

inNalar.com – Kabar baik bagi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, karena meski 2023 menjadi tahun yang berat bagi kinerja keuangan perusahaannya, tetapi emiten ini berhasil menaikkan nilai kontrak selama setahun terakhir.
Selama setahun terakhir, perusahaan berkode WIKA ini berhasil meraih kontrak baru 12,5 persen lebih besar dari tahun 2022.
Emiten BUMN Karya ini disebut berhasil menggenggam kontrak baru sebesar Rp21,44 Triliun terhitung per September 2023.
Adapun pada tahun 2022 dalam periode yang serupa, perusahaan plat merah ini hanya catatkan nilai kontrak sebesar Rp19,06 triliun.
Hal ini menjadi salah satu bukti komitmen kuat WIKA dalam mengupayakan kepercayaan pemberi kerja meski kondisi keuangan perusahaan tidak sepenuhnya berada dalam kondisi sehat.
Pada laporan keuangan PT Wijaya Karya Kuartal III Tahun 2023, tercatat aset perusahaan yang digenggam hingga kini sebesar Rp66,65 triliun.
Baca Juga: Drawing Indonesia Masters 2024: Banyak Big Match, Ujian Chico Aura dan Ganda Putra!
Namun apalah daya emiten ini tampaknya hampir senasib dengan Waskita Karya yang juga merupakan bagian dari BUMN Karya.
WIKA rupanya juga tengah terlilit utang bernilai jumbo, hingga sisa aset perusahaan ini hampir tergerus habis hingga tersisa Rp10,97 triliun.
Artinya bisa diketahui bahwa kondisi total utang yang melilit perusahaan ini mencapai Rp55,67 triliun.
Rasio utang terhadap ekuitasnya pun mencapai 190,0 persen. Cukup melampaui batas dari batas normalnya.
Kondisi inilah yang kemudian membuat PT Wijaya Karya memutuskan untuk mengambil langkag restrukturisasi utang.
Berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat, 13 Oktober 2023 lalu forum menyetujui langkah penyehatan keuangan tersebut.
Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito mengungkap bahwa pihaknya mengambil beberapa langkah khusus untuk memperbaiki kesehatan finansial perusahaannya.
Salah satunya seperti berusaha semakin cermat dalam pemilihan proyek dengan basis pembayaran teratur
Hal ini diambil agar arus kas perusahaan cenderung lebih stabil dan sesuai dengan rencana keuangan perusahaan.
Selain itu, penerapan prinsip ‘Four Eyes’ dalam menerapkan manajemen resiko dan membentuk unit khusus untuk fokus pada manajemen pengelolaan aset perusahaan.
Adapun yang terakhir, Wijaya Karya juga berupaya menggunakan sistem Enterprise Resources Planning (ERP) berbasis platform SAP.
Langkah ini diambil agar perusahaan mampu mendapatkan visibilitas yang lebih baik terkait operasional emitennya.
“Restrukturisasi ini diambil di tengah tantangan yang tinggi pada kondisi keuangan Perseroan dan menjadi langkah strategis yang diambil untuk memperkuat langkah WIKA dalam menjalankan bisnis secara berkelanjutan,” dikutip inNalar.com dari keterangan tertulis perusahaan konstruksi Wijaya Karya.
Guna selamatkan eksistensi perusahaan ini, Menteri BUMN Erick Thohir pun merencanakan adanya peleburan perusahaan Wijaya Karya ke PT PP.
Namun belum ada kepastian lebih lanjut mengenai perampingan BUMN Karya. Pasalnya pihak pemerintah ingin berhati-hati dalam mengambil keputusan agar proyek yang tengah digenggam perusahaan tidak terganggu. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi