Di Balik Progres On Track Proyek Pelabuhan Jawa Barat Rp43,22 Triliun: Polemik AMDAL dan Jeritan Nelayan Subang


inNalar.com –
Aktivitas ekspor-impor Jawa Barat kian gemilang. Keberadaan pelabuhan baru di Subang menjadi salah satu peran kuncinya.

Progres on track proyek pelabuhan teranyar Subang ini dapat dikatakan sesuai harapan jangka panjang terhadap ekonomi Jawa Barat.

Meski pada tahun 2021 terminal laut internasional ini masih beroperasi sebagian.

Baca Juga: Serasa Belajar di Istana Kerajaan, Inilah 3 Sekolah Elit Termahal di Jawa Barat: Biaya Paling Sultan Rp414 Juta!

Provinsi Jawa Barat mampu menembus ekspor-impor tertinggi di Indonesia selama 2 tahun berturut-turut, hingga 2023.

Kinerja gemilang ini tidak lepas dari kelancaran progres proyek pelabuhan di Subang, Jawa Barat.

Bagaimana tidak, dalam kurun waktu tersebut Terminal Internasional Patimban dapat dikatakan produktif.

Baca Juga: Punya Dua Tipe Kelas, Ternyata Segini Modal Masuk Sekolah RA Perwanida Blitar: Fasilitasnya Bikin Melongo!

Menko Airlangga Hartarto ungkap pelayanan bongkar muat terminal ini, baik skala domestik mau pun internasional.

Diungkapnya, pelayanan bongkar muat domestik tercatat telah mencapai 184.948 Completely Build Up (CBU).

Sementara aktivitas internasional di pelabuhan teranyar Subang jauh lebih produktif, yaitu sebanyak 268.968 CBU.

Baca Juga: Intip Alur Pendaftaran Sekolah Taman Kanak-Kanak RA Perwanida Blitar Bertajuk ‘Smart and Religius School’, Syaratnya…

Terminal yang berada di Jawa Barat ini menjadi sentra pertumbuhan ekonomi baru bagi Subang, Indramayu, Cirebon.

Lebih lanjut, impactnya turut melebar pula hingga Majalengka, Sumedang, Kuningan, dan Cirebon.

Namun di balik cemerlang progres yang on track, pelabuhan strategis Jawa Barat ini sempat memilukan nelayan Subang.

Baca Juga: Dibela-belain Royal Rp19,4 Triliun, Progres Pembebasan Lahan Jalan Tol di Depok Ini Masih Belum Beres

Para pelaut di sekitar lokasi proyek sempat keluhkan sulitnya mencari ikan sebab adanya pembangunan tersebut.

Guna mengakhiri polemik, Bupati Subang Ruhimat dan Bupati Indramayu Nina Agustina gelar audiensi nelayan terdampak.

Audiensi dilakukan oleh kedua bupati usai adanya unjuk rasa yang sempat digelar pada 16 Agustus 2021.

Baca Juga: Lahan Seluas 113,21 Ha di Depok – Jakarta ‘Disulap’ Jadi Jalan Tol, Area Hijau Kian Menciut, Benarkah?

Ketua Forum Masyarakat Peduli Jawa Barat, Asep Sumarna Toha mengungkap aspirasinya mewakili para nelayan Subang.

Diungkapnya, AMDAL proyek disinyalir tidak sesuai realitas sosial masyarakat sekitarnya.

Asep menggarisbawahi poin yang menyatakan bahwa lokasi proyek Terminal Laut Patimban bukan wilayah tangkapan ikan.

“Telah terjadi upaya penyesatan di dalam AMDAL pembangunan Pelabuhan Patimban yang salah satunya menyatakan bahwa areal tersebut bukan area tangkap ikan,” dikutip inNalar.com dari Pemerintah Daerah Kabupaten Subang.

Sebagai data penguatnya, ia pun lanjut mengungkap persebaran pelaut yang terdampak oleh proyek ini.

Desa Patimban Subang sendiri, nelayan terdampak proyek pelabuhan ini jumlahnya mencapai 800 jiwa.

Kemudian ada pula Desa Ujunggebang di wilayah Indramayu diungkap terdapat 200 pelaut.

Merespon kondisi tersebut, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi gerak cepat turun tangan.

Menteri Perhubungan Budi menggelar program pemulihan mata pencaharian bagi nelayan terdampak.

Selain itu, upaya penyelenggaraan diklat digelar bagi 416 para pelaut terdampak secara gratis.

Muara baiknya agar industri maritim di Jawa Barat turut berkembang seiring meningkatnya kompetensi nelayan sekitar.

Sebagai informasi tambahan, pelabuhan internasional yang satu ini terus dilakukan pembangunan fase 1 tahap kedua.

Dengan total investasi proyek yang mencapai Rp43,22 triliun, diharapkan pelayanan terminal semakin lejit.

Apabila tadinya kapasitas pelayanan peti kemas masih 3,75 juta TEUs, maka pembangunan tahap kedua akan meningkat.

Target peningkatan kapasitas layanan pada pembangunan lanjutan pelabuhan Subang ini mencapai 5,5 juta TEUs.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]