

inNalar.com – Setahun silam, di tengah progres pembangunan Proyek MRT Fase 2 sempat ditemukan sebuah rel trem kuno di kawasan Jakarta Pusat.
Apabila menelisik ke dalam histori masa lampau, proyek trem listrik di Jakarta memang sempat berjaya di era kolonial Belanda.
Gagasan moda transportasi ini bermula dari seorang ahli listrik Belanda bernama Van Zwiten.
Ia merancang sarana transportasi area Batavia sejak tahun 1886 hingga akhirnya baru terealisasi pada 10 April 1899.
Perusahaan yang merealisasikan wacana proyek modern ini kala itu adalah Batavia Elestrische Tram Maatshappij (BETM).
Uniknya, operasional trem listrik di Jakarta ternyata mendahului realisasi sarana transportasi ini di negara penggagasnya sendiri.
Melansir dari Heritage KAI, moda transportasi trem listrik rute Haarlem – Zandvoort di Belanda baru beroperasi pada Juli 1899.
Artinya operasional armada listrik di Belanda baru menyusul Indonesia tiga bulan setelahnya.
Dahulu penggunaan transportasi jenis ini dianggap lebih baik daripada armada jenis lainnya.
Baca Juga: Nilai Investasinya Senilai Rp18,8 Triliun, Pabrik Baja PT Krakatau Steel Tbk Bakal di Reaktivasi
Pasalnya transportasi ini tidak menimbulkan polusi dan tidak pula memberikan suara bising, serta waktu tempuh yang bisa diakses lebih cepat.
Namun siapa sangka, saat awal masa beroperasinya terdapat insiden sabotase yang dilakukan oleh kusir sado.
Penyebabnya adalah keberadaan proyek ini dianggap mengancam eksistensi jasa kereta kuda yang kala itu menjadi salah satu andalan sarana transportasi warga Jakarta.
Baca Juga: Alami Kerugian Sebesar Rp933 Miliar, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) Mencatatkan Penurunan Jumlah Utang
Bentuk sabotase kusir sado saat itu adalah meletakkan batu besar di tengah jalur trem listrik tersebut.
Sado adalah kereta yang dilengkapi dengan gerobak dan memiliki dua roda sebagai penopangnya, serta ditarik oleh seekor kuda.
Transportasi tradisional jenis ini kemudian dikenal dengan istilah kereta kuda.
Sebagai selingan informasi, dahulu Jakarta menyediakan jasa transportasi mencakup trem listrik, trem uap, dan kereta kuda.
Nasib proyek ini saat Kolonialis Jepang memasuki kawasan Batavia, moda transportasi ini mengalami perubahan fungsi dan sistemnya.
Apabila yang tadinya trem listrik beroperasi 10 menit sekali, setelah masuknya pendudukan Jepang jarak waktunya berubah menjadi 15 menit.
Baca Juga: Jumlah Penjualan Terjun Bebas, PT Pelangi Indah Canindo Tbk Alami Penurunan Besaran Utang
Tidak berhenti di situ, ada beberapa jalur trem yang dipotong trayeknya dan waktu penggunaannya pun hanya melayani perjalanan siang hari.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi