Produktivitas CPO Naik 3,5 Persen, Perusahaan Sawit Ini Andalkan Area Tanam di Kalimantan Timur, Luasnya Hampir Setara Singapura?


inNalar.com –
Bermula dari ekspansi bisnis di sektor perkebunan kelapa sawit, perusahaan ini mulakan area tanamnya di Desa Muara Wahau, Kalimantan Timur.

Pada tahun 1997, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) terus memperluas hamparan dari yang mulanya memiliki luas sekitar 60.000 hektare.

Kapasitas produksinya pun masih berada di fase produksi sebesar 45 ton Tandan Buah Segar (TBS) per jam.

Baca Juga: Jepang Alami Over-Inventory, Kinerja Penjualan Ekspor Produk Kayu Perusahaan Sawit di Kalimantan Timur Ini Terperosok hingga…

Kemudian lahan produktifnya menghampar luas hingga memiliki area tanam seluas 112.900 hektare.

Seiring berjalannya waktu, konsesi perusahaan meluas hingga Kalimantan Tengah dan Barat.

Bahkan 56 persen area tanam DSNG yang berada di Kalimantan Timur disebut ukurannya hampir sebesar luas Singapura.

Baca Juga: Bakal Dipoles Cantik, Pemprov Kepulauan Riau Revitalisasi Pasar Malam di Karimun Ini Keruk Dompet APBD hingga Rp1,3 Miliar

Kini, kapasitas produksi meningkat tajam hingga 675 ton per jam ditambah dengan adanya sejumlah pabrik kelapa sawit sebagai penunjangnya.

Kemampuan gerak usaha industri Crude Palm Oil (CPO) tersebut pada akhirnya membuahkan hasil mencerahkan hingga pembukuan terakhirnya.

Kinerja PT Dharma Satya Nusantara Tbk per kuartal IV tahun 2023 mencatatkan adanya peningkatan produksi CPO sebesar 10,8 persen.

Baca Juga: Anggrannya Fantastis hingga Rp2,2 Triliun, Pembangunan SPAM di Wonogiri Ini Sempat Mundur, Kapan Rampung?

Selain itu, produksi TBS juga ikut terkerek naik hingga 6,4 persen.

Secara umum, produktivitas industri minyak sawit mentah perseroan mencapai 3,5 persen.

Tidak hanya soal performa produksi, produk CPO besutan perusahaan sawit Kalimantan Timur ini juga menyandang kualitas premium.

Baca Juga: Penjualan CPO Tembus Rp5,77 Triliun, PT Dharma Satya Nusantara Tbk Naikkan Produktivitas Sawit di Kalimantan Timur hingga 3,5 Persen

Pasalnya hingga akhir tahun lalu, DSNG berhasil menstabilkan kandungan Free Fatty Acid (FFA) di bawah 3 persen.

Pemanfaatan teknologi dalam processing produksinya juga terus diupayakan oleh perseroan untuk mengatasi kendala teknis di lapangan.

Adapun kendala yang menjadi tantangan terbesar perseroan dalam pengaruhnya terhadap produktivitas sawit, yaitu cuaca ekstrem yang sebabkan kekeringan.

Baca Juga: Laba Bersihnya Anjlok Rp6,5 Miliar, PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS) Catatkan Pertambahan Besaran Utang

Sebagai informasi tambahan, perusahaan sawit ini berdiri pada 1983 dengan mengandalkan unit bisnis pengolahan kayu.

Fokusan semgem operasi pengolahan kayu perseroan ialah produksi sawn timber, melansir dari situs perusahaan.

Hingga akhirnya empat tahun kemudian, perseroan melakukan diversifikasi usaha ke sektor sawit guna melanjutkan keberlanjutan eksistensinya.***

Rekomendasi