

inNalar.com – Tatkala Jakarta dan Depok semakin terhubung jalan tol, hal ini tentu menjadi impian kemajuan infrastruktur RI.
Namun dengan adanya jalan tol yang sukses sambungkan Jakarta dan Depok, apakah area hijau masih menjadi dambaan?
Sejumlah peneliti dari dari Universitas Diponegoro berhasil mengungkap realitas kemajuan infrastruktur RI.
Usai Proyek Jalan Tol Depok – Antasari, para peneliti berusaha menelusuri perubahan lanskap di sepanjang lintasannya.
Para peneliti berusaha mengungkap seberapa eksis area hijau seiring dengan adanya jalan tol penghubung Depok – Jakarta.
Periode yang diambil kurun waktunya, yaitu setahun sebelum peresmian hingga setahun setelah tol bersambung sempurna.
Lebih rincinya, perkembangan area lahan yang disorot diambil sejak tahun 2017 sampai dengan 2021.
Penting diketahui, konektivitas dua daerah strategis ini tentunya berikan multiplier effect luar biasa, utamanya dari segi ekonomi.
Terbukti, usai Jalan Tol Depok – Antasari beroperasi, area perumahan dan lahan yang difungsikan untuk dagang kian meluas.
Sebelum ada jalan tol, area perumahan di Depok hingga Jakarta luasnya 1435,61 hektare.
Namun usai tol ini menyambungkan kedua daerah tersebut, lahan perumahan kian meluas jadi 1521,687 hektare.
Alhasil, Proyek Jalan Tol Depok – Antasari berhasil naikkan bisnis sektor properti sebesar 2,1 persen dalam waktu empat tahun.
Sektor yang tidak kalah signifikan adalah area perdagangan dan jasa, dari yang semula lahan dagang hanya 79,55 hektare.
Usai adanya lintasan tol yang satu ini, area dagang meluas hingga 94,34 hektare.
Lantas, bagaimana dengan area terbuka hijau di Depok dan Jakarta usai adanya proyek jalan tol ini?
Para peneliti membagi lagi area hijau menjadi empat fungsi yang lebih rinci, yaitu pekarangan, taman dan hutan kota.
Selain itu, area jalur hijau yang terdapat di jalan dan ruang hijau dengan fungsi khusus.
Jika menilik perkembangan area hijau di jalur lintasan tentu luasnya kian berkembang seiring dengan penambahan jalan tol.
Namun lain halnya dengan area pekarangan. Ruang hijau yang tadinya meluas 964,589 hektare.
Dalam waktu empat tahun, area hijau pekarangan di sepanjang jalan tol Depok – Jakarta menyusut 1,7 persen.
Jadi mulanya meluas 964,589 hektare, usai tol yang beroperasi di daerahnya sisakan ruang hijau pekarangan 895,744 hektare.
Kemudian untuk ruang terbuka hijau dengan fungsi khusus tidak terlalu signifikan perubahannya.
Namun untuk area hijau taman dan hutan kota di sepanjang jalan tol Depok – Antasari hasilnya tampak menyusut drastis.
Mulanya area taman dan hutan kota luasnya 1104,344 hektare, kemudian berkurang 1,9 persen.
Alhasil luas area hijau di sepanjang jalan tol ini hanya 1028,677 hektare.
Pengikisan area terbuka hijau tersebut disinyalir berbalik fungsi menjadi area perumahan.
“Area perumahan meningkat sebanyak 2,1% dari tahun 2017 hingga tahun 2021,” dikutip inNalar.com dari Jurnal Geodesi Undip (2023, 8).
Diharapkan, kemajuan infrastruktur tetap menjunjung tinggi penataan kawasan hijau di setiap daerah.
Bagaimana pun keseimbangan lingkungan di area perkotaan dapat terwujud jika lahan resapan air juga diprioritaskan.
Sebagai informasi, proyek jalan tol penghubung Depok dan Jakarta ini memakan lahan seluas 113,21 hektare.
Terdapat sekitar 3.085 bidang tanah proyek yang perlu dibebaskan oleh negara demi realisasikan infrastruktur jalan tol ini.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi