Gelar Biaya Rp180 Miliar, Revitalisasi Runway Bandara Raja Haji Abdullah di Kepulauan Riau Ini Bakal Pantik Potensi Ekonomi Kabupaten Karimun

inNalar.com – Bandara Raja Haji Abdullah yang berada di Provinsi Kepulauan Riau ini tengah serius dikembangkan oleh Kementerian Perhubungan.

Harapan baiknya adalah dengan adanya revitalisasi bandar udara tersebut, akan semakin besar raupan traffic lalu-lalang orang dan barang ke daerah perbatasan tersebut.

Pemerintah RI melalui Kementerian Perhubungan tengah melirik kuat potensi ekonomi Kabupaten Karimun.

Baca Juga: Gaet Emiten BUMN, Proyek Kota Vertikal Senilai Rp15 Triliun di Batam Kepulauan Riau Ini Mampu Rampungkan 4 Menara Hanya dalam 2 Tahun

Harapannya dengan melakukan perpanjangan ukuran runway, Bandara Raja Haji Abdullah mampu dimasuki oleh perusahaan berbadan besar sekelas jenis Boeing 737.

Diketahui ukuran landasan pacu di bandar udara tersebut memanjang hingga 1.800 x 30 meter.

Dengan ukuran tersebut, pesawat yang mampu mendarat dan bersinggah di Bandara Raja Haji Abdullah hanya jenis ATR 72-600 dan tipe Cassa 212.

Baca Juga: Bangkitkan Listrik 2,156 GWh, PLTA Kapasitas 700 MW di Bandung Barat Ini Terganggu Operasionalnya Gegara Air Muka Waduk Surut 15 Meter, Nasibnya…

Operasi rutenya mencakup Tanjung Balai Karimun – Pekanbaru dan Dabo Singkep dengan mengandalkan maskapai Susi Air.

Namun lebih jauh dari itu tahukah bahwa akan ada multiplier effects yang cukup besar ketika semakin banyak pesawat berbadan besar masuk.

Di antaranya adalah geliat ekonomi pariwisata dan industri tentu bakal lebih hidup kembali.

Baca Juga: Butuh 22 Tahun Bebaskan Lahan, Bendungan Raksasa Senilai 738 Juta USD di Bandung Ini Sebabkan Penduduk 31 Desa Keluar dari Jawa Barat, Kok Bisa?

Secara geografis, letak bandar udara ini berada di Singapura dan Malaysia.

Seiring dengan itu, tentu lokasi pintu laut ini cukup potensial guna membuka ruang pariwisata hingga membidik turis mancanegara.

Tidak hanya soal pariwisata, Karimun juga diketahui memiliki sederetan potensi hasil laut.

Baca Juga: Raih Juara 1 ADWI 2023, Pemprov Kepulauan Riau Lanjut Pugar Pulau Penyengat Dengan Dana Patungan APBN-APBD Sebesar Rp20,8 Miliar, Masih Bertambah?

Hal tersebut mengingat geografis Karimun 81 persennya adalah lautan ditambah lagi eksotisme daerah perbatasan dengan dua negaranya.

Kabupaten ini memiliki potensi bisnis budidaya dan perikanan tangkap berupa rumput laut, ikan, dan udang putih, serta yang lainnya.

Bahkan di industri hilirnya, sudah ada produk olahan seperti kerupuk udang, ikan kalengan, kerupuk ikan yang bisa menjadi pemantik kebangkitan ekonomi daerahnya.

Baca Juga: Telan Rp954,6 miliar, IPAL Losari Mampu Layani 70.000 Jiwa di Makassar dengan Teknologi Canggih Bernama MBBR, Apa itu?

Sederetan potensi di Kabupaten Karimun ini membuat Pemerintah RI melalui Kementerian Perhubungan rela gelontor dana Rp180 miliar guna revitalisasi runway.

Dimulai dari program perpanjangan landasan pacu ini diharapkan menjadi awal berkembangnya daerah perbatasan seperti Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.

Sebagai informasi tambahan, kabupaten ini bentuknya adalah gugusan pulau yang terdiri dari beragam ukuran sebanyak 251 pulau mini dan raksasa.

Baca Juga: Telan Rp954,6 miliar, IPAL Losari Mampu Layani 70.000 Jiwa di Makassar dengan Teknologi Canggih Bernama MBBR, Apa itu?

Sebagian pulaunya berpenghuni dan ada juga yang tidak, luas teritorinya mencapai 7.984 kilometer persegi.

Dengan luas daratan hanya 1.524 kilometer persegi, sedangkan lautannya mendominasi hingga 6.460 kilometer persegi.***

 

Rekomendasi