

InNalar.com – Mangkrak lagi, itulah penjelasan yang tepat untuk menggambarkan proyek yang telah ditinggalkan di Sumatera Selatan.
Proyek tersebut adalah pembangunan jembatan atau jalur penghubung yang menyatukan Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Muara Enim.
Berdasarkan situs BPK Sumsel, proyek pengerjaan jalur penghubung ini sudah ditinggalkan sejak tahun 2007.
Padahal sebenarnya jika jalur penghubung ini terbangun, maka akan menurunkan biaya operasional masyarakat dalam pendistribusian bahan pangan.
Selain itu, jalur penghubung ini juga disebut sebagai segitiga emas bagi Banyuasin karena berada di kabupaten di sisinya.
Setelah menunggu bertahun-tahun lamanya, akhirnya proyek yang ditinggalkan sejak 2007 itu akhirnya dilanjutkan.
Baca Juga: Dulunya Rumah Sultan, Masjid Kuno di Kota Sambas Ini Seluruh Bangunannya Menggunakan Kayu Belian
Menurut situs resmi Pemkab Banyuasin, pada tahun 2021 proyek tersebut akan dilanjutkan penggarapannya kembali, dengan target rampung di tahun yang sama.
Disebutkan akan rampung pada tahun 2021, sebab sebenarnya pengerjaan dari jalur penghubung tersebut telah masuk tahap bangunan atas jembatan.
Bahkan untuk meyakinkan jika proyek tersebut akan selesai, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang juga telah didampingi oleh tim ahli jembatan.
Ditambah, bahkan anggaran untuk melanjutkan proyek yang sudah ditinggalkan sejak 2007 itu juga telah diajukan sebanyak Rp37 miliar pada tahun 2020.
Sebelumnya, Pembangunan jembatan penghubung 2 kabupaten di tahap III a juga pernah dianggarkan sebesar Rp17.494.566.000, (Rp17,4 miliar).
Sementara untuk pembangunan kepala jembatan tahap III b juga telah dianggarkan sebesar Rp5.192.970.000 (Rp 5,1 miliar).
Akan tetapi, setelah ditunggu dan diharap-harap oleh masyarakat di Banyuasin dan Muara Enim, ternyata proyek pembangunan jalur penghubung tersebut harus mangkrak lagi.
Disebut diharap-harap, sebab masyarakat saat akan pulang kampung jelang Idul Fitri selalu bertanya-tanya pada warga sekitar kapan proyek tersebut rampung.
Pasalnya, diketahui pada tahun 2023 kemarin proyeknya masih belum selesai, dan belum ada pengerjaan lanjutan.
Dengan kata lain, sejak 2023 hingga 2024 ini proyek tersebut sudah mangkrak kurang lebih sekitar 17 tahun.
Adapun nama dari jalur penghubung yang tak kunjung selesai ini adalah Jembatan Rantau Bayur.
Usut punya usut, ternyata proyek pengerjaan tersebut memang sudah tidak ada pengerjaan lagi selama 2 tahun terakhir ini, dan juga telah dikonfirmasi oleh Kepala Dinas PUPR.
Alasannya ternyata karena tidak ada anggaran lagi yang diperlukan untuk melanjutkan jalur penghubung penghubung 2 kabupaten yang berada di Sumatera Selatan tersebut.
Sebenarnya pemerintah masih mengusahakan agar pembangunan Rantau Bayur ini tetap dilanjutkan.
Karena pada tahun 2023 pemerintah telah mengajukan anggaran sebesar RP60 miliar dan tidak ada realisasinya.
Jika sudah terbangun, maka nantinya jalur penghubung ini memiliki panjang sekitar 570 meter. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi