

inNalar.com – Kalimantan Barat memiliki potensi bauksit berlimpah, itulah mengapa ada satu pabrik alumina pertama RI telah dibangun di Kabupaten Ketapang.
Pabrik alumina di Ketapang, Kalimantan Barat ini berhasil menjadi pionir pengolahan bijih bauksit menjadi Smelter Grad Alumina (SGA).
Berkat sumbangsih investasi senilai 1,15 miliar USD, akhirnya proyek smelter tersebut berhasil dituntaskan dalam waktu tiga tahun.
Baca Juga: Keruk Dana Rp7 Triliun, Proyek Jembatan Terpanjang di Riau Ini Menghubungkan Dua Pulau
Pabrik alumina di Ketapang, Kalimantan Barat ini digadang menjadi smelter terbesar se-Asia Tenggara (ASEAN) berkat kapasitas produksi capai 2 juta ton per tahun.
Namun di balik bidikan Pemerintah RI untuk membangun pabrik alumina pertamanya di Kalimantan Barat, seberapa besar potensi bauksit di Ketapang?
Pembangunan smelter pengolah mineral logam ringan ini rupanya berada di antara sejumlah daerah potensial bahan bakunya.
Selain pertambangan berlimpah di sekitar Kendawangan, tepat dimana smelter ini dibangun rupanya masih banyak lagi daerah lainnya yang sangat potensial.
Menurut data publikasi Badan Geologi Kementerian ESDM, wilayah Kendawangan sendiri memiliki sumber daya terkira sebesar 5.250.000 ton.
Namun ternyata ada daerah lainnya di Kabupaten Ketapang yang potensi bauksit tertunjuknya mencapai 187.200.000 ton.
Bahkan, penghitungan bauksit terkiranya pun mencapai 103.800.000 ton, daerah yang dimaksud ada di Periangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Daerah tersebut berjarak sekitar 3 jam dari lokasi smelter milik PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW).
Tidak hanya di Periangan, masih ada daerah yang lebih dekat dari pabrik alumina di Ketapang, Kalimantan Barat diketahui menyimpan potensi bauksit.
Contohnya seperti di Sungai Nanjung dengan potensi mineral logam langka tereka sebesar 6.500.000 ton.
Tepat di sebelah wilayah Kendawangan, daerah Pangkalan Batu pun juga menyimpan sumber daya terkira mencapai 110.000.000 ton.
Selain itu, di pelosok Banjarsari, Ketapang pun juga terbukti ada bauksit sebesar 21.750.000 ton.
Masih banyak daerah sekitar kabupaten yang tersebar mineral logam ringan dan langka ini.
Diungkap dalam sebuah penelitian tahun 2015, tambang bauksit di Kalimantan Barat sendiri tercatat telah dikelola oleh 149 perusahaan.
Adapun 33 IUP tambang mineral ini sifatnya sebagai izin hak guna produksi, sedangkan sebagian lainnya difungsikan sebagai wilayah eksplorasi.
Setidaknya hingga penelitian tersebut dilakukan, sudah ada 557.259 hektare lahan di Kalimantan Barat yang dikelola sebagai tambang bauksit.
Program hilirisasi mineral pun mendorong adanya sejumlah pembangunan smelter alumina yang memanfaatkan bahan baku alam ini.
Hingga kini, pembangunan pabrik alumina di Kalimantan Barat terus digesa sebab disebut smelter bauksit dinilai masih sedikit dibangun di Indonesia.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi