Biaya Proyek Neom City Tembus Rp7.500 Triliun, Arab Saudi Bakal Babat ‘Pulau Sengketa’ Demi Wujudkan Kawasan Surga Dunia Baru

inNalar.com – Sebuah program gila garapan Kerajaan Arab Saudi ini telah dikenal luas oleh seluruh dunia dengan nama Proyek Neom City.

Salah satu agenda pembangunannya mencakup wilayah ‘Pulau Sengketa’ yang kini disebut dalam proyek tersebut dengan nama Pulau Sindalah.

Rencananya, Pulau Sindalah akan disulap menjadi kawasan surga dunia baru dengan paket dana yang digelontorkan sebesar Rp7.500 triliun.

Baca Juga: Butuh Waktu 10 Tahun Pembangunan, Mega Proyek Pulau Buatan Senilai Rp348 Triliun di China Ini Jadi Sasaran Koruptor

Dengan dana fantastis itu, pulau surga tersebut akan dijadikan pusat yacht internasional yang bakal menguatkan citra pintu gerbang glamor di kawasan Laut Merah.

Salah satu keglamoran konsep pulau ini adalah lapangan golf seluas 5.919 meter persegi dengan fasilitas hotel berbintang.

Didukung pelabuhan mewah dengan 86 titik tambatan yacht sepanjang 50 meter.

Baca Juga: Menelan Dana Rp348 Triliun, Pulau Buatan Terbesar di China Ini Telah Menarik Lebih dari 200 Ribu Pengunjung Dalam Sehari

Lantas, apa yang dimaksud dengan Proyek Neom City dibangun di atas ‘Pulau Sengketa’?

Apabila menilik histori yang diungkapkan oleh seorang peneliti bernama Jannis Julien Grimm dalam penelitiannya.

Sebagai informasi, penelitiannya yang berjudul ‘A Tale of Two Islands: Cross-Movement Alliances, Nationalist Mobilization, and the Tiran and Sanafir Island Protests.’ ikut mengungkap histori hubungan Mesir dan Arab Saudi terkait kilas balik dari eksistensi pulau ini.

Baca Juga: Luasnya 2.600 Hektar, Pulau di Aceh Ini Dulunya Jadi Pusat Karantina Haji Pertama di Indonesia, Kini…

Terungkap bahwa histori dari ‘Pulau Sengketa’ yang bakal disulap megah oleh Kerajaan Arab Saudi menjadi pintu pelayaran internasional dengan fasilitas wisata termewah.

Jadi pembangunan proyek ini terletak di kawasan Laut Merah yang secara historis menyimpan sejarah kelam bagi beberapa negara sekitarnya.

Tidak sesederhana yang terlihat, status kepemilikan pulau yang dahulu disebut dengan Tiran dan Sanafir ini, menurut Jannis Julien Grim, dahulu sempat ditinggali oleh warga Mesir.

Baca Juga: Bikin Wisatawan Betah, Pulau Ini Disebut Spotong Surga di Teluk Sabang Aceh, Pernah Kesini?

Lebih dalam dari itu, Pulau Tiran dan Sanafir juga sempat diduduki oleh Israel sebagaimana diketahui dalam perjanjian rahasia dengan Inggris ‘Protocol of Sevres’ pada 24 Oktober 1956.

Kendati demikian, ‘Pulau Sengketa’ tersebut berhasil kembali ke tangan Mesir pada tahun 1980.

Barulah pada 8 April 2016, sengketa Pulau Tiran dan Sanafir menjadi perdebatan warga Mesir tatkala Presiden ‘Abdul Fattah Al-Sisi menyerahkan kedua pulau tersebut kepada Raja Salman.

Baca Juga: Raih Juara 1 ADWI 2023, Pemprov Kepulauan Riau Lanjut Pugar Pulau Penyengat Dengan Dana Patungan APBN-APBD Sebesar Rp20,8 Miliar, Masih Bertambah?

Gerakan oposisi bermunculan imbas ketidakpuasan masyarakat Mesir terhadap Al-Sisi yang disebut telah menukar ‘Pulau Sengketa’ dengan bantuan dana Arab Saudi sebesar 25 Miliar USD.

Akan tetapi, sejauh ini Arab Saudi – Mesir menunjukkan gerak kooperatif terlihat dari adanya rencana pembangunan jembatan lintas laut sepanjang 32 kilometer di atas Teluk ‘Aqaba.

Kedua negara menunjukkan persahabatannya melalui proyek jembatan penghubung Arab Saudi – Mesir yang melintasi Selat Tirani.

Baca Juga: Terhimpit Amblesnya Harga, Harita Nickel Sukses Cetak Laba Bersih Rp4,5 Triliun Berkat Manuver Hulu-Hilir Nikel di Pulau Obi Maluku Utara

Kendati demikian, progres jembatan persahabatan dua negara yang dicanangkan pada 2016 itu secara mendetail belum terkuak kelanjutannya hingga kini.

Itulah mengapa Pulau Sindalah yang dahulu merupakan Pulau Tiran dan Sanafir disebut sebagai ‘Pulau Sengketa’.***

 

Rekomendasi