

inNalar.com – Proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sempat menjadi harapan besar negara. Tetapi apa daya, perginya mitra AS membuat anak usaha PT Bumi Resources ini kembali putar strategi.
Meski perusahaan AS, Air Products and Chemicals Inc berpaling dari proyek hilirisasi ini, tetapi perusahaan batu bara di Kalimantan Timur ini kedatangan mitra baru dari China.
Belum terungkap dengan rinci siapa pihak perusahaan China yang digaet anak perusahaan BUMI dalam proyek hilirisasi batu bara ini.
Baca Juga: Rogoh Kocek Rp753 Juta Guna Eksplorasi, Jumlah Aset PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk Alami Kemerosotan
Seusai investor potensial mendekat, PT Kaltim Prima Coal diproyeksikan bakal mengubah arah proyek hilirisasi tersebut.
Jadi, apabila tadinya proyeksi hilirisasi perusahaan, yaitu dengan mengkonversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
Dengan melihat potensi pasar yang dinilai jauh lebih merekah, nantinya hilirisasi batu bara tidak akan diolah menjadi gas, melainkan menjadi amonia.
Presiden Direktur PT Bumi Resources Tbk rencananya akan groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi amonia pada awal 2024.
Adapun proses garapan proyek hilirisasi batu bara versi baru ini akan dilaksanakan selama tiga tahun.
Perlu diketahui, ada dua anak perusahaan BUMI yang sedang mencoba ekspansi hilirisasi komoditas berharga mereka.
Selain PT Kaltim Prima Coal, ada pula PT Arutmin Indonesia yang juga menggarap proyek tersebut.
Meski arah produksi berubah, kedua perusahaan tersebut tetap berada di koridor untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan value raw material.
Bagaimana pun juga, salah satu syarat untuk memperpanjang Izin Usaha Pertambangan (IUPK) adalah dengan mengupayakan infrastruktur pengolah dan pemurnian komoditas yang dijual perusahaan.
Keseriusan PT Bumi Resources melalui anak usahanya yang berbasis di Kutai Timur, Kalimantan Timur terlihat dari alokasi anggaran capital expenditure tahun ini.
Jadi fokus belanja modal atau capex perusahaan, yaitu salah satunya adalah mengekspansikan industri hilir batu bara.
Jadi pada dasarnya proyek hilirisasi batu bara ke Dimethyl Ether (DME) ini menjadi salah satu ancang-ancang pemerintah pusat untuk sedikit demi sedikit melepas ketergantungan dari impor LPG.
Namun dengan mempertimbangkan minat pasar yang semakin luas, perubahan arah produksi ini pun ikut menyesuaikan.
Sedikit informasi mengenai PT Kaltim Prima Coal, anak usaha BUMI ini berada di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Konsesi pertambangan milik perusahaan batu bara tersebut mencapai 84.938 hektare dengan kapasitas produksinya mencapai 70 ton per tahun.
Potensi besar area tambang PT Kaltim Prima Coal inilah yang akhirnya dibidik oleh PT Bumi Resources Tbk.
Pasalnya dengan luas pertambangan yang sangat besar itu, pihak perusahaan mampu lebih jauh mengekspansikan komoditasnya agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.***