

inNalar.com – Berangkat dari permasalahan di sekitar bantaran Sungai Citarum yang menjadi area langganan banjir imbas luapannya.
Kementerian PUPR berniat membangun sebuah bendungan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang digadang bakal mampu reduksi banjir hingga 66 persen.
Pembangunan infrastruktur ini menjadi prioritas pemerintah lantaran banjir besar yang terjadi di kawasan hilir Sungai Citarum pada 2021 silam.
Pasalnya semenjak itu, kondisi bantaran sungai semakin memburuk terlihat dari tanggul yang semakin terkikis, limpas, hingga jebol di beberapa daerah.
Atas niat mulia pemerintah untuk mengatasi bencana alam tersebut, akhirnya Bendungan Cibeet mulai dibangun pada September 2023.
Proyek Bendungan Cibeet ini diperkirakan bakal babat lahan seluas 1.700,26 hektare yang bakal menempati dua kecamatan sekaligus.
Kedua kecamatan tersebut meliputi kawasan Tanjungsari dan Cariu. Artinya ada 8 desa yang bakal terbidik relokasi akibat adanya pembangunan infrastruktur ini.
Kepala Bappedalitbang Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika memperhitungkan bahwa pembangunan waduk berukuran jumbo ini diperkirakan akan membawa dampak bagi 5.6977 KK.
Relokasi menjadi satu-satunya cara untuk memindahkan para warganya sekaligus menempatkan masyarakat ke lokasi yang lebih aman dari yang sebelumnya.
Adapun kedelapan desa yang diketahui bakal terdampak akibat pembangunan bendungan senilai Rp5,2 triliun ini meliputi Bantarkuning, Cariu, Cibatutiga, dan Cikutamahi.
Selanjutnya ada pula Desa Karyamekar, dan Mekarwangi yang masuk ke dalam area Kecamatan Cariu.
Selain itu ada pula Desa Antajaya dan Tanjungrasa yang berada di kawasan Kecamatan Tanjungsari.
Nantinya pihak Kepala Bappedalitbang akan menawarkan beberapa tawaran opsi kepada Kementerian PUPR terkait penanganan warga terdampak relokasi ini.
Namun perlu diketahui bahwa sejauh ini pihak masyarakat terdampak turut menerima dan mendukung pembangunan Bendungan Cibeet.
Dengan harapan apabila bendungan ini telah rampung, banjir di bantaran hilir Sungai Citarum bakal semakin berkurang.
Bahkan disebut oleh Kepala BBWS Citarum Bastari, bahwa efektivitasnya bisa sampai 66 persen.
“Bendungan Cibeet dibangun untuk mereduksi banjir di hilir Citarum sebesar 66%,” ungkap Bastari, dikutip inNalar.com dari Kementerian PUPR.
Selain itu, diharapkan pula aliran airnya mampu mengirigasi lahan eksisting seluas 1.037 hektare.
Kemudian pengairan saluran irigasi baru yang luasnya melega hingga 1.000 hektare dan suplai irigasinya bisa sampai 5.000 hektare.
Potensi suplai air baku pun diketahui berkapasitas 3,77 meter kubik per detik dan potensi PLTA yang dihasilkan sebesar 0,25 megawatt.
Apabila urusan pembebasan lahan telah rampung, maka pembangunan Bendungan Cibeet ini bakal dimulai pada tahun 2024.
Harapannya konstruksi dapat selesai pada tahun 2028, lebih baik lagi jika lebih cepat rampungnya di tahun 2027.
Pembangunan akan dilakukan sebanyak tiga tahap dari kontraktor yang berbeda-beda.
Nilai proyeknya yang mencapai Rp5,2 triliun ini akan terbagi menjadi tiga tahap penggelontoran dana.
Tahap pertama senilai Rp1,92 triliun akan digarap oleh Nindya, Adhi, Bahagis, KSO. Kemudian tahap kedua senilai Rp1,81 triliun akan dikerjakan oleh PP, Marfri, DMT, KSO.
Sementara tahap ketiga akan digarap oleh Waskita Karya, BK-BBP-KPR, KSO dengan nilai kontrak Rp1,47 triliun.
Melansir dari siara pers Waskita Karya pada 31 Agustus 2023, pihaknya membocorkan strategi agar pengerjaan lebih efisien, berkualitas, dan rampung tepat waktu.
Diungkap oleh perusahaan penggarap tahap ketiga ini, teknologi Building Information Modeling (BIM) bakal dikerahkan dalam pengerjaan proyek ini.
Hal ini dilakukan agar pengerjaan proyek mampu diakselerasi sehingga rampung tepat pada waktunya atau bahkan lebih cepat.***