

InNalar.com – Terdapat pembangunan satu jembatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tak kunjung rampung walau bertahun-tahun telah berlalu.
Padahal jika infrastruktur di Kabupaten Flores Timur itu terbangun, teknologi yang dimasukan di jalur penghubung tersebut akan terbilang cukup canggih.
Bagaimana tidak, sebab infrastruktur tersebut nantinya akan memiliki pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL).
Baca Juga: Kalahkan Suramadu! Riau Akan Bangun Jembatan Terpanjang Senilai Rp7 Triliun, Penghubung Pulau…
Hasilan yang diproduksi dari pembangkit listrik itu pun cukup besar, karena mencapai 30 MW.
Mungkin akan tepat menyebut jika jalur penghubung ini jadi yang tercanggih di Indonesia, karena belum ada infrastruktur serupa di Nusantara.
Meski jadi yang tercanggih, namun ternyata hingga kini pembangunan infrastruktur tersebut belumlah terlaksana.
Disebut tak kunjung usai, sebab gagasan dalam membangun jalur penghubung di Flores Timur itu telah ada sejak 2016.
Namun pada tahun 2021 diketahui proyek ini baru mendapatkan izin Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
Sedangkan pada tahun 2023, diketahui desain dari jalur penghubung ini baru selesai dibuat.
Walau begitu, ternyata pembangunan jalur penghubung di Flores Timur ini masih memerlukan kajian lingkungan agar tidak merusak alam.
Perlu diketahui, jalur penghubung di NTT ini dibangun di atas laut yang jadi area perlintasan kapal.
Ditambah lagi proyek pembangunan jalur penghubung ini juga menjadi jalur lintas satwa dilindungi, seperti paus.
Disinilah nantinya jembatan sekaligus PLTAL akan dibangun, dengan memanfaatkan arus laut di selat larantuka agar dapat menghasilkan listrik.
Sekedar informasi, nantinya arus listrik tersebut akan didapatkan dari turbin yang terdapat di dalam infrastruktur tersebut, yang berada di selat larantuka.
Dilansir InNalar.com dari laman PUPR, anggaran total yang akan dikeluarkan untuk membangun infrastruktur canggih ini yaitu sebanyak Rp5,1 triliun.
Bahkan pembangunan infrastruktur canggih di kabupaten Flores Timur ini juga telah dilirik oleh investor asing dari Belgia dan Belanda.
Namun nampaknya pemerintah lebih tertarik dengan investor Belanda, karena negeri kicir angin itu dianggap memiliki kompetensi lebih dalam membangun infrastruktur jalur penghubung yang terbilang kompleks.
Adapun investor dari Belanda itu adalah Tidal Group, yang memiliki pengalaman dalam membangun infrastruktur yang serupa, termasuk pembangunan PLTAL.
Menariknya, pembangunan infrastruktur yang tak kunjung rampung ini diproyeksikan tak akan menggunakan dana APBN-APBD, karena akan menggunakan investor asing.
Sedangkan nama dari infrastruktur ini adalah Jembatan Pancasila Palmerah yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adanora di NTT. ***