

inNalar.com – Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Mulai dari zaman dimana kerajaan masih ada sampai ke zaman modern sekarang ini.
Peninggalan-peninggalan dari kerajaan kuno tersebut umumnya disebut candi.
Peninggalan berupa candi dapat ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Salah satunya ada di Jambi.
Peninggalan Candi di Jambi ini bernama Candi Muaro Jambi yang terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.
Candi Muaro Jambi pertama kali ditemukan oleh seseorang bernama S.C. Crooke, yang merupakan letnan Inggris, pada tahun 1824.
Kompleks Candi Muaro Jambi dikenal sebagai kompleks candi terluas se-Asia Tenggara dengan luas 7,5 km. Kompleks candi ini membentang mengikuti sungai Batanghari, sungai terpanjang di Pulau Sumatera.
Selain memiliki area yang sangat luas, Candi Muaro Jambi juga memiliki beberapa fakta menarik, antara lain :
1. Kompleks candi terluas se-Asia Tenggara
Seperti yang sudah disebutkan di atas, kompleks Candi Muaro Jambi merupakan kompleks candi terluas se-Asia Tenggara.
Dengan luas area 7,5 km tentu Kompleks Candi Muaro Jambi pantas untuk mendapat gelar tersebut.
2. Peninggalan Hindu-Budha
Kompleks Candi Muaro Jambi merupakan situs peninggalan Hindu-Budha yang ada di Jambi.
Candi Muaro Jambi dipercaya sebagai pusat pembelajaran agama Hindu-Budha. Selain itu, kompleks candi ini juga dipercaya sebagai pusat pendidikan ilmu-ilmu lain pada masanya, seperti kedokteran, filsafat, seni, dan lain-lain.
3. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Kompleks Candi Muaro Jambi diperkirakan merupakan kompleks candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.
Kompleks percandian ini juga diperkirakan menjadi universitas atau pusat pendidikan umat Hindu-Budha pada masa Kerajaan Sriwijaya.
4. Usianya sudah beberapa abad
Setelah melakukan ekskavasi pertama pada tahun 1975, para arkeolog menyimpulkan bahwa Candi Muaro Jambi dibangun antara abad ke-7 sampai abad ke-12 Masehi.
5. Kompleks percandian yang padat
Kompleks Candi Muaro Jambi berisi lebih dari 80 candi, baik yang sudah dipugar dan yang belum.
Candi-candi yang belum dipugar dan masih terkubur dalam gundukan-gundukan tanah yang membentuk seperti gunung kecil tersebut oleh masyarakat disebut dengan ‘menapo’.*** (Ralda Maya Runita)