

inNalar.com – Bermula dari ramainya fenomena kelangkaan minyak goreng yang hampir terjadi di seluruh Indonesia pada tahun 2021 – 2022 silam.
PT Jhonlin Agro Raya, perusahaan sawit ternama asal Kalimantan Selatan ini ikut bergerak cepat membangun pabrik minyak goreng di Kabupaten Tanah Bumbu.
Lebih rincinya, lokasi fasilitas pengolahan komoditas sawit ini berlokasi di Sungai Dua, Kecamatan Batulicin.
Demi membangun pabrik baru itu, investasi yang digelontorkan oleh perusahaan milik Haji Isam ini mencapai Rp100 miliar.
Pabrik minyak goreng kemasan bermerek ‘JAR’ ini selesai dibangun pada 29 Juli 2022, tepat setelah setahun masa pembangunannya.
Pihak kontraktor pembangunnya pun berasal dari perusahaan konstruksi terkemuka nasional, yaitu PT Wijaya Karya Rekayasa Rekonstruksi.
Berkat adanya proyek pembangunan pabrik minyak goreng, PT Jhonlin Agro Raya telah menyerap 250 tenaga kerja lokal yang berasal dari warga sekitarnya.
Produksi minyak goreng JARR ini dimulai dari tahapan awal produksinya berkapasitas 50 ton per hari.
Seiring berjalannya waktu, kemampuan produksinya akan semakin dimaksimalkan hingga 160 ton per hari.
General Manager PT Jhonlin Agro Raya Mathirlan Romadhoni mengungkap bahwa target pasar perusahaan sejauh ini adalah kebutuhan masyarakat di Kalimantan Selatan.
Namun bukan tidak mungkin produknya akan semakin menyebar ke daerah di belahan provinsi Kalimantan lainnya.
Jadi produk minyak goreng kemasan keluaran perusahaan sawit ini ada tiga ukuran kemasan, yaitu mulai dari setengah liter, satu liter, dan dua liter.
“Kemasan yang diproduksi adalah kemasan 0,5 liter, 1 liter dan 2 liter agar memenuhi daya beli masyarakat,” ungkap Mathirlan.
Pembangunan pabrik minyak goreng ini menjadi salah satu misi besar JARR untuk meningkatkan perekonomian daerah dari hulu sampai ke hilirnya.
Tidak hanya menjual CPO dalam bentuk raw material, PT Jhonlin Agro Raya mulai atur strategi untuk menaikkan value penjualannya.
Alhasil pada tahun 2021-2022, setidaknya JARR telah memiliki pabrik biodiesel FAME dan minyak goreng yang berdiri di Kabupaten Tanah Bumbu.
Bahkan kini tumpuan pendapatan perusahaan banyak ditopang oleh produk barang jadi dari unit biodiesel dan dalam bentuk fraksinasi.
Penjualan barang jadi unit biodiesel dalam bentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) mendominasi pemasukan perusahaan sebesar Rp2,7 triliun.
Adapun produk dalam bentuk fraksinasi seperti minyak goreng masih baru menajakkan penjualan awalnya di tahun 2023, yakni sebesar Rp6,5 miliar. ***