

inNalar.com – Perang antara militer Israel dengan pejuang Hamas di Gaza telah menyebabkan dunia menuntut gencatan senjata karena warga Palestina di Gaza terus kehilangan nyawa
Hal ini diakibatkan oleh pemboman Israel yang tiada henti sebagai pembalasan atas serangan Hamas sejak 7 Oktober.
Dalam upaya mereka untuk sepenuhnya merebut daerah tersebut, Israel telah menghentikan bahan bakar, air, dan makanan, sehingga membuat warga Palestina sangat berjuang untuk bertahan hidup.
Kantor berita Palestina Wafa baru mengabarkan jika tercatat 25 serangan udara Israel terhadap kawasan pemukiman di wilayah Palestina, yang merupakan rumah bagi lebih dari 2 juta orang.
Dilansir inNalar.com dari euronews, atas penyerangan tersebut menyebabkan sebanyak 400 orang dilaporkan tewas di seluruh Gaza setelah serangan udara Israel tanpa henti dalam 24 jam terakhir.
Pihak Palestina menggambarkan jika peristiwa ini merupakan pemboman terberat sejak serangan Hamas pada 7 Oktober.
Wafa mengatakan banyak serangan yang menghantam rumah-rumah warga sipil tanpa peringatan apa pun.
Sejauh ini total korban tewas telah mencapai 4.385 warga Palestina serta sebanyak 13.561 orang terluka. Korban tewas tersebut sebanyak 1.756 diantaranya anak-anak dan 967 perempuan.
Diketahui jika serangan Israel telah meluas mencapai perbatasan Lebanon, yang dimana Pasukan Israel dan pejuang Hizbullah saling baku tembak pada hari Sabtu di beberapa daerah di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel.
Hal ini terjadi ketika kekerasan terus meningkat akibat konflik Israel-Hamas.
Penembakan Israel pun menghantam beberapa desa, menambahkan bahwa sebuah mobil terkena serangan langsung di desa Houla.
Sementara itu Ketua PBB, Antonio Guterres, menyerukan diakhirinya konflik tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB juga mengungkap jika Warga Gaza membutuhkan lebih banyak lagi, pengiriman bantuan secara besar-besaran.
Media Mesir melaporkan bahwa pengiriman hari Sabtu hanya berisi makanan dan bantuan medis dan bukan bahan bakar, Namun yang terpenting terdapat pasokan yang dapat membantu di Jalur Gaza.***