Israel Menarget Tenggat Waktu Militer pada Bulan Ramadhan, Korban Tewas Capai Lebih dari 29 Ribu Jiwa

inNalar.com – Warga Palestina pada hari Senin terbangun karena berita tentang pembukaan kembali perbatasan antara Mesir dan Gaza.

Hal tersebut memungkinkan masuknya bantuan dalam jumlah terbatas di tengah kampanye pemboman Israel yang terus berlanjut di daerah kantong Palestina.

Namun optimisme apa pun dengan cepat dibayangi oleh ancaman baru berupa invasi darat Israel ke Rafah – kota utama di wilayah perbatasan tersebut.

Baca Juga: Pecinta Anabul Wajib Tahu! Berikut 7 Ciri-Ciri Anjing Alami Stres, Nomor 4 Bikin Geleng-Geleng

Ketika banyak dari 1,4 juta pengungsi Gaza berlindung di Rafah, di mana suhu turun hingga 10°C pada Minggu malam.

Dilansir inNalar.com dari thenationalnews.com, secara historis Ramadhan sering kali menjadi masa ketegangan yang akut karena situs tersuci ketiga umat Islam.

Masjid Al Aqsa di Al Haram Al Sharif, masih berada di bawah pendudukan Israel dan akses ke sana sering kali dihalangi oleh pasukan Israel.

Baca Juga: Pemilik Anabul Wajib Tahu! Ini Ciri-Ciri Anjing Ketika Mau Melahirkan yang Harus Diktehaui

Padahal menggunakan awal bulan suci sebagai tenggat waktu militer adalah tindakan yang ceroboh.

Sayangnya, hal ini juga disertai dengan tuntutan dari Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang berhaluan sayap kanan untuk membatasi akses umat Islam ke Al Aqsa selama bulan suci Ramadhan.

Perkembangan seperti ini hanya akan meningkatkan ketegangan.

Baca Juga: Jangan Buru-buru Dikasih! Inilah 5 Jenis Makanan Paling Terlarang untuk Anabul Kesayangan, Apa Saja Ya?

Harus ada gencatan senjata atau setidaknya penghentian serangan Israel, tanpa syarat.

Dilansir inNalar.com dari thestar.com, Serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 29.000 warga Palestina sejak 7 Oktober.

Hal itu diumumkan sendiri oleh Kementerian Kesehatan wilayah tersebut pada Senin, 19 Februari 2024.

Baca Juga: Agar Tumbuh Sehat dan Kuat, Ini Tips Rawat Kucing dengan Baik dan Benar Bagi Pemula!

Selain itu, pekan lalu kelompok hak asasi tahanan mengatakan lebih dari 7.000 warga Palestina telah ditahan di Tepi Barat sejak serangan Hamas pada bulan Oktober,

Jumlah kematian tersebut menandai tonggak sejarah suram lainnya dalam salah satu kampanye militer paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah baru-baru ini.

Mengingat perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas sepertinya menemui jalan buntu.***

Rekomendasi