas pendukung yang dibangun nantinya juga dapat dirasakan langsung manfaatnay bagi penduduk daerah ini.

Melansir dari laman Kementerian PUPR, DI Gumbasa terletak di lembah Palu yang memanjang mulai dari kaki hulu Sungai Gumbasa kemudian menuju Sungai Kawatuna, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

DI Gumbasa sendiri dapat melayani sebanyak 5 kecamatan yang ada di Kota Palu serta Kabupaten Sigi.

Baca Juga: Sering Terkena Banjir, Proyek Jembatan Double Box di Jabar yang Membentang di Atas Sungai Ini Akhirnya Rampung, Panjangnya…

Seperti Kecamatan Gumbasa, Dolo, Sigi Biromaru, Tanambulaya, serta Palu Selatan. Seluruh area ini memiliki luas irigiasi potensial sekitar 8.180 hektare.

Awalnya, DI Gumbasa sudah dibangun sejak tahun 1931 lalu yang hanya merupakan sebuah free intake yang airnya berasal dari Sungai Gumbasa.

Selanjutnya, dilakukan pembangunan bendung permanen pada tahun 1976 oleh Departemen PU.

Baca Juga: Inter Milan Full Senyum, Hakan Calhanoglu Pilih Bertahan Meski Diiming-imingi Mahar Fantastis Klub Liga Arab Saudi

Untuk progres pembangunan tahap II daerah irigasi yang telah berjalan sendiri terdiri dari 4 paket. Berikut rinciannya:

Paket Pertama

  • Rehabilitasi tubuh bendung sepanjang 67,7 meter, rehabilitasi tanggul banjir upstream 300 meter, rehabilitasi tanggul banjir downstream 427 meter kiri dan 452 meter kanan
  • Rehabilitasi penguras dan pekerjaan landscape

Baca Juga: Serap Rp15 Triliun! Maluku Utara Cetak Sejarah Usai Punya Pabrik Nikel Terbesar, Tapi Produksinya Cuma…

Paket Kedua

  • Rehabilitasi jaringan utama mulai pekerjaan bangunan, saluran primer 9.933 meter, sekunder 11.110 meter, serta tersier 33.890 meter dengan luas area 1.612 hektare

Paket Ketiga

  • Rehabilitasi bangunan, saluran primer 8,5 km serta saluran sekunder 23,73 km dengan luas areanya 2.458 hektar

Baca Juga: Kuras Rp2,26 Triliun, Proyek Bendungan di Gorontalo Ini Diramalkan Mampu Tangkal Banjir 414 M3 per Detik, Rampung 2024?

Paket Keempat

  • Rehabilitasi jaringan DI Gumbasa dengan membuat dan memasang precast U-Ditch

Untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi DI Gumasa ini sendiri juga melibatkan para petani.

Mereka tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air atau P3A untuk mengerjakan unit beton di jaringan tersier.

Baca Juga: Digugat Karena Hutang Rp1,8 Miliar, Perusahaan Tambang Nikel di Maluku Utara Ini Bakal Alami Pailit, Tapi…

Saat ini pekerjaan sudah mencapai 80 persen dengan luas area yang diairi mencapai 2000 hektar.

DI Gumbasa diharapkan dapat selesai di akhir Desember 2023 ini sehingga mampu melayani sekitar 5.800 hektare lebih. ***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]