Kongsi Bareng China dan AS, Vale Indonesia Eksekusi 2 Smelter Nikel di Sulawesi Tengah Senilai Rp105 Triliun, Capex Auto Nanjak 43 Persen

inNalar.com – Kinerja keuangan PT Vale Indonesia patut diacungi jempol. Pasalnya meski belanja modal alias capex lagi deras-derasnya, tetapi perusahaan masih bisa tingkatkan torehan laba.

Hal ini seiring dengan progres dua smelter nikel garapan emiten berkode INCO yang berada di Kabupaten Kolaka dan Morowali, Sulawesi Tengah.

Tidak tanggung-tanggung, pemain nikel terbesar kedua di Indonesia ini juga turut menggaet sejumlah emiten China dan produsen otomotif ternama asal Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Prediksi AC Milan vs Roma di Liga Italia 2023-2024: Jadwal, Prakiraan Susunan Pemain, H2H, dan Live Streaming

Ambisi meroketkan bisnisnya ke industri pabrik baterai EV tampak terlihat jelas dari kurasan capital expenditure perusahaan sepanjang 2023 yang diketahui menanjak 43 persen.

Perlu diketahui, belanja modal INCO periode sebelumnya diketahui sebesar USD 127,7 juta.

Namun sejak adanya garapan proyek tiga smelter sekaligus, dua di antaranya berada di Sulawesi Tengah, alokasi dana capex melejit dan terserap hingga USD 192,7 juta.

Baca Juga: Prediksi Monza vs Inter Milan di Liga Italia 2023-2024: Jadwal, Prakiraan Susunan Pemain, H2H, dan Live Streaming

Sebagai selingan informasi, satu proyek pabrik HPAL garapan PT Vale Indonesia Tbk juga berada di Sorowako, Sulawesi Selatan.

Apabila ketiga proyek garapan emiten ini ditotal, maka nilai investasinya mencapai USD 9 miliar atau setara dengan Rp138,3 triliun.

Dalam proses merealisasikan kedua smelter nikel bernilai investasi jumbo ini, pihak perusahaan bermanuver dengan menggaet sejumlah emiten besar.

Baca Juga: Wow! Bandara Unik Sepanjang 1800 Meter Ini Desainnya Seperti Sarang Lebah, Namanya…

Contohnya saja, Pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) senilai Rp37,5 triliun yang digarap di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

INCO menjalin kerja sama emiten Shandong Xinhai Technology Co Ltd dan Baowu Steel Group Corp Ltd.

Kongsi bersama dua perusahaan asal China ini dipupuk demi mewujudkan peningkatan kapasitas produksi olahan nikel hingga 70 – 80 kiloton.

Baca Juga: Dibangun 1828, Bangunan Bersejarah Bekas Bank di Jawa Timur Ini Dilengkapi 3 Cermin Berusia Lebih dari 100 Tahun, Fungsinya…

Kapasitasnya yang begitu besar, tidak heran jika smelter yang ditargetkan rampung 2024 – 2025 ini digadang bakal jadi smelter ramah lingkungan terbesar kedua setelah pabrik HPAL di Sorowako.

Proyek selanjutnya yang tengah digarap PT Vale Indonesia Tbk ini pun juga mencakup smelter HPAL yang berada di Kabupaten Pomalaa, Sulawesi Tengah.

Hebatnya, dalam mewujudkan proyek ini INCO menggandeng Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd dan Ford Motor Co untuk tingkatkan kapasitas produksi nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Baca Juga: Pihak Israel Bantah Klaim Kekurangan Pangan di Gaza hingga Tuding Distribusi PBB Bermasalah

Kehandalan proyek ini diproyeksikan bakal menunjang hilirisasi industri baterai kendaraan listrik yang trennya semakin meningkat ke depannya.

Pabrik HPAL senilai Rp67,5 triliun ini ditargetkan bakal beroperasi pada tahun 2025 mendatang.

Sehingga apabila ditotal nilai investasi kedua proyek tersebut, PT Vale Indonesia Tbk tengah menggesa realisasi nilai investasi sebesar Rp105 triliun.

Baca Juga: Merugi Rp87,45 Miliar, Emiten BUMN di Bangka Belitung Ini Disorot Gegara Indikasi Korupsi IUP Timah, Ternyata Produksi Nyungsep hingga Segini

Perlu diketahui, perhitungan tersebut tanpa menyertakan proyek pabrik HPAL di Sorowako, Sulawesi Selatan.

Meski dengan adanya tekanan progres tiga proyek sekaligus, rupanya kinerja keuangan INCO tetap terpantau aman terkendali.

Sebab, meski belanja modal meningkat drastis, laba perusahaan tetap naik 31 persen dari yang semula USD 168,4 juta menjadi 221,1 juta.

Baca Juga: Lindungi Banjir 5.192 KK, Kolam Retensi Rp142 M di Jawa Barat Ini Makin Diburu Warga Bandung Jadi Area Healing, Ternyata Begini Tampilannya

Volume produksi pun meningkat pada kuartal III tahun 2023 hingga menembus 17.953 metric ton. ***

Rekomendasi