Biaya Tembus Rp325 Triliun! Megaproyek MRT Bali Tak Didanai Pemerintah, Dari Mana Duitnya?

inNalar.com – Megaproyek MRT Bali yang telah lama dinantikan akhirnya resmi memulai prosesi awal pembangunan pada 4 September 2024.

Dalam upacara ‘ngeruwak’ yang digelar di Transit Oriented Development (TOD) Sentral Parkir Kuta, Gubernur bersama PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) menggelar upacara adat yang bertujuan agar proyek besar ini berjalan lancar dan membawa kebahagiaan bagi masyarakat setempat.

Namun, ada satu hal yang membedakan proyek ini dari megaproyek lainnya, yakni sumber dana MRT tidak berasal dari asupan pembiyaan pemerintah. Lalu, bagaimana proyek ini akan dibiayai?

Baca Juga: Investasi Rp3,5 Triliun! Ciputra Bangun ‘Perkotaan’ Lewat Megaproyek 10 Tower Rusun di IKN

Proyek ini yang memerlukan total investasi sebesar Rp325 triliun akan dibiayai oleh investor swasta tanpa melibatkan anggaran negara atau utang pemerintah.

PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ), yang ditunjuk sebagai pengelola dan pengembang proyek, telah menunjuk investor utama.

Adalah PT Bumi Indah Prima (BIP) akan bertindak sebagai investor utama, sementara PT Indotek dan China Railway Construction Corporation (CRCC) akan menjadi kontraktor utama.

Baca Juga: Gurun Sahara Berubah Hijau Setelah Ribuan Tahun Gersang, Ini Kata NASA

Menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, model sumber dana tanpa jaminan keuangan negara ini merupakan langkah yang menguntungkan.

Ia menilai hal ini disebabkan pemerintah tidak perlu menanggung utang yang biasa muncul dari megaproyek transportasi.

Sebaliknya, proyek ini diharapkan dapat membawa keuntungan langsung bagi daerah dan mendukung pembangunan berkelanjutan di Bali.

Baca Juga: Catat! Ini Cara Minum Air Tajin untuk Menyembuhkan Asam Lambung yang Benar

Megaproyek MRT di Pulau Dewata ini akan dibangun dalam empat fase, dengan sumber dana tahap awal Rp175 triliun untuk dua fase pertama.

Berikut rincian fase-fase proyek MRT di Pulau Dewata.

Fase 1: Bandara I Gusti Ngurah Rai – Central Parkir Kuta – Seminyak – Berawa – Cemagi (16 km)
Fase 2: Bandara I Gusti Ngurah Rai – Jimbaran – Universitas Udayana – Nusa Dua (13,5 km)
Fase 3: Central Parkir Kuta – Sesetan – Renon – Sanur
Fase 4: Renon – Sukawati – Ubud

Baca Juga: Proyek Mangkrak 10 Tahun, Pj Gubernur Lampung Dorong Keberlanjutan Kota Baru Lampung Selatan

Fase ketiga dan keempat saat ini masih dalam tahap studi kelayakan, sehingga rute dan panjang finalnya belum diumumkan.

Seluruh pembangunan Megaproyek MRT Bali ini ditargetkan selesai pada tahun 2031.

Garapan Megaproyek MRT di Bali dianggap menantang, terutama pada fase pertama yang akan memakan waktu lebih lama.

Baca Juga: Siap-Siap Bentuk Provinsi Baru di Pulau Sumatra, 7 Kabupaten Diboyong Sekaligus: Wilayahmu Termasuk?

Kondisi tanah di rute ini cukup keras dan berbatu, berbeda dengan fase kedua yang melintasi tanah kapur dan aluvial yang lebih mudah digarap.

Mesin pengebor terowongan yang akan digunakan dalam proyek ini dijadwalkan tiba pada April 2025.

MRT Bali akan menggunakan terowongan bawah tanah dengan diameter 7,2 meter, lebih besar dari MRT Jakarta yang memiliki diameter 6,4 meter.

Terowongan ini akan dibangun di kedalaman sekitar 30 meter di bawah permukaan tanah.

Baca Juga: Tampik Isu Pemekaran Wilayah Kabupaten Lampung Selatan Disahkan, Begini Respon PJ Gubernur Samsudin

Ari Askhara, Direktur Utama PT SBDJ, menyebut bahwa proyek ini akan meningkatkan infrastruktur transportasi Bali dan mendukung pariwisata serta pembangunan ekonomi.

Selain itu, Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya berharap agar proyek ini juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat lokal, memastikan manfaat pembangunan MRT Bali bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.***

Rekomendasi