Tekan Emisi GRK 1,05 juta ton CO2e, Perkembangan Program ‘Cofiring EBTKE’ di Indonesia Naik Drastis, Siap Transisi ke Energi Hijau?

inNalar.com – Program cofiring di Indonesia telah mencapai peningkatan yang baik dalam bidang pemanfaatan energi baru terbarukan atau EBT.

Realisasi program cofiring ini telah tumbuh di sebanyak 43 PLTU. Hal ini menunjukkan bahwa program tersebut telah berjalan dengan bagus.

Hal ini juga menjadi bukti bahwa realisasi capaian kinerja subsektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi atau EBTKE di tahun 2023 lalu sudah berkembang cukup pesat.

Baca Juga: Disebut Tutupi Mangkraknya Proyek Kebun Singkong, Food Estate Rp54 Miliar di Gunung Mas Kalimantan Tengah Hasilkan 6,5 Ton Jagung Per Ha

Melansir dari laman Kementerian ESDM, realisasinya telah mencapai angka 991.000 ton biomassa.

Adapun energi yang dihasilkan sebesar 1,04 Terawatt Hour atau TWh green energy. Selain itu, mampu menurunkan emisi hingga GRK 1,05 juta ton CO2e.

Perlu diketahui pula bahwa cofiring merupakan sebuah proses pembakaran campiran bahan bakar fosil dengan bahan bakar EBT. Contohnya seperti hidrogen, biogas, hingga biomassa.

Baca Juga: Geret Lebih dari 70.000 Pekerja, Kawasan Industri Prioritas Senilai Rp70 Triliun di Maluku Utara Ini Catatkan Angka Kontrak Jumbo dengan UMKM Lokal

Pelaksanaan program ini sendiri dilakukan dengan mencampurkan biomassa (sekam padi, serbuk gergaji, atau cangkang sawit) dengan batu bara di PLTU.

Implementasi program ini sendiri tercatat sebagai solusi efektif dalam menaikkan bauran energi baru terbarukan di tanah air.

Hal tersebut karena sudah tidak perlu lagi melakukan penambahan atau pembangunan jumlah pembangkit listriknya.

Baca Juga: Perencanaannya Sejak 2014, Bendungan Senilai Rp1,24 Triliun di Mamuju Tengah Ini Progresnya Baru 30 Persen

Di sepanjang tahun 2023 lalu, ada 7 PLTU yang go live dengan total 47 lokasi. Kemudian tambahan 7 Lokasi PLTU.

Masing-masing yaitu PLTU Tidore, PLTU Teluk Sirih, PLTU Tenayan, PLTU Holtekamp, PLTU Ampana, PLTU Bengkayang, PLTU Ombilin.

Kehadiran program ini sendiri juga terus didongkrak oleh pemerintah tidak hanya di tahun 2023 saja. Akan tetapi juga di tahun-tahun ke depan.

Baca Juga: Korbankan Lahan Karet 170 Hektar, Lampung Bangun Stadion Rp4,7 Triliun Berstandar FIFA, Kapan Dikerjakan?

Pemerintah sendiri menargetkan realisasi program cofiring di tahun 2024 ini sebanyak 2.830 ribu ton biomassa.

Melalui program ini maka akan ada penambahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti dalam membuat uap air panas.

Terlebih, implementasi tersebut memberikan keunggulan tersendiri seperti tidak memerlukan tambahan biaya khusus untuk investasi peralatan.

Baca Juga: Hanguskan Rp1,24 Triliun, Bendungan di Mamuju Tengah Ini Sempat Terkendala Pembebasan Lahan, Kapan Diresmikan?

Programnya juga termasuk sebagai salah satu strategi yang cocok untuk transisi energi di tanah air.

Dengan penerapan yang terus ditingkatkan maka tentu bisa menghasilkan energi yang jauh lebih bersih dibandingkan hanya mengandalkan bahan bakar fosil.

Transisi energi sendiri tercatat sebagai proses pengalihan pemanfaatan sumber energi fosil menuju non-fosil.

Baca Juga: Saingi Singapura dan Malaysia, Bandara Internasional di Sumatera Utara Ini Akhirnya Resmi Operasikan Maskapai Asal Qatar, Namanya…

Indonesia saat ini bahkan telah menargetkan pemanfaatan EBT secara nasional di tahun 2025 sebanyak 23 persen serta tahun 2050 sebanyak 31 persen.***

 

Rekomendasi