6 Puisi Bulan September, Tentang Hujan dan Rindu yang Menyentuh Hati, Bisa Jadi Caption Media Sosial


inNalar.com –
Ada 6 puisi bulan September tentang hujan dan rindu yang menyentuh hati dalam artikel ini. Kamu bisa menggunakannya untuk jadi caption media sosial.

6 puisi bulan September tentang hujan dan rindu yang menyentuh hati dalam artikel ini sangat menggambarkan suasana September.

Kamu juga bisa membagikan 6 puisi bulan September tentang hujan dan rindu yang menyentuh hati ini ke teman-teman dan orang-orang tersayang.

Baca Juga: BBM Naik, Pertamina Keluarkan Harga BBM Terbaru 1 September 2022: Harga Pertalite Berapa?

Dilansir inNalar.com dari situs gurupenyemangat.com, inilah 6 puisi bulan September tentang hujan dan rindu yang menyentuh hati serta bisa jadi caption media sosial.

  1. Hujan di Bulan September – Ozy V. Alandika

Gerimis

Masih gerimis

Padahal Agustus sudah berlalu

Tapi entah mengapa langit masih murung

Apa mungkin mereka menyindirku?

Segenap awan enggan menyingkir dari hadapan

Seakan-akan mereka begitu rela

Melihat aku kebasahan

Oleh rintik-rintik hujan di bulan September

Aku masih baik-baik saja

Walau sedang sendiri

Berteman dengan sepi

Bersahabat dengan rintik-rintik sendu

Mereka sudah cukup menenangkanku

Tunggulah!

Akan ada kabar baik

Aku percaya cerah akan segera tiba

Hujan di bulan September akan segera berakhir

Selamanya aku tetap tidak akan membenci hujan

Karena tanpanya hatiku jadi begitu gersang

Sebagaimana kisah kita

Saat kau meninggalkanku tanpa pamit

Dulu

Baca Juga: Kalender September 2022, Intip Daftar Peringatan Hari Penting Nasional dan Internasional Pada Bulan Ini

  1. September Kelabu – Ozy V. Alandika

Mataku perih

Semua tatapanku antara hitam dan putih

Hati ini jadi pedih

Terus terluka bahkan tertindih

Kulihat kisah kita di awal September laksana buih

Bersama rindu yang perlahan mulai berbenih

Tapi entah mengapa kau pamit tanpa belas kasih

Menganggap aku bukanlah seorang kekasih

Ternyata September ini kelabu

Aku terpaksa bersandar di pinggir pintu

Masih di sini bermain debu

Sembari menatap wajahmu yang semakin abu-abu

Aku tidak rela kisah ini berjalan tiga puluh hari penuh

Sungguh September yang kelabu

Lelah menantimu lebih dari sewindu

Hati ini terenyuh

Baca Juga: Kecelakaan Truk di Bekasi Akibat Rem Blong, Tabrak Tiang BTS dan Halte, Sebabkan 10 Korban Tewas

  1. September Ceria – Ozy V. Alandika

September yang ceria

Burung-burung menari dengan berbagai rupa

Hujan segera berpamitan untuk menjemput senja

Mengabarkan kepada alam bahwa sekarang saatnya untuk berbahagia

September yang memesona

Kulihat senyummu tulus nan ceria

Aku pula sama keadaannya

Awal bulan adalah kesempatanku menggapai cita

Entah nanti tiga puluh atau bertambah satu hari

Banyaknya angka di kalender enggan untuk kupeduli

Ada saatnya hujan akan datang setajam mawar berduri

Sungguh cantik namun menyimpan secarik elegi

Aku ingin September tetap ceria

Bersama sendiri atau berdamping dalam kita

Berkeluh kesah di hari ini sungguh tiada guna

Hanya menambah beban kesal di akhir masa

Ceriamu adalah ceriaku juga

Duduklah denganku untuk memupuk rasa

Kita masih punya impian dan cita-cita

September akan jadi awal untuk berupaya

Baca Juga: Lirik Lagu Iki Uripku Milik Bayu Skak, Soundtrack Pertama Film Lara Ati Beserta Terjemahan Bahasa Indonesia

  1. Pamit – Ozy V. Alandika

Kemarin aku sudah berjuang

Bangun lebih awal

Menatap wajah

Memaksa diri untuk selalu tersenyum

Pada pagi yang cerah itu

Aku berdiri di depan bayang-bayang masa lalu

Terik matahari memisahkan kisah dulu

Karena aku ingin untuk lebih dekat denganmu

Bukan hanya sepanjang hari tapi sepanjang waktu

Waktu itu kau tersenyum

Membalas kisahku dengan sapa

Senyummu mungkin merona

Aku merasakannya dari jauh

Aku merasa kau semakit dekat

Seakan-akan sedang mengetuk pintu yang kuncinya aku sendiri pun tidak tahu

Tapi itu dulu

Hari ini kau laksana niskala

Kompas yang tak tahu entah ke mana arah

Aku menanti di selatan

Tapi kau mengaku tersesat di barat daya

Tanpa kabar; sungguh sebenarnya aku yang sedang tersesat

Hari ini aku akan berhenti berjuang

Pamit kepada bayang-bayang semu untuk memulai kisah yang baru

Kau benar

Kisah yang baru ialah tanpamu

Aku pamit

Terima kasih untuk senyum waktu itu

Baca Juga: Quotes Bulan September, Berisi Motivasi dan Kata-Kata Bijak yang Penuh Harapan Baik, Bisa untuk Status WA

  1. September Merindu – Ozy V. Alandika

Ada apa dengan hati ini

Rasanya sungguh sesak

Padahal aku sudah sarapan

Makan bubur seraya melihat embun pagi

Ternyata September sudah tiba

Membawa segudang tanya dan sapa

Kabarku hari ini masih baik-baik saja

Masih tetap menabung rindu sebagaimana semestinya

Jika kau bertanya apa kabar hati

Mungkin edaran darah di dalamnya sedang menari bahagia

Sudah semenjak fajar tadi

Dan akan terus bertahan hingga purnama

Begitulah kisah September merindu

Aku di sini masih menantimu

Menanti kabar baik untuk kedatanganu

Seberapa tulus atau ingkar kau waktu itu

Sesaat lagi kita benar-benar akan tahu

Aku masih sanggup untuk merindu

Walau berdampingan dengan bayang-bayang sendu

Rasa ini bukanlah rasa temaram yang dulu

Aku yakin lebih sempurna

Karena ada doa tulus yang terucap dari kalbu

Untuk kesehatanmu

Baca Juga: Gunakan Peran Pengganti Saat Rekontruksi Kasus Ferdy Sambo, Ternyata ini Sosok Yang menggantikan Brigadir J

  1. Senja di Bulan September – Ozy V. Alandika

Belum ada terlalu banyak hujan di sini. Kau pasti sadar akan hal itu. Aku tidak butuh payung walau hati ini sudah tersiram rindu.

Angin September telah berhembus memberikan kesejukan. Mengetuk pintu hati yang mulai berkarat.

Terlalu banyak debu usang yang singgah!

Berpeluh aku membersihkan segerombol duka. Menyigi kesepian. Memperbaiki kursi hati agar tidak lagi duduk bersama kesepian.

Awal September yang beruntung. Aku baru saja melihat senja. Sudut yang sempurna. Cahaya itu lebih megah dari biasanya.

Waktu itu aku terlalu kaku. Sebait caturwulan terakhir terlalu sibuk mengejarmu. Memberi perhatian. Memaksamu tersenyum. Padahal itu hanya rasa yang bertepuk sebelah tangan.

Senja di bulan September ini sungguh indah. Tampaknya aku sudah terlalu lama tak membuka jendela. Malah mengubur duka yang menumpuk di kamar tanpa sempat mengeluarkannya.

Sungguh senja yang menyejukkan. Entah mengapa aku lebih bahagia melihat kalong-kalong yang terbang untuk berpamitan pulang ke sarang.

Aku sebenarnya ingin pulang menuju masa lalu.

Tapi untuk apa.

Kisah kita hanya tinggal cerita. Sedangkan sekarang senja sudah berdampingan dengan jingga. Sudah saatnya bagiku untuk jatuh cinta.

 

Baca Juga: Pindah Jam Tayang, Lokadrama Lara Ati di SCTV Banyak Diprotes, Bayu Skak Angkat Suara: Petinggi SCTV yang Atur

Demikian 6 puisi bulan September tentang hujan dan rindu yang menyentuh hati serta bisa jadi caption media sosial.

Rekomendasi