

inNalar.com – Banjir Jakarta telah menjadi momok besar yang terwariskan sejak zaman kolonial Belanda.
Peran pembangunan bendungan di daerah hulu seperti Kabupaten Bogor ini pun menjadi satu-satunya solusi mengurangi dampaknya.
Peliknya permasalahan itu sampai mendorong Kementerian PUPR akhirnya merealisasikan Bendungan Ciawi yang berfokus sebagai pengendali banjir (flood control).
Adanya fungsi waduk tersebut bukan untuk mengalirkan irigasi lahan pertanian mau pun sebagai pemasok air baku.
Dibangunnya infrastruktur itu hanya difokuskan sebagai sistem penahan laju banjir yang mengalir dari Kawasan Puncak, Gunung Gede dan Gunung Pangrango.
Jadi Bendungan Ciawi itu dirancang untuk menahan aliran dari ketiga sumber tersebut sebelum akhirnya sampai di Bendung Katulampa, Bogor.
Sebagaimana nantinya aliran air tersebut akan menuju Jakarta melalui Sungai Ciliwung.
Oleh sebab itu, infrastruktur yang khusus untuk reduksi banjir ini disebut sebagai bendungan kering atau dry dam.
Pengoperasiannya pun berbeda dari sistem bendungan pada umumnya.
Apabila nantinya musim penghujan telah tiba, dry dam ini akan menampung genangan airnya.
Secara perlahan nantinya air yang ditampung akan dialirkan ke hilir dengan intensitas yang terkendali.
Saat musim kemarau tiba, infrastruktur pengendali banjir Jakarta ini akan menjadi bendungan kering.
Lantas, seberapa efektif langkah strategis Kementerian PUPR dalam membangun bendungan kering pertama di Indonesia ini?
Sebagai informasi dahulu, volume tampungan air waduk kering ini mencapai 6,05 juta.
Adapun luas genangannya mencakup 39,4 hektare sehingga setidaknya telah ada 200 kepala keluarga yang pindah dari area lokasi pembangunan.
Bendungan Ciawi ini dirancang memiliki kapasitas reduksi banjir sebesar 111,75 meter kubik per detik.
Keberadaan bendungan kering di dua lokasi, Ciawi dan Sukamahi, diproyeksikan bakal menyusutkan daerah terdampak banjir sebanyak 33,6 persen.
Tingkat keampuhannya setidaknya dari 468 hektare wilayah terdampak banjir, nantinya bisa berkurang hingga 211 hektare.
Pembanguna bendungan di Kabupaten Bogor ini pun mengarungi kendala pembebasan lahan dan kendala tanah yang mengandung kadar air tinggi.
Namun akhirnya pada 23 Desember 2022, dry dam ini bisa selesai setelah mengarungi proses pembangunan selama lima tahun.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi