

inNalar.com – Selama dua tahun terakhir, PT Waskita Beton Precast Tbk tampak berjuang membalikkan keadaan kinerja keuangan perusahaannya yang tengah alami defisiensi modal.
Bahkan pemilik emiten dengan kode WSBP ini sempat digugat oleh Bank DKI yang menjadi salah satu krediturnya melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Gugatan pihak kreditur bank tersebut dilayangkan pada Kamis, 30 November 2023 dengan nomor gugatan 800/Pdt.G/2023/PN.Jkt.Pst.
Sebagaimana pula tercatat dalam Laporan Keuangan Kuartal III Tahun 2023, pihak perusahaan tercatat memiliki utang bank jangka pendek sebesar Rp671 miliar.
Dinamika antara WSBP dan Bank DKI akhirnya membuahkan adanya kesepakatan restrukturisasi utang melalui Addendum Perjanjian Kredit.
Akhirnya per 30 September 2023, PT Waskita Beton Precast tercatat memiliki utang kepada Bank DKI sebesar Rp671 miliar dalam bentuk pinjaman jangka pendek.
Sementara Rp118 miliar lainnya dalam bentuk pinjaman jangka panjang setelah adanya proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
Seolah bisa bernafas lebih lega, WSBP mengambil strategi khusus guna fokus mempersehat kinerja keuangannya.
Restrukturisasi keuangan pun diupayakan hingga pencapaian progres per 1 Desember 2023 telah mencapai 90 persen.
Sepanjang tahun 2023, pihak perusahaan berupaya membayar kreditur prioritas sejumlah Rp152,2 miliar pada Bulan Maret dan September ini.
Upaya menyesuaikan kembali perjanjian kredit antara WSBP dengan 9 kreditur perbankan pun dilakukan guna mencapai win-win solution.
Tidak hanya itu, untuk mengurangi utang perusahaan, perusahaan disebut melalukan penjualan aset emitennya.
Waskita pun diketahui akan melakukan Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp1,85 triliun pada 13 Desember 2023 guna membayar kewajiban kepada kreditur kategori Tranche C.
Dari 75 persen hasil penjualan aset tersebut, rencananya bakal ada pengalokasian dana untuk menunaikan pembayaran utang kepada pihak kreditur kategori Tranche A dan B.
Dari seluruh rintangan melintangi Waskita Beton, tampak emiten ini tidak patah semangat untuk terus mengatasi permasalahan ini.
Fokus menggarap proyek bernilai jumbo, salah satunya yang terbesar berasal dari proyek IKN Kalimantan Timur, juga menjadi langkah nyata WSBP untuk keluar dari lingkaran permasalahan ini.
Sepanjang sembilan bulan terakhir dari periode Januari – September, rupanya perusahaan penunjang bahan baku konstruksi ini telah mencatatkan pendapatan sebesar Rp16 miliar.
Pencapaian ini berhasil diraih berkat diversifikasi bisnis usahanya ke bidang persewaan alat.
Adapun dalam catatan laporan keuangan kuartal III Tahun 2023, Waskita Beton berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp1 triliun.
Adapun sumber pendapatan yang dihimpun berasal dari penualan produk yang mencakup precast, readymix, dan quarry, serta jasa konstruksi yang digarap emitennya.
Lebih rinci lagi, pendapatan dari produk readymix dan quarry berhasil laku Rp461 miliar, sedangkan dari precast sumbang pemasukan sebesar Rp337 miliar.
Sementara untuk pemasukan dari hasil garapan proyek konstruksi sebesar Rp235 miliar.
Dengan pencapaian gemilang di tengah tekanan besar yang melanda Waskita Beton, pihaknya tetap optimis di tahun 2024 bakal catatkan pertumbuhan revenue yang lebih garang dari tahun ini.
“WSBP menargetkan pada tahun 2024 revenue dapat tumbuh sebesar 25-35% dibandingkan tahun 2023,” dikutip inNalar.com dari situs resmi Waskita Precast.
Sebagai informasi, anak perusahaan Waskita Karya ini diketahui tengah menggarap sejumlah proyek IKN di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Total nilai kontrak proyek yang digarap perusahaan diketahui tembus Rp230 miliar, sehingga diharapkan hal ini dapat menjadi salah satu penunjang strategi emiten dalam memperbaiki kinerja keuangannya di tahun mendatang.***