

inNalar.com – Sekitar sejam dari pusat kota Yogyakarta, melalui Jalan Wates, siapa yang menyangka bahwa ada daerah terpencil penuh kekayaan alam di sana.
Menuju sebuah daerah terpencil di Kulon Progo, Yogyakarta para peneliti geologi dan sejarah mengungkap fakta mencengangkan.
Lebih dalam dari citra Kulon Progo sebagai kabupaten terluas kedua di Yogyakarta, kawasan yang jarang dilirik banyak mata ini sempat menjadi primadona tambang mangan dunia.
Fakta kesejarahan tersebut masih dapat kita lihat dari adanya Situs Mangan, terowongan misterius, zona bekas tempat pemrosesan mangan.
Lebih lanjut, jalur lori hingga peninggalan Stasiun Kereta Api Pakualaman yang diduga dulunya menjadi terminal pengiriman mangan ke wilayah Batavia pun masih bisa dilihat.
Dari jejak itulah para peneliti geologi dan sejarah membantu kita memahami bahwa citra tambang mangan dunia di daerah terpencil Yogyakarta ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
Daerah yang terbebas dari pandangan mata tetapi menyimpan banyak sejarah keemasan alam ini berada di Kliripan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ada banyak variasi endapan mangan di dataran Kliripan, setidaknya tipe primer dan sekunder.
Endapan primernya merupakan hasil dari proses yang disebut dengan volcanogenic manganese deposit.
Baca Juga: Gak Cuma Mistis, Kampung Pasar Setan di Banjarnegara Rupanya Memendam Jejak ‘Harta Karun’ Ini
Agar kalian semakin mudah memahaminya, bayangkanlah sebuah gunung api di dasar lautan. Tatkala gunung bawah laut ini memuntahkan lavanya, tentu ada pula air panas fluida hidrotermal, yang juga keluar darinya.
Fluida hidrotermal membawa berbagai mineral berharga termasuk mangan dari perut bumi.
Jadi ketika fluida hidrotermal ini bercampur dengan air laut yang suhunya lebih dingin, mineral-mineral yang terbawa akan mengendap dan membentuk lapisan yang mengandung mangan.
Inilah proses hidrotermal yang membawa endapan mangan primer di daerah Kliripan, Kulon Progo, Yogyakarta.
Namun ‘harta karun’ ini disebut telah habis ditambang. Bagaimana tidak, mangan menjadi barang paling esensial dalam industri pembuatan baja.
Galian alam ini dilirik kembali akhir-akhir ini sebab industri baterai kian menggeliat di Indonesia.
“Mangan Kliripan-Karangsari merupakan satu-satunya situs di Jogja yang memiliki aneka macam bijih mangan,” dikutip dari Geopark Provinsi Jogja.
Melalui film Dokumenter hasil produksi Sinau Bhumi terungkap bahwa Kliripan dulunya memiliki 3 titik tambang mangan besar.
Ketiga titik strategis itu tersebar di Terowongan Holiday, Sunoto, dan PPTM.
Namun diungkap oleh seorang tokoh Pedukuhan Kliripan bernama Setyo Haryanto, Terowongan Holiday dan Sunoto kondisinya tertutup longsor.
Selain tiga titik besar yang telah disebutkan, di sebelah barat Sunoto pun ada dua titik terowongan kecil yang diketahui pula dulunya adalah bekas tambang mangan.
Ketiga titik terowongan yang digali para penambang saat itu jalurnya saling menembus satu sama lain.
Bisa jadi di antara kalian pun penasaran, mengapa nama terowongannya adalah ‘Holiday’?
Menurut pemaparan Setyo, nama terowongan tersebut diambil dari nama seorang insinyur penambangnya, yaitu Lim Holian.
Lisan Jawa yang terlalu sulit untuk mengucapkan Lim Holian, hingga sebutannya menggeser jadi Holiday.
Jadi apakah kalian sudah bisa menebak mengapa terowongan Sunota ini dinamakan demikian?
Betul sekali, insinyur penambangnya kala itu bernama Sunoto. Sementara Terowongan PPTM dinamakan demikian karena titik tersebut merupakan hasil temuan dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
PPTM adalah sebuah singkatan Penambangan Penelitian Tambang Mineral.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi