

inNalar.com – Bendungan merupakan satu infrastruktur yang semasa kepemimpinan Presiden Jokowi cukup sering dibangun.
Salah satunya yakni berada di Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Adapun nama dari infrastruktur yang tak kunjung diresmikan itu adalah Bendungan Ameroro.
Meski begitu, tampaknya progres dari pembangunan bendungan ini tidak seperti target yang disesuaikan atau molor.
Perlu diketahui, bendungan ini berdasarkan targetnya seharusnya diresmikan pada akhir 2023.
Akan tetapi, pada awal Desember 2023 kemarin progresnya baru mencapai 98,45% dan disebutkan akan diresmikan pada akhir tahun.
Baca Juga: Prediksi Barcelona vs Villarreal di Liga Spanyol 2023-2024: Kans Blaugrana Teruskan Catatan Positif
Namun, diketahui bahwa hingga kini infrastruktur tempat penampungan air yang berada di Kabupaten Konawe tersebut belum juga diresmikan.
Padahal menurut PT Hutama Karya (Persero) selaku salah satu kontraktor yang mengerjakan proyek ini menyebutkan jika pembangunan paket II telah rampung.
Dengan rampungnya paket II, maka infrastruktur tersebut siap dilakukan pengisian air atau impoundin dan tinggal diresmikan.
Sedangkan paket II yang terdiri atas persiapan, pembangunan akses jalan dan jembatan, pembuatan landscape, bangunan pelimpah, penerapan sistem manajemen keselamatan konstruksi, pemasangan hidromekanikal hingga clearing area genangan progresnya telah rampung mencapai 100%.
Saat tempat penampungan air tersebut sudah beroperasi, nantinya infrastruktur ini akan memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi para petani di daerah Sulawesi Tenggara.
Melansir dari laman resmi PUPR, bendungan ini nantinya mampu mengaliri lahan pertanian seluas 3.363 hektar.
Ditambah lagi diperkirakan kabupaten Konawe dan Kota Kendari nantinya bisa menjadi Kota Industri, sehingga diperlukan pemasok untuk air baku.
Sementara dengan adanya bendungan ini, maka wilayah sekitaran Sulawesi Tenggara kebutuhan air bakunya akan tercukupi sebesar 511 liter per detik.
Selain itu, bendungan ini dapat dijadikan pula sebagai pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTM) sebesar 1.3 megawatt.
Jadi tak heran pemerintah mau menggelontorkan dana dari APBN sebanyak Rp1,6 triliun hanya untuk membangun infrastruktur ini.***