

inNalar.com – Tragedi semburan lumpur panas Lapindo, akan selalu diingat sebagai bukti keangkuhan manusia dalam mengeksploitasi alam.
Tenggelamnya 19 Desa di Kecamatan Porong menjadi dampak dari ganasnya luapan lumpur panas Lapindo, ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan matapencaharian.
Kini lumpur Lapindo telah berubah dari sebuah tragedi, menjadi objek wisata dan sarana edukasi yang wajib dikunjungi bila sedang berada di Sidoarjo.
Lokasi danau lumpur lapindo berada sekitar 10 Km dari pusat Kota Sidoarjo, tanggul lumpur lapindo akan selalu menemani pengendara dan pengguna jasa KAI ketika melewati jalan raya Surabaya Porong.
Memerlukan setidaknya 30 menit perjalanan untuk menuju ke wisata danau lumpur lapindo dari pusat kota, perjalanan menuju lokasi juga sangat mudah bahkan bisa diakses menggunakan angkutan umum.
Cukup membayar biaya parkir kendaraan sebesar Rp.2000 untuk motor dan Rp.5000 saja untuk mobil, pengunjung sudah bisa mengakses ke tanggul lumpur Lapindo.
Baca Juga: Bukan di Jakarta! 2 Mall Terbesar di Indonesia Ternyata Ada di Surabaya, Super Megah Banget!
Batu nisan raksasa dan mannequin area adalah spot foto yang wajib dikunjungi oleh pengunjung bila berada di kawasan danau lumpur lapindo, dua spot ini sudah menjadi ikon dari wisata danau lumpur Lapindo.
Namun, dari ikoniknya nisan raksasa dan mannequin area di kawasan tanggul lumpur Lapindo, terdapat simbol protes dan perlawanan dari waga lokal yang menjadi korban dari luapan Lapindo.
Pengunjung akan disuguhkan hamparan danau lumpur sebagai saksi bisu dari keangkuhan manusia, di kawasan tanggul juga terdapat beberapa PKL yang menjajakan aneka macam minuman dan cemilan.
Baca Juga: Habiskan Dana Hampir Rp 20 Triliun, Tol di Jawa Tengah Ini Punya ‘Magis’ Tahan Bencana
Dari atas tanggul lumpur Lapindo setinggi 12 meter, pengunjung bisa sekaligus melihat panorama Kabupaten Sidoarjo di arah utara dan kokohnya gunung Penanggungan di arah Selatan.
Pagi atau sore hari adalah waktu yang sangat disarankan untuk berkunjung ke wisata danau lumpur Lapindo, karena pengunjung dapat menyaksikan secara jelas hamparan danau lumpur secara nyaman.
Sangat tidak direkomendasikan bagi pengunjung untuk datang di siang hari, hal ini dikarenakan hamparan danau lumpur dan tanah di sekitar tanggul yang gersang serta terik matahari yang menyengat akan menggangu kenyamanan pengunjung.
Terdapat juga beberapa pos yang didirikan oleh inisiatif warga sekitar, yang bisa dijadikan untuk tempat berteduh bagi para pengunjung sembari menikmati jajanan atau minuman dari PKL setempat.
Bila beruntung, pengunjung bisa menyaksikan indahnya momen sunrise ataupun sunset dari atas tanggul layaknya gurun Sahara di Afrika
17 tahun bukan hal yang sebentar bagi warga yang menjadi dampak dari tragedi lumpur Lapindo, tak jarang beberapa warga yang dulu terdampak juga berkunjung ke area tanggul sembari bernostalgia tentang rumah, desa, hingga ternaknya.