

InNalar.com – Terdapat empat emiten blue chip yang dianggap menarik terutama saat Santa Claus Rally pada penghujung 2024 ini.
Santa Claus Rally membuat sejumlah emiten blue chip di penghujung 2023 menarik untuk dipantau.
Seperti diketahui, baru-baru ini Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mencatatkan rekor terbaiknya sepanjang tahun 2023.
IHSG tercatat menembus 7.215,40 yang menjadi level tertingginya selama satu tahun terakhir, per Jumat, 15 Desember 2023 pada pagi WIB.
Hal ini terjadi karena bank sentral Amerika Serikat alias The Fed menahan tingkat suku bunga acuannya.
Hal ini pun membuat nilai rupiah menguat dan sejumlah emiten juga bergerak naik.
Meski demikian, analisis mengungkapkan bahwa pada 2024 nanti harga saham memang berpotensi terus menguat.
Hal ini diungkapkan oleh Robertus Hardy selaku Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Melansir dari Antara, pihaknya memprediksi bahwa Indeks Harga Saham Gabungan akan mencapai level 8.100 pada semester kedua 2024.
Baca Juga: Menginjak Usia ke-128, Kesuksesan Transformasi Bawa BRI Torehkan Catatan Kinerja Cemerlang
Hal ini juga dipicu berkat besarnya potensi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral global.
Sehingga bisa berdampak positi untuk pasar obligasi maupun saham.
Selain itu Harga Saham Gabungan juga masih berpotensi mengalami penguatan signifikan.
Hal ini terjadi karena adanya window dressing, yakni istilah merujuk pada strategi manajer investasi atau perusahaan untuk meningkatkan performa saham atau porfotolio.
Investor berusaha mempercantik porfotolionya atau window dressing pada akhir tahun terutama pada blue chip atau saham unggulan.
Hal ini biasanya disebut sebagai Santa Claus Rally, yakni kenaikan harga saham pada pekan terakhir di bulan Desember.
Sejumlah emiten saham dinilai memiliki valuasi menarik untuk kembali diakumulasi.
Yakni menurutnya beberapa saham tersebut adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
Lalu ada PT Astra International Tbk (ASII), PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
Baca Juga: Daftar Pebulutangkis Top yang Absen di Indonesia Masters 2024: Ada Viktor Axelsen hingga An Se-young
Robertus mengatakan bahwa ASII memiliki riasio valuasi nilai saham per laba (P/E) yang terus menurun yakni mendekati level Maret 2020.
Padahal ROE atay valuasi profitabilitas keuntungan ekuitasnya meningkat.
Sedangkan TLKM juga mengalami peningkatan harga saham dan valuasi usai sempat turun signifikan.
Kemudian EXCL yang valuasi rasio harga saham per nilai bukunya (P/BV) telah mengalami penurunan di bawah satu kali.
Walau tingkat profitabilitas ROE tidak sebaik emiten lain namun EXCL dianggap cukup menarik, karena ada rencana mengkonsolidasikan 750.000 pengguna jasa PT Link Net Tbk (LINK).
Sedangkan AKRA, rasio P/E masih cenderung stagnan, walau profitabilitas ROE terus meningkat.
Apalagi usai menetapkan proyeksi pertumbahan laba bersih sekitar 12-15 persen year on year atau yoy pada 2024.
Hal ini ditopang karena permintaan BBM dan kimia dari Indonesia Timur khususnya untuk smelter. ***