5 Fakta Menarik Mongolia, Negara Kuat dengan Penduduk Tersepi di Dunia

Kehidupan masyarakat Mongolia masih mempertahankan tradisi budaya nomaden, hidup dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan dengan masyarakat urban di negara-negara lain.

Mereka mengikuti pola hidup yang telah ada selama berabad-abad dengan mengandalkan pergerakan musim untuk mencari tempat terbaik bagi ternak mereka.

Masyarakat nomaden ini umumnya tinggal di Ger, rumah yang terbuat dari kayu dan kain. Sebuah rumah portable yang memungkinkan warga Mongolia untuk berpindah-pindah sesuai kebutuhan musim

Lebih lanjut, kehidupan mereka sangat bergantung pada alam dan memiliki hubungan yang sangat erat dengan tanah serta hewan peliharaan, seperti kuda, domba dan unta.

Pada masa lalu, Mongolia pernah menjadi kekuatan besar yang menguasai sebagian belahan dunia pada abad ke-13. Kekaisaran Mongol yang dipimpin oleh Jenghis Khan dan penerusnya menguasai wilayah yang sangat luas, mencakup Asia, Eropa, Timur hingga Timur Tengah.

Kejayaan ini menjadikan Mongolia sebagai salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia, dengan pengaruh yang sangat besar dalam bidang militer perdagangan dan budaya.

Dalam artikel ini, kita akan melihat lebih dalam mengenai berbagai aspek kehidupan di Mongolia, seperti letak geografi, keindahan alam, budaya sejarah dan masih banyak yang lainnya, Sabtu (4/10/2025).

Profil Mongolia

Profil Negara Mongolia

Mongolia adalah salah satu negara yang paling terpencil di dunia, terletak di jantung Asia dikelilingi oleh Rusia di utara dan Cina di selatan. Meskipun luas wilayahnya mencapai sekitar 1,56 juta kilometer persegi, Mongolia memiliki populasi yang sangat kecil hanya sekitar 3,5 juta jiwa.

Hal ini menjadikannya salah satu negara dengan kepadatan penduduk terendah di dunia. Keadaan geografis yang luas namun jarang dihuni membuat pemulia menjadi negara yang terisolasi, dengan banyak wilayahnya yang hampir tidak tersentuh oleh aktivitas manusia.

Sebagian besar negara ini terdiri dari padang rumput yang luas gurun dan pegunungan, yang membuat kehidupan di banyak area menjadi sangat terbatas.

Wilayah Mongolia didominasi dataran tinggi yang luas, seperti stepa Mongolia yang menawarkan pemandangan alam terbuka dan sunyi, dihiasi dengan padang rumput hijau yang bergelombang.

Di bagian selatan, ada gurun Gobi yang terkenal dengan lanskap gurun yang tandus dan formasi batuan yang unik, menciptakan keindahan yang khas dengan daerah lainnya.

Selain itu, Mongolia juga memiliki pegunungan yang indah, seperti pegunungan Altai yang menawarkan pemandangan dramatis dengan puncak bersalju, lembah yang subur dan sungai yang jernih.

Keindahan alam yang luar biasa ini ditambah dengan udara yang segar dan bersih, menjadikan Mongolia sebagai destinasi alam yang memikat bagi para pecinta petualangan dan keindahan alam yang asli.

Mongolia memiliki keberagaman suku, budaya dan agama yang sangat kaya meskipun negara ini relatif terpencil dan memiliki populasi yang kecil. Secara etnis mayoritas penduduk Mongolia adalah suku Mongol yang terdiri dari berbagai kelompok sub etnis seperti Halkh yang merupakan kelompok terbesar, serta Buriat, Oirat dan Tufan.

Suku mongo memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan ekspansi besar kekaisaran Mongol di bawah Jenghis Khan yang menghubungkan mereka dengan banyak budaya dan peradaban di Asia dan Eropa.

Meski sebagian besar seperti Ulan Bantar atau di pedesaan dengan cara hidup nomaden, mereka semua memiliki kesamaan dalam bahasa, adat istiadat, dan kebanggaan terhadap sejarah mereka.

Budaya Mongolia sangat dipengaruhi oleh gaya hidup nomaden yang masih dijalani oleh sebagian besar penduduk, terutama di daerah pedesaan. Gaya hidup ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari pola makan, pakaian hingga sistem rumah tinggal.

Masyarakat Mongolia juga terkenal dengan keterampilan berkuda yang diwariskan turun temurun. Kuda merupakan bagian integral dari kehidupan mereka, baik untuk transportasi, perlombaan maupun dalam berbagai perayaan budaya.

Selain itu, musik tradisional Mongolia dan tarian tradisional juga memainkan peran penting dalam merayakan identitas budaya mereka.

Dalam hal agama, mayoritas penduduk Mongolia menganut Buddha Tibet yang diperkenalkan pada abad ke-16 dan telah menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual mereka.

Agama Buddha di Mongolia lebih dikenal dengan sebutan Buddhisme lama yang menggabungkan ajaran-ajaran Buddha dengan unsur-unsur spiritual dan tradisional yang khas di Mongolia.

Meskipun ada pengaruh kuat dari agama Buddha, Mongolia juga memiliki warisan animisme yang dalam yakni syamanisme.

Syamanisme adalah kepercayaan kuno yang menghormati roh alam dan kekuatan spiritual yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari.

Ibukota Mongolia adalah Ulan Bator yang terletak di tengah negara tersebut, tepatnya di lembah sungai Tul, dikelilingi oleh pegunungan yang indah.

Ulan Bator adalah kota terbesar di Mongolia dan pusat politik ekonomi dan budaya negara.

Sebagai informasi, kota ini memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak abad ke-17, ketika pada awalnya didirikan sebagai tempat berkemah oleh para biksu.

Seiring waktu Ulan Bator berkembang pesat dan menjadi pusat pemerintahan Mongolia, setelah negara ini mengadopsi sistem republik pada tahun 1924

Ulan Bator adalah kota yang penuh kontras menggabungkan elemen-elemen tradisional Mongolia dengan modernitas yang cepat berkembang.

Di tengah-tengah kota, terdapat gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan dan restoran-restoran mewah. Sementara di pinggiran kota, masyarakat masih hidup dengan cara tradisional dalam ger atau yurt.

Kota ini juga terkenal dengan budaya yang sangat dihormati, di mana festival-festival seperti nadam yang merayakan olahraga tradisional seperti gulat, balap kuda dan memanah, menjadi ajang yang sangat dinanti.

Meskipun kota tersebut mengalami perkembangan yang pesat, Ulan Bator juga menghadapi berbagai tantangan, seperti polusi udara terutama pada musim dingin yang disebabkan oleh pembakaran batubara untuk pemanasan.

Hal ini menyebabkan kualitas udara yang buruk terutama di kawasan-kawasan dengan padat penduduk. Selain itu, Ulan Bator juga menjadi rumah bagi lebih dari setengah populasi Mongolia, yang menciptakan tekanan besar pada infrastruktur kota dan masalah kemiskinan maupun ketimpangan sosial.

Sejarah Mongolia

Sejarah Mongolia

Sejarah keemasan Mongolia diawali pada tahun 1206 ketika Jenghis Khan yang lahir dengan nama Temujin berhasil mempersatukan berbagai suku Mongol yang tersebar di stepa Asia Tengah yang luas.

Sebelumnya wilayah ini dipenuhi oleh suku-suku yang sering berperang satu sama lain dan terpecah belah. Temujin, dengan kehebatan kepemimpinannya dan kemampuan militer yang luar biasa berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan menyatukan mereka di bawah satu kekuasaan yang kuat.

Setelah kemenangan ini, ia kemudian diangkat sebagai Jenghis Khan yang berarti pemimpin dunia, yang menandai awal dari pendirian kekaisaran Mongol.

Kekaisaran Mongol yang baru terbentuk ini berkembang pesat, tidak hanya berkat kekuatan militer yang luar biasa tetapi juga karena sistem pemerintahan yang efisien dan kebijakan yang inovatif.

Jenghis Khan memperkenalkan berbagai reformasi seperti sistem hukum yang dikenal dengan nama yasa yang mengatur kehidupan sosial dan militer dengan ketat.

Selain itu, dia juga mendirikan jalur komunikasi dan transportasi untuk menghubungkan wilayah luas, yang kemudian dikenal sebagai jalur sutra. Kebijakan toleransi beragama dan sistem pemerintahan yang meritokratis, di mana posisi-posisi penting di pemerintahan diberikan berdasarkan kemampuan dan loyalitas juga menjadi dasar kekuatan yang sangat besar.

Pada masa pemerintahan Jenghis Khan, kekaisaran Mongol tidak hanya menguasai wilayah Mongolia, tetapi juga mulai mengembangkan ekspansi besar-besaran ke wilayah Asia dan Eropa.

Jenghis Khan memimpin invasi ke berbagI wilayah seperti China, Rusia, Timur Tengah dan bahkan bagian-bagian Eropa Timur luas. Selama masa pemerintahannya, kekaisaran Mongol menjadi kekuatan dominan di dunia, hampir sepertiga bagian dunia berhasil dikuasai Mongolia pada puncak kejayaannya.

Pada tahun 1368, kekaisaran Mongol mengalami kemunduran yang signifikan setelah jatuhnya Dinasti Yuan di China, yang didirikan oleh Kublai Khan, cucu Jenghis Khan.

Dinasti Yuan mulai menghadapi masalah internal seperti ketidakpuasan rakyat Tiongkok terhadap pemerintahan asing, kebijakan pajak yang berat, serta ketegangan sosial dan ekonomi.

Bencana alam seperti banjir dan wabah penyakit semakin memperburuk kondisi, menyebabkan kerusakan ekonomi maupun keruntuhan sistem pertanian yang bergantung pada rakyat.

Semua ini memicu pemberontakan besar-besaran oleh sebagian rakyat Tiongkok. Di tahun yang sama, Ju Yuan Zhang berhasil menggulingkan Dinasti Yuan dan mendirikan Dinasti Ming setelah merebut ibukota Dadu yang saat ini adalah kota Beijing.

Kejatuhan Yuan menandai berakhirnya pemerintahan Mongol di China, dan meskipun beberapa wilayah lain di kekaisaran Mongol masih bertahan, kekaisaran secara keseluruhan mengalami kemunduran besar.

Pengaruh politik dan militer Mongol pun menurun dan kekaisaran terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang kehilangan kesatuan dan kekuatan seperti sebelumnya.

Pada tahun 191, Mongolia mendeklarasikan kemerdekaannya dari kekaisaran Qing, setelah revolusi Shinhai yang menggulingkan dinasti Qing dan mengakhiri lebih dari dua abad pemerintahan dinasti tersebut.

Ketika Tiongkok mengalami pergolakan besar akibat jatuhnya dinasti Qing, Mongolia memanfaatkan kesempatan ini untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Namun, meskipun mengumumkan kemerdekaan, kekuasaan Mongolia tetap terpecah antara dua kekuatan besar yaitu China dan Rusia.

Di tahun 1921, situasi ini berubah secara signifikan. Setelah revolusi bolshevik di Rusia, pemerintahan Soviet memberikan dukungan penuh kepada gerakan kemerdekaan Mongolia, dengan bantuan pasukan yang dipimpin oleh jenderal Roman von Ungern Sterberg, Mongolia berhasil mengalahkan pasukan Tiongkok yang masih berusaha mempertahankan pengaruhnya di wilayah tersebut.

Mongolia kemudian mendeklarasikan kemerdekaannya secara penuh dengan bantuan Rusia bolshevik, dan pada 1924 Republik Rakyat Mongolia resmi didirikan sebagai negara yang berdaulat.

Sejak itu, Mongolia berada di bawah pengaruh Uni Soviet dan menjadi negara komunis pertama di luar Eropa, yang mengubah arah politik dan ekonomi negara tersebut untuk beberapa dekade mendatang.

Pada akhir 1980, pengaruh Uni Soviet mulai melemah dengan runtuhnya blok Timur dan berakhirnya perang dingin. Perekonomian Mongolia juga menghadapi kesulitan yang serius, terutama karena ketergantungannya pada dukungan ekonomi dari Uni Soviet.

Di tengah situasi ini, gerakan pro demokrasi mulai muncul di Mongolia, dipicu oleh perubahan politik di negara-negara tetangga dan keinginan masyarakat untuk memperkenalkan sistem politik yang lebih terbuka dan demokratis.

Pada Februari 1990, protes damai dimulai di ibukota Ulan Bator yang dipimpin oleh mahasiswa dan kalangan intelektual yang menuntut reformasi politik dan kebebasan yang lebih besar.

Demonstrasi ini kemudian meluas dengan dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Akhirnya pada bulan Maret 1990, pemerintah komunis Mongolia setuju untuk melakukan reformasi politik dan membuka jalan bagi peralihan ke sistem multipartai.

Proses ini berlangsung tanpa kekerasan, yang menjadikannya salah satu revolusi damai paling signifikan pada masa itu.

Sejak tahun 2000 hingga sekarang, Mongolia mulai mengalami perkembangan ekonomi yang besar, terutama berkat penemuan dan eksploitasi sumber daya alam yang melimpah seperti batubara, tembaga dan emas.

Negara ini memiliki cadangan mineral yang sangat besar, dan dengan meningkatnya permintaan global terutama dari China yang merupakan tetangga dan mitra dagang terbesar Mongolia.

Namun, di saat ekonomi Mongolia berkembang negara ini menghadapi tantangan besar seperti ketergantungan pada sektor pertambangan yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Selain itu, kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan pengangguran masih menjadi masalah, dengan banyak penduduk yang tinggal di daerah pedesaan yang bergantung pada pertanian dan penggembala.

Urbanisasi yang cepat juga menyebabkan tekanan pada infrastruktur di kota-kota besar terutama di Ulan Bator. Meskipun begitu, Mongolia tetap menjadi negara yang menjanjikan dengan potensi besar dalam sektor pertambangan dan peluang untuk diversifikasi ekonomi, serta upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.

Untuk mengenal lebih lanjut tentang Mongolia berikut ini adalah 5 fakta menarik tentang negara Mongolia.

5 Fakta Menarik Mongolia

Fakta menarik Mongolia

1. Mongol = Pemberani

Dalam bahasa Mongolia kata Mongol berarti pemberani. Makna ini mencerminkan sifat yang sangat dihargai dalam budaya Mongolia, yakni keberanian dan ketangguhan.

Keberanian ini tercermin dalam sejarah panjang bangsa Mongol yang dikenal sebagai penakluk dan pengembara hebat, terutama selama masa kejayaan kekaisaran Mongol di bawah Jenghis Khan.

2. Dilarang Menunjukkan Jari

Dalam budaya Mongolia, menunjuk jari ke seseorang dan berbicara dengan suara tinggi dianggap sebagai perilaku kasar dan tidak sopan.

Rindakan ini dianggap tidak menghormati orang lain dan dapat menyinggung perasaan.

3. Makam Jenghis Khan Masih Misteri

Lokasi pemakaman Jenghis Khan tetap menjadi misteri hingga saat ini. Setelah kematiannya pada tahun 1227, sangat sedikit yang diketahui tentang tempat peristirahatan terakhirnya.

Legenda mengatakan bahwa untuk menjaga lokasi makamnya tetap rahasia para tentara yang mengawal jenazah membunuh semua orang yang hadir dalam pemakaman tersebut.

Tak hanya itu tentara yang terlibat dalam pemakaman juga dilaporkan bunuh diri untuk memastikan tidak ada yang dapat mengungkapkan lokasi pemakaman sang pemimpin besar.

Alasan mengapa lokasi harus dirahasiakan masih menjadi perdebatan. Beberapa spekulasi mengatakan bahwa hal ini dilakukan untuk melindungi makam dari penjarahan atau agar kuburan tersebut tetap dihormati.

4. Sistem Penulisan Pertama Mongol

Sistem penulisan pertama Mongolia diciptakan oleh Jenghis Khan, meskipun ia sendiri tidak bisa menulis atau membaca.

Jenghis Khan yang dikenal dengan kecerdasannya dalam strategi dan pemerintahan, menyadari pentingnya komunikasi tertulis untuk menyatukan kekaisaran yang luas dan beragam.

Ia memerintahkan, penciptaan sistem tulisan yang bisa digunakan untuk mencatat hukum, perintah militer dan berbagai dokumen penting lainnya.

Sistem penulisan ini kemudian dikenal dengan nama Mongolian Script atau aksara Mongolia.

5. Menjunjung Tinggi Tamu

Budaya tamu di Mongolia sangat dijunjung tinggi dan salah satu tradisi yang paling khas adalah penyambutan tamu dengan semangkuk airag, yaitu susu kuda yang difermentasi.

Airag merupakan minuman tradisional yang dianggap simbol keramahan dan penghormatan kepada tamu.

Menolak untuk menerima secangkir airag dianggap sangat tidak sopan dalam budaya Mongolia, karena hal tersebut bisa dianggap sebagai penolakan terhadap kehormatan dan persahabatan yang diberikan oleh tuan rumah.

 

Rekomendasi