

inNalar.com – Dampak pembangunan megaproyek jalan tol di satu desa di Probolinggo, Jawa Timur ini cukup unik.
Uniknya, sejak warga desa di Probolinggo ini terdampak pembangunan megaproyek jalan tol di Jawa Timur, petani wanita semakin sedikit.
Jadi mulanya terdapat enam lahan desa yang terdampak oleh pembangunan proyek infrastruktur ini.
Salah satu lahan yang tersapu oleh trase jalan tol ini adalah Desa Muneng Kidul, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Meski lahan Desa Muneng Kidul ini merupakan wilayah yang paling sedikit tersapu megaproyek jalan tol di Probolinggo.
Namun proyek jalan tol di Jawa Timur ini menyebabkan kondisi sosial masyarakat setempat berubah.
Sebagai informasi terlebih dahulu, proyek tol bernilai hampir Rp3 triliun ini memakan enam lahan pedesaan.
Sedikitnya ada dua desa di Kecamatan Granti yang ‘terbabat’ lahannya, totalnya mencapai 79.716 meter persegi.
Sementara tiga desa di Kecamatan Sumberasih termakan lahannya hingga 85.435,54 meter persegi.
Selain itu, satu desa Tongas Kulon di Kabupaten Probolinggo ini pun akhirnya harus merelakan lahan seluas 12.857 meter persegi.
Alhasil, total kebutuhan lahan untuk megaproyek ini mencapai 165.151,54 kilometer persegi.
Penetapan lokasi proyek tersebut dipertegas dengan adanya keputusan Gubernur Jawa Timur pada April 2021.
Sehingga warga Desa Muneng Kidul pun perlu melanjutkan hidup usai lahan persawahan mereka terdampak proyek ini.
Dikarenakan warga terdampak megaproyek ini sebagian besar berprofesi sebagai petani.
Baik petani wanita atau laki-laki, suami mau pun istri biasanya mereka bergotong-royong menggarap lahan mereka.
Setidaknya terdapat 900 warga Desa Muneng Kidul di Probolinggo ini berprofesi sebagai petani.
Kemudian ada 850 warga lainnya menjadi buruh tani, kedua jumlah itu terbanyak di antara profesi lainnya di desa tersebut.
Setelah 5.549,54 meter persegi lahan desa tersapu oleh Megaproyek Jalan Tol Pasuruan-Probolinggo.
Ditambah lagi ganti rugi lahan telah meningkatkan kualitas hidup mereka, pola hidup warganya cukup berubah.
Petani wanita di desa pelosok Probolinggo ini berkurang karena beralih profesi.
Jika tadinya mereka membantu suami menggarap lahan di persawahan, kini mereka membagi tugas.
Para suami menggarap lahan produktif yang tersisa, sedangkan yang tadinya berstatus sebagai petani wanita selanjutnya menjadi pedagang.
Dengan uang ganti rugi lahan yang diperoleh, kebanyakan mereka membuka toko kelontong.
Salah satu warga mengungkap bahwa dengan adanya ganti rugi tersebut, mereka mampu membuka usaha baru.
“Setelah adanya tol dengan uang ganti rugi itu istri saya mulai membuka usaha kecil-kecilan toko sembako dan ditambahi dengan menjual gorengan,” dikutip inNalar.com dari sebuah penelitian dari Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq.
Tidak hanya berubah dari segi pembangian tugas antara wanita dan pria di Desa Muneng Kidul, Probolinggo.
Sejumlah penduduk yang tidak lagi memiliki sawah garapan mereka, Pemerintah RI tetap mengupayakan untuk memberikan pekerjaan baru bagi mereka.
Salah satu warga desa setempat bernama Bapak Salem mengaku bahwa kebanyakan warga terdampak yang kehilangan lahan garap, kini direkrut sebagai pegawai rest area.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi