Gelontorkan Rp104 Triliun! Megaproyek Pulau Reklamasi Pertama di Bali Ternyata Sempat Mangkrak 21 Tahun, Mengapa?

inNalar.com – Provinsi Bali memang merupakan satu daerah yang terkenal akan wisata dan budayanya yang menarik.

Begitu pula dengan pulau buatan atau pulau reklamasi yang masuk di daerah Denpasar ini.

Akan tetapi, ternyata pembangunan megaproyek pulau tersebut sebelum ini pernah ditinggalkan atau mangkrak.

Baca Juga: Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Irak di Piala Asia 2023: Ajang Pembuktian Tim Besutan Shin Tae-yong

Bahkan proyek pengerjaan tersebut juga telah ditinggalkan hingga puluhan tahun lamanya.

Perlu diketahui, sebenarnya pembangunan pulau buatan ini sudah dimulai sejak era presiden ke-2, yaitu Soeharto.

Namun, sayangnya pengerjaan pulau buatan pertama di Bali tersebut harus diberhentikan dan tidak dilanjutkan kembali.

Baca Juga: Cuan Rp1,2 Triliun Mubadzir! Megaproyek Kota Baru Lampung Kini Mangkrak 10 Tahun, Mirip Kota Mati?

Pasalnya, saat itu negara-negara di Asia termasuk Indonesia tengah diserang oleh krisis keuangan atau krisis moneter yang cukup parah sehingga anggaran untuk membangun pulau buatan tersebut kekurangan dana.

Setelah mangkrak selama 21 tahun sejak tahun 1998, akhirnya pengerjaan pulau buatan tersebut dilanjutkan kembali di tahun 2019.

Sekedar informasi, sebenarnya tempat ini juga merupakan pulau buatan pertama yang dibangun di Bali.

Baca Juga: Mangkrak! Megaproyek Islamic Center Rp75 Miliar di Lampung Kini Pengerjaannya Telah Ditinggal, Anggarannya Dibawa Lari?

Investasi yang dikucurkan untuk membangun pulau buatan pertama itu pun sangatlah besar.

Karena megaproyek pulau buatan yang dikelola Bali Turtle Island Development ini total investasinya mencapai Rp104 triliun.

Kini setelah dilanjutkan kembali, pulau buatan tersebut juga dikenal sebagai pusat konservasi penyu dan kura-kura.

Baca Juga: Pemkot Banjarmasin Sukses Resmikan Shelter Integrasi di Titik Nol Kilometer, Dukung Transportasi Darat hingga Sungai!

Berdasarkan sejarahnya, sebenarnya tempat ini dahulu hanyalah pulau kecil karena luasnya cuma sekitar 100 hektar.

Dilansir InNalar.com dari laman Pemkot Denpasar, dahulu pulau kecil ini sebenarnya sering digunakan untuk tempat singgah oleh para pelaut dari Makassar untuk mencari air minum.

Setelah waktu berlalu, ternyata para pelaut tersebut justru sering berkunjung ke pulau kecil itu hingga menetap disana.

Baca Juga: Laba Bersihnya Alami Kemerosotan Tajam, Besaran Utang PT Alkindo Naratama Semakin Membengkak

Bahkan mereka juga sampai membuat pemukiman yang dinamakan kampung Bugis karena semakin banyaknya orang yang menetap di pulau kecil tersebut.

Adapun nama dari megaproyek pulau reklamasi ini adalah pulau Serangan yang masuk di wilayah administrasi kota Denpasar.

Bagi yang tertarik datang, pulau buatan ini kurang lebih berada 5 km di sebelah selatan kota Denpasar.

Baca Juga: Punya Fasilitas Lengkap, Lampung Garap Megaproyek Rp4,7 Triliun Buat Sport Center, Kapan Rampung?

Disebut dengan pulau Serangan, sebenarnya kata itu merupakan gabungan dari beberapa kata.

Ada kata “Sira” yang memiliki arti sayang, dan “Angen” dengan arti kangen.

Sebab saat para pelaut dari Makassar itu sering berkunjung ke plau kecil itu untuk mencari air minum, ternyata mereka akan kembali lagi hingga merasa sayang dan rindu.

Baca Juga: Dibiayai UEA Senilai Rp233 Miliar, Pembangunan Islamic Center di Solo Ini Bakal Perkaya Warisan Budaya dan Spiritualitas

Kini, setelah pulau kecil di Denpasar itu direklamasi, luasnya telah mencapai 523 hektar dan dikelilingi oleh pohong mangrove. ***

Rekomendasi