Hentikan Sementara Aktivitas Pabrik di Sumatera Utara, PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) Alami Kerugian Besar hingga Rp241 Miliar

inNalar.com – PT Toba Pulp Lestari Tbk atau INRU memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas pabrik kertasnya yang berada di Toba, Sumatera Utara.

Keputusan penghentian aktivitas pabrik tersebut diambil karena kurangnya pasokan bahan baku kayu yang sebagian wilayah kegiatan operasional PBPH.

Penghentian aktivitas pabrik INRU dilakukan mulai 11 Desember 2023 hingga 29 Februari 2024.

Baca Juga: Imbas Larangan Ekspor Bauksit, PT Cita Mineral Investindo Tbk Sempat Jual Sejumlah Aset di Tambang Ketapang Kalimantan Barat Senilai Rp13,12 Miliar

Diketahui pasokan bahan baku kayu berkurang dari sebagian wilayah kegiatan operasional PBPH perusahaan.

Pasokan bahan baku kayu yang berkurang akibat adanya klaim-klaim tanah oleh sekelompok masyarakat di wilayah PBPH perusahaan.

Terkait hal tersebut, tentunya menimbulkan dampak serius bagi perusahaan.

Baca Juga: Desain seperti Sorban, Masjid Unik dan Megah di IKN Kalimantan Timur Habiskan Anggaran Rp970 Miliar, Rampung Tahun…

Salah satunya dampak terhadap ekonomi sekitar dimana terjadi penurunan perekonomian lokal di sekitar operasional INRU.

Selain itu, tentunya perusahaan ini kehilangan hasil produksi selama penghentian sementara.

Penghentian operasional perusahaan ini juga pasti berdampak pada kondisi keuangan perusahaan.

Baca Juga: Serap 5.450 Pekerja Asli Papua, Megaproyek Tangguh Train 3 Lecut Kapasitas Produksi Kilang Gas di Papua Barat Jadi 11,4 Juta Ton, Biaya Investasinya..

Hal tersebut dikarenakan berkurangnya penghasilan dari kehilangan hasil produksi pada saat penghentian sementara.

Mengenai kondisi keungan perusahaan, diketahui bahwa pada triwulan III 2023 jumlah laba bersihnya anjlok.

Bersumber dari laporan keuangan resminya, penjualan dan pendapatan usaha perusahaan ini menurun yakni sebesar 71,8 juta USD atau setara Rp1,1 triliun.

Baca Juga: Pakai Anggaran Pusat Rp329 Miliar, SPAM Baru di Semarang Barat Ini Siap Jadi Pilot Project Pembangunan Sistem Pengelolaan Air Perpipaan

Sementara pada tahun 2022, jumlah penjualan dan pendapatan usaha INRU mencapai 119,9 juta USD atau Rp1,8 triliun.

Jumlah beban pokok penjualannya sebesar 69,4 juta USD atau setara dengan Rp1 triliun.

Besaran penjualan tersebut dikurangkan dengan jumlah beban pokok penjualannya, maka diketahui jumlah laba kotor.

Baca Juga: Baru Rampung, 2 Infrastruktur SDA di Magelang Ini Diramal Jamin Ketersediaan Air Baku hingga Tekan Banjir Lahar dari Gunung Merapi

Dari pengurangan tersebut, laba kotor perusahaan ini sebesar 2,3 juta USD atau setara Rp36 miliar.

Kemudian, jika jumlah tersebut dikurangkan kembali dengan berbagai beban termasuk pajak maka diketahui perusahaan ini menelan kerugian sebesar 15,4 juta USD atau sebesar Rp241 miliar.***

Rekomendasi