

inNalar.com – Taman Nasional Ujung Kulon dikenal karena menjadi rumah bagi spesies-spesies langka di Indonesia bahkan dunia.
Setelah disapu bersih oleh letusan Krakatau pada tahun 1846, kawasan ini diketahui memiliki pertumbuhan ekosistem satwa liar yang cepat.
Tujuan pembuatan taman ini sendiri untuk melestarikan ekosistem aslinya dan hanya dimanfaatkan untuk penelitian hingga pariwisata.
Baca Juga: 5 Rute Kereta Api yang Memiliki Waktu Tempuh Terlama di Pulau Jawa, Ada yang Sampai 15 Jam
Dikenal sebagai tempat perlindungan Badak Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon ternyata juga melindungi hewan langka lain yang juga terancam punah.
Dilansir inNalar.com dari berbagai sumber, berikut adalah 5 hewan yang perlu dilindungi di Taman Nasional Ujung Kulon karena langka:
5. Raja Udang Kalung Biru Jawa
Pertama kali dipublikasi pada tahun 1830 oleh zoologist Belanda, penamaan Raja Udang Kalung Biru merujuk pada corak biru dan lebar pada burung langka tersebut.
Tubuhnya bisa tumbuh hingga 18 sentimeter, burung ini suka memakan ikan namun disebut pemalu karena sangat sulit ditemukan.
Meski masih sering dijumpai di kawasan Gunung Halimun Salak dekat perairan sungai, namun populasinya untuk endemik Jawa terancam punah dengan perkiraan tersisa 50 hingga 249 ekor.
Pemusnahan populasi ini diduga karena adanya perburuan liar dan perubahan fungsi hutan yang ekstrem.
4. Ajag
Hidup di daerah hutan pegunungan, spesies anjing hutan yang bernama Ajag ini sangat mirip perawakannya dengan serigala.
Ajag sendiri merupakan anjing asli belantara milik Indonesia di mana mendiami Pulau Sumatera dan Jawa.
Biasanya, Ajag memilih untuk berburu secara berkelompok untuk memangsa hewan yang lebih besar seperti babi hutan dan kerbau.
Namun, karena populasi mangsanya yang menurun, keberadaan Ajag kini diperkirakan mencapai 2.200 ekor saja.
3. Surili
Pernah menjadi maskot tuan rumah penyelenggara PON 2016, mamalia satu ini ternyata asli Pulau Jawa.
Saat baru lahir, Surili memiliki warna putih dengan garis hitam kemudian bulunya akan berubah warna menjadi abu-abu dan putih ketika beranjak dewasa.
Keunikan hewan ini membuat Surili menjadi spesies langka yang peka terhadap perubahan di lingkungan sekitarnya.
Hewan ini benar-benar bergantung kepada pohon, dan diketahui populasinya mencapai 1.400 hingga 1.500 pada data 2020.
2. Owa Jawa
Primata lain yang dilindungi di Taman Nasional Ujung Kulon adalah kera paling langka di dunia, yaitu Owa Jawa.
Tubuhnya yang tidak berekor dengan tangan panjang dan otot kuat ini memiliki ciri khas lain yaitu bulu keabu-abuan dan wajah yang kehitaman.
Hewan ini juga dikenal sebagai primata yang setia, karena bila ditinggal mati oleh pasangannya maka Owa tidak akan mencari pasangan lagi dan terus menyendiri hingga akhir hayat.
Kelangkaan Owa Jawa terjadi karena perburuan ilegal untuk mengambil bayi Owa dengan membunuh induknya, dan diperkirakan populasinya kini hanya 1.000 hingga 2.000.
1. Badak Jawa
Taman Nasional Ujung Kulon yang mendapatkan gelar Warisan Dunia pada tahun 1991 ini tentunya terkenal dengan satwa Badak Jawa.
Keunikan badak ini adalah culanya yang hanya satu dengan ukuran kecil yaitu rata-rata 20 hingga 25 sentimeter.
Dulunya, Badak Jawa tersebar luas di Asia Tenggara mulai dari Pulau Jawa hingga Myanmar dan Thailand.
Namun, karena perburuan liar, populasinya kini hanya terbatas di Semenanjung Ujung Kulon saja dengan jumlah 77 ekor pada tahun 2022.
Sekian rangkuman mengenai 5 hewan langka yang dilindungi di Ujung Kulon. Dengan menurunnya populasi hewan ini, diharapkan masyarakat lebih sadar betapa pentingnya melestarikan fauna Indonesia.***