

inNalar.com – Megaproyek Kilang LNG Tangguh Train 3 di Papua Barat ini akhirnya resmi beroperasi secara komersial.
Itu artinya, kapasitas produksi kilang gas di Kabupaten Teluk Bintuni ini bertambah 3,8 juta ton per tahun.
Dengan begitu, total produksi dari seluruh unit Kilang Tangguh LNG bisa mencapai 11,4 juta ton per tahun.
Kapasitas jumbo yang bakal terpasang ini mampu mengisi peran 35 persen dari total produksi nasional.
Sebagai permulaan informasi, Megaproyek ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengembangkan fasilitas produksi gas alam cair di Indonesia.
Berkat Proyek Tangguh Train 3, terdapat penambahan dua anjungan lepas pantai, adanya dermaga LNG dan 13 sumur produksi yang baru.
Pengerjaannya membutuhan nilai investasi yang sangat besar, yakni mencapai USD 4,83 miliar atau Rp72,45 triliun.
Alasan di balik begitu pentingnya Kilang Gas di Papua Barat ini adalah karena 75 persen dari produksi tahunan LNG dipasok ke PT PLN (persero).
Artinya ada 3.000 Mega Watt (MW) yang dipenuhi dari kilang ini untuk kebutuhan listrik dalam negeri.
Fokus pasokannya akan melayani pasar domestik dan disebut mampu penuhi kebutuhan listrik bagi 18 juta rumah.
Kemajuan progres megaproyek ini sangat mencerahkan masa depan ketahanan energi gas nasional, terkhusus bagi tanah Papua sendiri.
Alokasi gas yang difungsikan sebagai pasokan listrik Papua mencapai 20 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Dengan harapannya pula hingga 2029, akan ada 85 persen tenaga kerja putra daerah yang terserap dalam megaproyek ini.
Sejauh ini daya serap tenaga kerja asli Papua mencapai 5.450 pekerja dengan porsi sejauh ini sudah mencapai 70 persennya.
Sebagai informasi, progres pengerjaan kilang gas di Papua Barat ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2016.
Pengerjaannya sempat tersendat karena kondisi pandemi COVID-19, tetapi berkat komitmen kuat Megaproyek Tangguh Train 3 berhasil terwujud.
Kilang gas alam cair ini dikelola oleh BP Berau Ltd yang merupakan kontraktor utama bagi SKK Migas.
Perusahaan migas tersebut diketahui mendominasi porsi saham, “BP memegang saham mayoritas, yakni 37,16%,” dikutip dari Kementerian ESDM.
Adapun BP Berau Ltd turut menggaet sejumlah kontraktor lainnya, yaitu CNOOC Muturi Ltd, Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc, dan KG Berau.
Selanjutnya ada MI Berau BV, Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd, dan Talisman Wiriagar Overseas Ltd.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi