Patah Hati Bikin Orang Jakarta Merasa Jadi Kaum Paling Tidak Bahagia, Kamu Relate?


inNalar.com – Warga Jakarta yang alami patah hati rentan merasa menjadi orang paling tidak bahagia, benarkah?

Demikian diungkap data BPS. Penduduk Jakarta yang telah menikah lalu berpisah, mereka lah kaum patah hati paling rentan yang dimaksud.

Tingkat kebahagiaan mereka yang statusnya cerai hidup berada di urutan terendah dibanding tiga kategori lainnya.

Baca Juga: Ingin Sama Jurusan dengan Sandy dan Axel, Inilah 10 Kampus dengan Jurusan Computer Science Terbaik di Indonesia

Kepuasan hidup mereka yang mengalami perpisahan dengan pasangan nilainya hanya 67,03.

Berbeda nilainya ketika seseorang ditinggal meninggal dunia oleh sang belahan hidupnya, skor kepuasan hidupnya 69,39.

Berada di posisi yang lebih atas dari kedua kategori tersebut, mereka yang sudah menikah nilai kebahagiaannya 71,80.

Baca Juga: Tak Disangka, Kaum Jomblo Jadi Mahluk Paling Bahagia di DKI Jakarta, Ini Alasannya

Siapa sangka, kaum yang paling bahagia di Jakarta adalah mereka yang statusnya belum menikah alias masih jomblo.

Nilai kepuasan hidupnya mencapai 71,84. Rasa bahagia kaum jomblo memimpin tipis dari mereka yang telah menikah.

Lantas, apa penyebabnya warga ibukota yang mengalami cerai hidup paling rentan merasa tidak bahagia?

Baca Juga: DKI Jakarta Masuk 30 Besar Kota Termacet di Dunia, Jika Kemacetan Diurai Bisa Mengular 402,8 Km!

Menurut catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MA, ada 4 faktor terbesar yang membuat sepasang suami-istri bercerai di Indonesia adalah sebagai berikut.

Penyebab yang paling memuncakinya adalah perselisihan dan pertengkaran, yakni sebanyak 176.683 perkara.

Pada urutan kedua karena faktor ekonomi, yaitu karena sang suami tidak memberi nafkah atau tidak berpenghasilan.

Baca Juga: Dikenal Sebagai Perantau Andal, Inilah 5 Destinasi Andalan Orang Minang: yang Terbanyak Bukan di Jakarta!

Kasus cerai hidup semacam itu ditemukan di negeri kita sebanyak 71.194 perkara.

Sementara di urutan ketiga, alasannya karena meninggalkan kediaman tempat bersama.

Perkara tersebut terjadi sebanyak 34.671 kasus dan yang terakhir adalah permasalahan kekerasan dalam rumah tangga.

Penyebab perceraian yang terakhir ini setidaknya terjadi di Indonesia sebanyak 3.271 perkara.

Apabila kita menengok data cerai hidup di DKI Jakarta, setidaknya ada 17.263 terjadi sepanjang tahun 2023.

Baca Juga: Yakin Orang Jawa Barat Sulit Merantau? TOP 3 Perantau di 5 Daerah Yogyakarta Ini dari Jabar Loh

Menurut catatan Pengadilan Agama, penggugat perpisahan dari suami kebanyakan terjadi di Jakarta Selatan.

Sebaliknya, kasus pihak istri yang menggugat pisah kebanyakan terjadi di Jakarta Timur.

Lantas, mengapa orang yang sudah menikah lalu patah hati merasa sulit bahagia?

Baca Juga: Warga Maluku Utara Paling Bahagia se-Indonesia, Gak Heran Pantai Tercantik Tobelo Ini Bikin Mood Nanjak!

Siapapun yang melewati fase perceraian tentu akan menghadapi guncangan emosi.

Pasalnya, ekspektasi hidup bersama pasangannya hingga masa tua kandas di tengah perjalanan rumah tangga yang penuh dinamika.

Alhasil perasaan kecewa dalam diri tidak dapat dielakkan. Trauma khawatir ditinggalkan untuk kedua kalinya pun muncul menjadi benalu.

Baca Juga: Uji Keimanan Warga Bandung, APILL Terlama di Indonesia Ini Sampai Dijuluki ‘Lampu Merah Perenggut Masa Muda’

Perceraian pun berpotensi sebabkan stres berujung depresi hingga rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan.

Tidak heran jika kaum patah hati rentan paling tidak bahagia di DKI Jakarta.***

Rekomendasi

Patah Hati Bikin Orang Jakarta Merasa Jadi Kaum Paling Tidak Bahagia, Kamu Relate?


inNalar.com – Warga Jakarta yang alami patah hati rentan merasa menjadi orang paling tidak bahagia, benarkah?

Demikian diungkap data BPS. Penduduk Jakarta yang telah menikah lalu berpisah, mereka lah kaum patah hati paling rentan yang dimaksud.

Tingkat kebahagiaan mereka yang statusnya cerai hidup berada di urutan terendah dibanding tiga kategori lainnya.

Baca Juga: Ingin Sama Jurusan dengan Sandy dan Axel, Inilah 10 Kampus dengan Jurusan Computer Science Terbaik di Indonesia

Kepuasan hidup mereka yang mengalami perpisahan dengan pasangan nilainya hanya 67,03.

Berbeda nilainya ketika seseorang ditinggal meninggal dunia oleh sang belahan hidupnya, skor kepuasan hidupnya 69,39.

Berada di posisi yang lebih atas dari kedua kategori tersebut, mereka yang sudah menikah nilai kebahagiaannya 71,80.

Baca Juga: Tak Disangka, Kaum Jomblo Jadi Mahluk Paling Bahagia di DKI Jakarta, Ini Alasannya

Siapa sangka, kaum yang paling bahagia di Jakarta adalah mereka yang statusnya belum menikah alias masih jomblo.

Nilai kepuasan hidupnya mencapai 71,84. Rasa bahagia kaum jomblo memimpin tipis dari mereka yang telah menikah.

Lantas, apa penyebabnya warga ibukota yang mengalami cerai hidup paling rentan merasa tidak bahagia?

Baca Juga: DKI Jakarta Masuk 30 Besar Kota Termacet di Dunia, Jika Kemacetan Diurai Bisa Mengular 402,8 Km!

Menurut catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MA, ada 4 faktor terbesar yang membuat sepasang suami-istri bercerai di Indonesia adalah sebagai berikut.

Penyebab yang paling memuncakinya adalah perselisihan dan pertengkaran, yakni sebanyak 176.683 perkara.

Pada urutan kedua karena faktor ekonomi, yaitu karena sang suami tidak memberi nafkah atau tidak berpenghasilan.

Baca Juga: Dikenal Sebagai Perantau Andal, Inilah 5 Destinasi Andalan Orang Minang: yang Terbanyak Bukan di Jakarta!

Kasus cerai hidup semacam itu ditemukan di negeri kita sebanyak 71.194 perkara.

Sementara di urutan ketiga, alasannya karena meninggalkan kediaman tempat bersama.

Perkara tersebut terjadi sebanyak 34.671 kasus dan yang terakhir adalah permasalahan kekerasan dalam rumah tangga.

Penyebab perceraian yang terakhir ini setidaknya terjadi di Indonesia sebanyak 3.271 perkara.

Apabila kita menengok data cerai hidup di DKI Jakarta, setidaknya ada 17.263 terjadi sepanjang tahun 2023.

Baca Juga: Yakin Orang Jawa Barat Sulit Merantau? TOP 3 Perantau di 5 Daerah Yogyakarta Ini dari Jabar Loh

Menurut catatan Pengadilan Agama, penggugat perpisahan dari suami kebanyakan terjadi di Jakarta Selatan.

Sebaliknya, kasus pihak istri yang menggugat pisah kebanyakan terjadi di Jakarta Timur.

Lantas, mengapa orang yang sudah menikah lalu patah hati merasa sulit bahagia?

Baca Juga: Warga Maluku Utara Paling Bahagia se-Indonesia, Gak Heran Pantai Tercantik Tobelo Ini Bikin Mood Nanjak!

Siapapun yang melewati fase perceraian tentu akan menghadapi guncangan emosi.

Pasalnya, ekspektasi hidup bersama pasangannya hingga masa tua kandas di tengah perjalanan rumah tangga yang penuh dinamika.

Alhasil perasaan kecewa dalam diri tidak dapat dielakkan. Trauma khawatir ditinggalkan untuk kedua kalinya pun muncul menjadi benalu.

Baca Juga: Uji Keimanan Warga Bandung, APILL Terlama di Indonesia Ini Sampai Dijuluki ‘Lampu Merah Perenggut Masa Muda’

Perceraian pun berpotensi sebabkan stres berujung depresi hingga rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan.

Tidak heran jika kaum patah hati rentan paling tidak bahagia di DKI Jakarta.***

Rekomendasi