

inNalar.com – PT Amman Mineral Internasional Tbk mengalami kemerosotan penjualan bersih dua komoditas andalannya, yaitu tembaga dan emas.
Meski begitu, perhatian emiten berkode AMMN ini tetap berfokus pada progres proyek smelter tembaga di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Membahas mengenai hasil penjualan bersih tembaga, perusahaan ini tampak alami tekanan penurunan capaian hingga 36 persen dalam setahun terakhir.
Pada tahun 2023, emiten pertambangan ini harus berpuas diri pada capaian kinerja penjualannya sebesar USD 697 juta atau setara Rp10,84 triliun.
Padahal periode sebelumnya, emiten ini berhasil bukukan penjualan bersihnya hingga USD 1,08 miliar atau setara Rp16,86 triliun.
Tentu harapan besarnya adalah ketika smelter tembaga berkapasitas 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun ini bisa rampung pengerjaannya pada 2024.
Volume produksi produk PT Amman Mineral Internasional Tbk dapat ikut terangkat hingga penjualannya pun diharap terkerek naik.
Lantas, bagaimana progres proyek smelter AMMN di Sumbawa Barat yang memakan biaya investasi sebesar USD 3 miliar ini?
Progres signifikan telah ditunjukkan oleh emiten tambang terkemuka ini, terbukti hingga kabar terakhir di akhir tahun 2023.
Perkembangan proyek ini disebut lampaui target, yakni mencapai 70 persen. Biaya investasi yang telah terserap pun sudah sedot dana hingga USD 507,53 juta.
Adapun target yang dipatok pemerintah sendiri hanya di angka 66,9 persen. Rencananya, konsentrat tembaga yang dikonversikan menjadi katoda tembaga ini akan dipasok dari Tambang Batu Hijau.
Ke depannya, pabrik tersebut akan turut hasilkan 222.000 ton tembaga dan 830.000 ton asam sulfat dengan kandungan konsentrasi hingga 98 persen.
PT Amman terus berusaha menunjukkan komitmennya dalam mendukung hilirisasi produk tembaga agar memantik perekonomian daerah hingga nasional.
Penting untuk diketahui, AMMN sendiri diketahui telah mendominasi 82 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sumbawa Barat.
Sementara sumbangsih perusahaan kepada Provinsi Nusa Tenggara Barat sendiri sebesar 17,3 persen.
Hebatnya lagi serapan tenaga kerja lokal dari masyarakat sekitar Sumbawa Barat hampir mengisi porsi 75 persennya.
Penting untuk diketahui bahwa proyek pembangunan smelter tembaga ini masuk ke dalam daftar PSN, sehingga pantauan dan dukungan dari pihak kementerian ini menunjang percepatan penyelesaiannya.
Smelter pengolahan konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga ini diharapkan selesai konstruksi dan bisa beroperasi pada Mei 2024.
“Saat ini AMMAN sedang mengejar target penyelesaian konstruksi smelter sesuai batasan peraturan perundangan yaitu akhir Mei 2024,” ujar Presiden Direktur AMMN Rachmat Makkasau, dikutip inNalar.com dari situs perusahaannya. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi