

inNalar.com – Kementrian Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan menolak proposal investasi Apple di Indonesia senilai USD 100 juta atau setara Rp 1,58 triliun dengan 4 alasan.
Sejumlah alasan tersebut, merujuk pada faktor utama bahwa Apple di Indonesia belum memenuhi krteria keadilan, terutama empat alasan yang menjadi sorotan.
Dalam hal ini, Kementerian Perindustrian mengungkapkan hal ini juga dilakukan agar Apple meningkatkan investasi sehingga memberikan manfaat yang lebih signifikan bagi Indonesia.
Baca Juga: Aset Tembus 167 Miliar, Polda Metro Jaya Sita Barang Bukti Kasus Judi Online yang Libatkan Komdigi
Melansir berbagai sumber, adapun empat alasan tersebut sebagaimana yang dijabarkan oleh Kementerian Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, yaitu sebagai berikut.
1. Perbandingan Skala Internasional
Perusahaan populer asal Amerika ini belum membangun fasilitas produksi di Indonesia, Berbeda dengan Vietnam dan India yang mendapat komitmen investasi lebih besar.
Bahkan melansir dari Vietnam Briefing, Apple telah memperluas wilayah operasional secara signifikan di Vietnam, dengan menambahkan 8 mitra baru, sehingga oada 2024 terdiri dari 35 vendor.
Apple menjadikan Vietnam sebagai pusat pemasok terkemuka di Asia Tenggara untuk perusaahannya dan ke-4 terbesar di dunia.
Setelah sebelumnya, Apple di Cina menggandeng 158 mitra lokal, Apple di Taiwan menggandeng 49 mitra lokal, dan di Jepang menggandeng sebanyak 44 mitra lokal.
Baca Juga: Inilah Jadwal Lengkap Pilkada 2024 Hingga Proses Pelantikan
Kemudian, pada tahun 2025, Vietnam diperkirakan akan memproduksi 20% iPad dan Apple Watch, 5% MacBook, dan 65% AirPods sehingga terus meningkat investasinya di Vietnam.
2. Komparasi dengan Merek Lain.
Dibandingkan merek ponsel lain yang sudah berkontribusi lebih besar di Indonesia.Agus Gumiwang Kartasasmita menilai investasi Apple sangat minim, jauh dari merk kompetitornya.
Dalam hal ini, pemerintah menilai investasi Apple setidaknya harus setara dengan merek elektronik lain seperti Samsung yang berinvestasi sekitar Rp8 triliun dan Xiaomi yang berinvestasi sebesar Rp5 triliun.
Terlebih, skala pendapatan Apple di Indonesia juga dinilai sudah begitu besar menarik minat beli masyarakat lokal, sehingga banyak dari mereka menjadi pengguna Apple bertahun-tahun.
Tentunya, nilai investasi sebesar Rp 1,58 triliun yang diberikan masih sangat jauh angkanya dengan kompetitor yang telah berkontribusi lebih besar di Indonesia.
3. Minimnya Nilai Tambah
Di sisi lain, pemerintah juga menginginkan investasi yang menghasilkan nilai tambah melalui pemasukan negara dari importasi serta kontribusi lainnya.
Dengan nilai investasi yang rendah, pemerintah mengklain bahwa Apple berkonstruksi rendah, bahkan kurang mendukung terhadap penerimaan negara dan ekonomi lokal.
4. Prospek Lapangan Kerja
Sebagaimana data tahun 2024, angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat sementara lapangan pekerjaan semakin terbatas dan menyempit.
Dalam hal ini, pemerintah berharap investasi besar Apple di Indonesia dapat menciptakan laangan kerja baru bagi masyarakat.
Tetapi dengan investasi Apple yang dinilai masih minim, hal ini diprediksi belum dapat menciptakan peluang kerja yang signifikan di Indonesia.
Demikian itulah alasan mengapa investasi Apple masih ditolah di Indonesia walaupun investasinya sudah ditambah menjadi 100 Juta USD.
Dalam hal ini, pemerintah berharap Apple meningkatkan nilai investasinya agar membantu pertumbuhan ekonomi, menciptakan lebih banyak pekerjaan, dan berdampak lebih besar bagi Indonesia. *** (Gita Yulia)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi