

inNalar.com – Secara geografis, Kalimantan Selatan dilintasi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Berkat topografi daratannya terbelah lintasan sungai besar inilah yang membuat provinsi ini, utamanya di Kabupaten Barito Kuala, memiliki jembatan megah yang senantiasa menjadi ikon kotanya.
Namanya adalah Jembatan Barito, dinamakan demikian karena menyesuaikan lintasan sungai yang dilalui infrastruktur ini.
Baca Juga: Kalahkan Bos Djarum dan BCA, Prajogo Pangestu Jadi Orang Terkaya di Indonesia, Kekayaannya Capai…
Tidak terasa usianya kini telah mencapai 26 tahun, hingga Kementerian PUPR akhirnya mulai mempertimbangkan proyek rehabilitasi guna memelihara infrastruktur ini.
Proyek pemugaran infrastruktur megah ini dipertegas dengan adanya kesiapan anggaran APBN 2023 sebesar Rp27,45 miliar yang diinformasikan melalui data LPSE.
Pihak BPJN Kalsel bersama Balai Geoteknik Terowongan dan Struktur Dirjen Bina Marga juga tampak melakukan pengecekan lapangan pada Jumat, 1 Desember 2023.
Kabarnya peninjauan yang dilakukan tersebut dalam rangka untuk mempersiapkan proyek rehabilitasi Jembatan Barito.
Peninjauan kondisi infrastruktur ini salah satunya adalah ingin mengumpulkan data elemen apa saja yang diperlukan perbaikan.
Hal ini mengingat infrastruktur ini telah menemani mobilisasi masyarakat sejak 24 April 1997 dan sudah 26 tahun sejak diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Selain dikarenakan usianya yang kian menua, lintasan gantung ini juga sangat penting bagi kelancaran arus lalu-lintas.
Fungsinya terbilang sangat strategis, karena Jembatan Barito ini biasa digunakan masyarakat apabila ingin melakukan perjalanan dari Kalimantan Selatan menuju Kalimantan Tengah, begitu pula rute sebaliknya.
Sebagai informasi tambahan, infrastruktur megah ini dahulu sempat pecah rekor menjadi jembatan gantung terpanjang di Indonesia.
Panjang bentangnya diketahui mencapai 1.082 meter dengan desain yang dirancang mirip seperti lintasan Golden Gate yang berada di San Fransisco, Amerika Serikat.
Keunikan infrastruktur ini salah satunya adalah karena lintasannya yang melalui Sungai Barito yang lebarnya 10,37 meter.
Selain itu, Jembatan ikonik dan bersejarah ini juga melintasi Pulau Bakut yang lebarnya 200 meter.
Baca Juga: IHSG Kembali Melemah di Bawah 7.300, Saham 3 Emiten Milik Prajogo Pangestu Kompak Turun Harga
Adapun Pulau Bakut yang dilalui ini difungsikan sebagai kawasan konservasi yang juga menjadi tempat tinggal hewan khas Kalimantan, yaitu Bekantan.
Sedikit informasi, infrastruktur ini dibangun dengan rupa jembatan gantung yang berbentuk kembar.
Adapun kontraktor yang kala itu membangun lintasan menggantung ini adalah PT Adhi Karya (Persero).
Baca Juga: Diputus Kontrak, Proyek Revitalisasi Alun-Alun Senilai Rp23 Miliar di Kediri Terancam Mangkrak
Biaya yang digelontorkan untuk pembangunannya pun cukup fantastis pada zamannya, yaitu sebesar Rp98 miliar.
Diharapkan dengan adanya pengerjaan rehabilitasi infrastruktur bersejarah ini, kenyamanan dan keamanan para pengguna jalan dapat terpelihara meski usianya telah puluhan tahun.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi