

inNalar.com – Bukan tol terpanjang di Indonesia, tetapi realisasi proyek jalan tol penghubung Bekasi – Jakarta Timur (Jaktim) ini sangat panjang penantiannya.
Jalan Tol Bekasi – Cawang – Kampung Melayu atau yang biasa disingkat Becakayu ini rupanya proyek warisan Soeharto dan mulai seret progres sejak krisis moneter.
Digagas oleh Presiden Soeharto pada tahun 1995 guna mengurai permasalahan kemacetan Kalimalang yang tidak kunjung terurai.
Namun sejak krisis moneter menerpa, proyek jalan tol penghubung Bekasi dan Jakarta Timur ini mandek mulai tahun 1997.
Padahal seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga Jakarta dan Bekasi yang memiliki kendaraan pribadi, tentu kebutuhan jalan tol masih menjadi opsi utama.
Meski Pemerintah RI kini tetap memperluas opsi akses transportasi publik yang bisa menjangkau kedua daerah tersebut.
Sebagai contohnya upaya perluasan Proyek Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT), dan Commuter Line.
Namun lintasan tol sepanjang 23,67 kilometer ini tetap diharapkan realisasinya guna mengurai permasalahan kemacetan Kalimalang.
Perusahaan konstruksi PT Waskita Toll Road masih setia menggenggam proyek jalan tol Bekasi – Cawang – Kampung Melayu sejak 20 Desember 1996.
Meski proyek warisan soeharto yang melintasi Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu ini sempat melalui akuisisi proyek terlebih dahulu pada tahun 2014.
Sebab pada awalnya proyek ini dipegang oleh anak perusahaannya sendiri, yaitu PT Kresna Kusuma Dyandra Marga.
Namun dengan masa konsesi proyek yang masih dimiliki hingga 2056 nasib proyek ini masih diperjuangkan oleh Pemerintah RI.
“KKDM merupakan pemegang konsesi Jalan Tol Bekasi – Cawang – Kampung Melayu (Becakayu), dengan masa konsesi 40 tahun (2016 – 2056),” dikutip inNalar.com dari Waskita Toll Road.
Berkat dorongan dari berbagai pihak, akhirnya proyek tol ini seolah bangun tidur dan mulai dilanjutkan hingga trase IIA yang berakhir di Duren Jaya.
Perlahan Seksi IA Casablanca menuju Cipinang Melayu berhasil diresmikan, lanjut ke Seksi IB dan IC tembus ke Jakasampurna pun demikian.
Begitu pula dengan lintasan Seksi IIA yang berakhir di Duren Jaya sepanjang 10,4 kilometer juga berhasil tersambung.
Jalan Tol Becakayu mulai terjuntai lintasannya pada tahun 2017 dan Kantor Staf Presiden (KSP) kembali memastikan Seksi IIB akan diupayakan kembali berlanjut.
Sehingga pengerjaan tersisa Seksi IIB dan III dari Duren Jaya menuju Telaga Asih di Bekasi sepanjang 12,4 kilometer.
Lantas, apa yang membuat proyek ini begitu terhambat selama 26 tahun, tepatnya sejak krisis moneter mengguncang?
Peneliti mengungkap dalam Jurnal Bumi Indonesia mengenai hambatan proyek ini berdasarkan perspektif penerimaan masyarakat.
Laras dan Mei (2017) menyebut, pada dasarnya lokasi Proyek Becakayu ini dibangun di daerah dengan penduduk yang dinilai memiliki kesadaran tinggi mengenai pentingnya infrastruktur jalan tol.
Persoalan hambatan lahan pun sebenarnya tidak begitu pelik karena tajakan lahan hanya di lokasi tiang pancangnya dan daerah on off ramp.
Akan tetapi respon negatif dari masyarakat lebih kepada dampak pengerjaan proyek yang dinilai merusak fasilitas umum.
Kerusakan fasilitas umum ini berimbas pada kemacetan berkelanjutan di sepanjang daerah proyek, terutama di Kalimalang.
Pihak Bappeda DKJ pun mengungkap bahwa kerusakan yang terjadi masih dalam batas normal selama pembangunan berlangsung.
Adapun pihak pembangun akan memperbaikinya tepat setelah proyek jalan tol Bekasi-Jakarta Timur selesai.
Kabar baiknya, proyek ini akan diupayakan tersambung hingga Jalan Tol Jakarta-Cikampek.
Sehingga akses Jawa Barat dan Jakarta akan semakin terbuka dan memudahkan mobilitas masyarakatnya.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi