Di Balik Panorama Eksotis Jalan Tol Sumut-Aceh Rp18,82 Triliun: Lahan Produktif 6 Perusahaan Sawit Dimakan Proyek


inNalar.com – Apakah kamu pernah melintasi jalan tol penghubung Sumatera Utara dan Aceh, kemudian menikmati keindahan panorama eksotis khas Sumatera Utara (Sumut) yang mengapitnya?

Lintasan Jalan Tol Binjai-Langsa yang hubungkan Sumatera Utara dan Aceh ini begitu indah berkat hamparan bidang menghijau.

Namun pernah kah berpikir dari mana asal keindahan surga pengapit infrastruktur jalan yang satu ini?

Baca Juga: Habiskan Dana Rp5,4 Triliun, Jalan Tol Bocimi di Jawa Barat Ini Malah Sempat Longsor, Kok Bisa?

Panorama eksotis di Jalan Tol Binjai-Langsa ini rupanya berasal dari hamparan lahan produktif kepunyaan perusahaan sawit Aceh.

Jalan tol panoramik yang melapang di tengah lahan produktif ini membuat enam perusahaan sawit di Aceh harus relakan Hak Guna Usaha miliknya.

Namun realisasi pengadaan dan pembebasan lahan antara Pemerintah RI dan keenam perusahaan tersebut tetap fair alias adil.

Baca Juga: Peliknya Duit Rp636 Miliar, Jalan Tol di Binjai, Sumatera Utara Ini Nyaris Gagal Nyambung, tapi…

Pasalnya sejumlah bidang lahan yang merupakan Hak Guna Usaha tetap diberikan ganti rugi oleh Pemerintah RI.

Lantas, pemandangan kebun sawit yang mengapit di sepanjang lintasan tol yang satu ini milik siapa saja?

Rupanya hamparan lahan produktif di sisi kanan dan kiri Jalan Tol Binjai – Langsa ini adalah milik perusahaan sawit berikut.

Baca Juga: Sempat Dibuka Fungsional Guna Atasi Arus Mudik 2024, Jalan Tol Cimanggis Cibitung Bakal Segera Diresmikan

Kelima lahan produktif dari enam perusahaan sawit Aceh yang termakan oleh proyek jalan tol ini adalah PT Dharma Agung, PT PD Pati Sari, dan PTPN I.

Selain itu juga ada bidang lahan produktif milik perusahaan sawit PT Seumadam, PT Sri Kuala, dan PT Socfindo.

Selain lahan produktif dari keenam perusahaan sawit tersebut, Proyek Jalan Tol Binjai – Langsa ini juga memakan sejumlah kampung di daerah Aceh Tamiang.

Baca Juga: Progres Megaproyek Jalan Tol di Aceh Rp12,94 Triliun Ngadat 3 Tahun, Akhirnya Momen Ini Jadi Pelecutnya

Jadi apabila diperhitungkan secara keseluruhan, terdapat setidaknya 403,5 hektare bidang tanah yang terdampak oleh proyek ini.

“Salah satu kendala yang terjadi dalam pembangunan Jalan Tol Binjai – Langsa adalah permasalahan dana pengadaan tanah,” dikutip inNalar.com dari KPPIP.

Namun beruntungnya tidak ada keganjalan berarti dari proses pembebasan lahan yang memakan 780 bidang tanah tersebut.

Sebagai informasi, pengadaan lahan Jalan Tol Binjai – Langsa yang mencakup lahan warga dan perusahaan ini berada di trase Aceh Tamiang – Langsa).

Namun berkat dukungan warga dan segenap para pengusaha sawit yang terdampak pembangunan ruas tol ini, urusan pembebasan lahan dapat selesai dengan baik.

Meski pembangunan sempat melalui drama kekurangan dana, LMAN gerak cepat menambal kekurangan biaya guna pembebasan lahan.

Progres sempat tersendat lantaran menunggu alokasi dana tambahan sebesar Rp636 miliar.

Dana tersebut diperuntukkan guna merealisasikan jalan tol di seksi IA sepanjang 11,8 kilometer di Sumatera Utara.

Adapun terkhusus untuk dana ganti rugi pengadaan lahan jalan tol di bagian Kota Langsa ini setidaknya ada Rp132,8 miliar yang digelontorkan.

Inilah sedikit kelumit perjuangan dan pengorbanan pengadaan lahan produktif yang pada akhirnya kini menghiasi panorama eksotis Jalan Tol Binjai – Langsa.

Usai seluruh proses pembebasan dan pengadaan lahan selesainya, jalan tol senilai Rp18,82 triliun ini akan sempurna hubungkan Sumatera Utara dan Aceh.***

Rekomendasi