Wamenhan Buka-bukaan Soal Pembelian 42 Unit Pesawat Tempur Rafale Baru Buatan Prancis dan Mirage 2000-5 Bekas Angkatan Udara Qatar

inNalar.com – Menteri Pertahanan Prabowo Subianto berkomitmen untuk memperkuat pertahanan di tanah air dengan memberikan alutsista terbaik bagi TNI.

Tepat pada 8 Januari 2024 lalu, kontrak pengadaan pesawat tempur pada tahap ke-3 sebanyak 18 unit Rafale telah resmi efektif.

Adapun total pengadaan pesawat baru ini sebanyak 42 oleh Kementerian Pertahanan RI.

Baca Juga: Link Live Streaming Manchester United vs Tottenham di Liga Inggris 2023-2024: Duel Panas Pengincar Papan Atas

Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Letjen TNI (Purn.) M. Herindra mengatakan bahwa pembelian 42 unit pesawat buatan Dassault Aviation Prancis ini telah menjadi sejarah baru bagi pengadaan alutsista di tanah air.

Menurutnya, sejak Indonesia berdiri kebijakan membeli pesawat baru sebanyak 42 unit ini baru pertama kali terwujud di masa Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan RI.

Hal ini disampaikan saat menjadi narasumber diskusi dengan tajuk “Membangun Kekuatan Pertahanan di Kawasan” pada 12 Januari 2024 lalu dipantau dari YouTube Media Center Indonesia Maju.

Baca Juga: TKN Prabowo-Gibran Bakal Genjot Produksi Bioetanol dari Tebu dan Singkong, Upayakan Transisi Energi Bersih Jika Terpilih di Pilpres 2024

Pada agenda diskusi ini, Herindra menyampaikan bahwa pembuatan 42 unit pesawat baru ini memerlukan waktu yang tidak bisa instan.

Pesawat baru ini bahkan disebut baru bisa beroperasi secara lengkap dalam kurun waktu 7 tahun mendatang.

Itulah mengapa demi mengisi gap atau kekosongan yang ada, Kementerian Pertahanan RI berencana membeli pesawat tempur yang bisa dikirim dengan waktu lebih cepat.

Baca Juga: Proyek Jakarta Internasional Stadium Masih Timbulkan Polemik Warga Kampung Bayam, DPRD Usulkan 3 Opsi Ini, Apa Saja?

Salah satu opsinya yakni dengan membeli pesawat tempur yang sudah pernah dipakai oleh negara lain

Contohnya adalah dengan membeli pesawat bekas yaitu Mirage 2000-5 milik Angkatan Udara Qatar.

Dengan begitu, untuk menunggu pesanan pesawat baru yang masih ada kekosongan, maka pembelian pesawat bekas tersebut bukan masalah bekas atau barunya.

Baca Juga: Gerus Anggaran Senilai Rp45 Miliar, Pembangunan Terminal Bandara di Ternate Ini Terancam Gagal, Kok Bisa?

Akan tetapi apakah alat perang ini masih layak dipakai atau sebaliknya.

Ia juga mengungkapkan analogi kesiapan tempur TNI AU dengan atap rumah yang bolong.

Jika ada yang bolong tentu harus segara ditutup dengan membeli jet tempur bekas karena datangnya bisa jauh lebih cepat.

Baca Juga: Bidik Produksi 40.500 Ton Nikel, ANTAM Gaet PLN Guna Pasok Listrik Smelter Feronikel Haltim di Maluku Utara, Segini Daya Pembangkitnya

Melansir dari laman Kementerian Perhubungan, Rafale merupakan pesawat tempur canggih dengan generasi 4.5 yang menjadi andalan negara-negara anggota NATO.

Pengadaan pesawat baru ini tentu tidak dapat dilakukan dengan cepat sehingga tidak heran jika dalam mengisi kekosongan alutsista yang belum sepenuhnya datang tersebut perlu dilakukan dengan pesawat yang sudah pernah beroperasi sebelumnya.

Rafale sendiri memiliki banyak kelebihan sebagai pesawat tempur baru. Seperti dengan dilengkapinya berbagai jenis senjata seperti rudal udara jarak jauh.

Baca Juga: Aset ANTAM Tembus Rp35,5 Triliun, Smelter Feronikel Haltim di Maluku Utara Ini Bikin Produksi dan Penjualan Nikel Makin Jumbo

Dapat pula dilengkapi dengan bom bklasik tanpa pemandu, rudal anti kapal, dan lainnya.

Pesawat ini tercatat sebagai kategori pesawat omnirole sehingga dapat dipakai untuk berbagai misi.

Baik itu pertahanan udara, serangan in-depth,, dukungan udara jarak dekat, hingga serangan anti-kapal.

Baca Juga: Laba Bersihnya Alami Kemerosotan, Besaran Utang PT Amman Mineral Internasional Semakin Melesat Tinggi

Kehadirannya tentu dapat meningkatkan kekuatan dan kesiapan TNI AU dalam menjaga kedaulatan negara di udara. ***

Rekomendasi