3 Sekolah Milik PBB di Gaza Diubah Jadi Camp Pengungsi, Warga yang Selamat: Kami Tidak Akan Pernah Aman

inNalar.com Camp Jabalia merupakan salah satu area pengungsi terbesar yang ada di Jalur Gaza.

Setidaknya terdapat 8 camp pengungsi Palestina di jalur ini. Tidak heran jika di area camp pengungsi tersebut memiliki jumlah penduduk yang sangat padat.

Tidak hanya itu, camp pengungsi Jabalia juga menjadi sebuah rumah dari 3 sekolah yang dikelola oleh PBB untuk warga Palestina (UNRWA).

Baca Juga: Hampir Selesai, Proyek Jalan Tol di Sulawesi Utara Ini Malah Dihadang Warga, Lokasinya Ada di….

Beberapa sekolah tersebut telah diubah menjadi sebuah tempat penampungan bagi ratusan keluarga yang mengungsi.

Pengungsian ini dilakukan akibat serangan udara Israel yang terus diluncurkan kepada Gaza.

Meski telah menjadi tempat perlindungan, Israel bahkan tetap meluncurkan bom serangannya di camp pengungsi tersebut.

Baca Juga: Tak Punya Mobil Pribadi dan Hutang Capai Rp2,6 M, Mbak Ita Walikota Semarang Ini Dikenal Ramah oleh Masyarakat

Melansir dari Al-Jazeera, serangan di area ini sudah dilakukan sejak tanggal 9 Oktober 2023 lalu.

Adapun korban tewas di tanggal tersebut mencapai lebih dari 50 orang termasuk anak-anak.

Serangan Israel melalui udara ini menghantam beberapa area camp. Padahal, lokasinya menjadi salah satu daerah tersibuk dengan penduduk padat di Gaza.

Baca Juga: Dony Ahmad Munir Tampak Sederhana dengan Motor Rp8 Juta, Ternyata Segini Harta Kekayaan Mantan Bupati Cianjur

Beberapa orang berhasil menyelamatkan diri dari serangan ini.

Salah satunya yakni seorang penulis muda yang bernama Asma Tayeh.

Ia mengungkapkan bahwa kejadian yang terjadi selama dua minggu terakhir ini telah mengubah segalanya.

Jika dahulunya padat aktivitas oleh masyarakat tetapi saat ini seluruh bangunan telah hancur dan tidak bisa digunakan.

Ia yakin bahwa mereka tidak akan pernah aman, bahkan setelah gejolak perang tersebut usai.

Faktanya, ia merasa tidak pernah memiliki kebebasan selama Palestina masih diduduki oleh Israel.

Kemudian setiap masyarakatnya juga mendapatkan teror dari berbagai arah.

Terlebih, bantuan yang diberikan di Jalur Gaza sendiri masih sangat sedikit sehingga tidak mampu memenuhi ribuan orang yang masih terjebak.

Bahkan sebelum tangal 7 Oktober 2023, sudah ada ratusan truk bantuan tiba di Gaza setiap harinya.

Saat ini, jumlah bantuan yang diberikan tersebut terus berkurang pasca penutupan jalur akses yang dilakukan Israel.***

 

Rekomendasi