

inNalar.com – Topografi wilayah Kalimantan Selatan yang banyak dilalui cabang Sungai Barito berhasil memunculkan sebuah konsep budaya pasar terapung.
Tidak tanggung-tanggung, eksistensi pasar di Kota Banjarmasin ini mengarungi masa eksistensinya hingga 400 tahun lamanya.
Meski budaya unik ini sempat redup, akhirnya pemerintah kota setempat kembali membangkitkan budaya ekonomi khas daerahnya.
Dahulu letak pasarnya ada di sekitar Dermaga Alalak, tetapi usai dibangkitkan kembali pada tahun 2020 lokasinya sedikit bergeser.
Jadi lokasi terkininya berada di daerah Kuin dan Alalak, sehingga namanya pun kini menjadi Pasar Terapung Kuin Alalak.
Empat tahun silam jumlah pedagang yang turut serta membangkitkan perekonomian Banjarmasin melalui pasar terapung ini mencapai 150 pedagang.
Hingga kini budaya floating market menjadi branding daerah Banjar usai berhasil dihidupkan kembali oleh pemerintah kota setempat.
Namun jika ditarik garis ke sejarah masa lampau, ternyata pasar terapung tertua di Kalimantan Selatan ini adalah hasil warisan budaya Kerajaan Banjar.
Melansir dari situs Kemendikbud, terungkap fakta bahwa pada pertengahan abad ke-16 Sultan Suriansyah menempatkan kerajaannya di antara Sungai Kuin dan Barito.
Lalu lalang pemanfaatan sungai yang beranak pinak di hampir seluruh hamparan kotanya, pasar terapung menjadi tempat pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut.
Warga banjar akan mengandalkan ‘jukung’ atau maksudnya adalah sebutan perahu yang membawa barang dagangannya sekaligus sebagai tempat jual-beli.
Dahulu pasar tradisional ini beroperasi hanya pada subuh hingga pukul 07.00 WITA.
Menariknya, ternyata di kalangan pedagang ada istilah khusus bagi pedagang wanita di pasar terapung tersebut, namanya adalah ‘dukuh’.
Sementara bagi pihak pembeli yang mengambil barang dagangannya dari dukuh disebut dengan ‘panyambangan’.
Budaya transaksi barter pun juga rupanya masih menghiasi kebiasaan di antara para pelaku usaha dan sebutan istimewanya itu adalah bapanduk.***