

inNalar.com – Diperkirakan terdapat kurang lebih 400 pengungsi Rohingya yang saat ini masih terkatung-katung di Laut Andaman.
Rombongan pengungsi yang terdiri dari anak-anak, wanita, dan pria dewasa itu terbagi di dua kapal yang berbeda.
Para pengungsi Rohingya yang terobang-ambing di Laut Andaman itu diduga tidak membawa perbekalan yang memadai.
Hal itu tentunya sangat berisiko timbulnya korban meninggal dunia.
Baca Juga: Pensiunan PNS Berjaya! Resmi Gaji Dinaikkan di Tahun 2024, Golongan I Bakal Kantongi Rp 2,2 Juta?
Dilansir inNalar.com dari AP News pada Rabu (6/12/2023), ratusan pengungsi tersebut diyakini datang dari Bangladesh.
Jumlah pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Bangladesh dengan kapal eksodus memang telah meningkat sejak tahun lalu.
Hal tersebut terjadi karena adanya pemotongan jatah makanan dan meningkatnya kekerasan geng.
Kapal-kapal tersebut diperkirakan berangkat dari Bangladesh dan telah berada di laut selama sekitar dua minggu.
Diketahui bahwa salah satu kapten kapal berhasil dihuungi dan mengatakan ada sekitar 180 hingga 190 orang.
Dalam kapal tersebut mereka kehabisan makanan dan air serta mesinnya rusak.
Kapten kapal tersebut mengatakan bahwa ia khawatir semua penumpangnya akan meninggal dunia jika tidak mendapat bantuan.
Pada hari Minggu 3 Desember, dikethaui kapal tersebut berada 320 km dari pantai barat Thailand.
Mengutip straitstimes.com, lebih dari 3.500 warga Rohingya diyakini telah melakukan perjalanan berisiko ke negara-negara Asia Tenggara pada tahun 2022.
Berkaca dari kejadian tahun 2022, hampir 350 orang Rohingya tewas atau hilang pada tahun 2022 ketika mencoba melakukan penyeberangan laut yang berbahaya.
Sementara itu, dikatakan bahwa lebih dari 3.570 Muslim Rohingya telah meninggalkan Bangladesh dan Myanmar tahun ini.
Angka tersebut naik dari hampir 2.000 pada periode yang sama tahun 2022.***